3 kota Indonesia yang diakui ramah lingkungan dan berkelanjutan oleh ASEAN

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pantai di Balikpapan | Andhi Rahman (flickr)

Mewujudkan kota ramah lingkungan dalam arti kata bebas polusi, bebas emisi, dan punya ruang terbuka hijau yang cukup, tentu menjadi impian banyak orang terutama bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di kota terkait.

Dalam cakupan yang lebih luas, kota yang berhasil menerapkan praktik ramah lingkungan juga diharapkan mampu mewujudkan tempat tinggal yang memiliki prinsip berkelanjutan untuk masa depan.

Tapi harus diakui, untuk mewujudkan suatu wilayah atau kota yang dapat memenuhi standar ramah lingkungan dan berkelanjutan tentu tidak mudah. Apalagi di zaman sekarang, saat di mana berbagai aktivitas masih mengandalkan sumber daya yang menghasilkan emisi karbon dan pencemaran. Kalaupun ada upaya untuk mengurangi hal tersebut, masih ada persiapan besar dan jalan panjang yang harus dilalui.

Tidak mudah bukan berarti tidak bisa diupayakan sama sekali, di tengah maraknya pencemaran yang terjadi ternyata tetap ada kota-kota besar di Indonesia yang berhasil membuktikan keberhasilan dalam mewujudkan kota ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Bukan hanya klaim mandiri semata, pengakuan tersebut bahkan diakui secara internasional oleh ASEAN. Pada tahun 2021 kemarin, ada tiga kota di Indonesia yang mendapat penghargaan sebagai kota ramah lingkungan berkelanjutan atau Environmentally Sustainable Cities (ESC Award).

  Honai, rumah adat Papua yang ternyata lebih dulu terapkan prinsip eco-friendly

Bersanding dengan deretan kota dari negara lain di kawasan Asia Tenggara, apa saja kota yang berhasil memberikan contoh akan wujud ramah lingkungan dan berkelanjutan?

1. Balikpapan, Kalimantan Timur

Diketahui jika sebenarnya di Kalimantan sendiri ada dua kota lain yang dirancang untuk mewujudkan prinsip berkelanjutan atau SDG’s, yakni Samarinda dan Bontang. Namun akhirnya pengakuan tersebut diraih oleh Balikpapan.

Penghargaan diberikan berdasarkan keberhasilan Balikpapan, dalam memberdayakan masyarakat yang tinggal di tempat bekas area eksplorasi migas. Diketahui jika pada tahun 1950-1960-an, beberapa daerah seperti Samboja dan Sanga-Sanga sangat makmur, namun karena tidak berkelanjutan maka sempat menjadi kota mati.

Hal tersebut terjadi karena beriringan dengan semakin menipisnya energi fosil seperti minyak, gas, dan batu bara yang tersedia di lahan tersebut. Setelahnya, pemerintah setempat mulai melakukan pembangunan berkelanjutan berupa penggarapan lahan, kota, bisnis, dan masyarakat yang bersifat universal.

Salah satu bentuk lain dari program keberlanjutan yang ada di Balikpapan adalah program Better (Balikpapan Energi Terbarukan) yang mengusung konsep circular economy, yakni sebuah sistem ramah lingkungan yang mempertahankan nilai material agar dapat digunakan berulang-ulang dan berfokus pada sistem renewable energy.

Melalui program Better, masyarakat dapat mengelola sampah baik organik maupun non-organik agar dapat digunakan kembali.

  Upaya masyarakat adat menjaga alam dengan tradisi keramat

2. Surabaya, Jawa Timur

Berbeda dengan Balikpapan yang dianugerahi sebagai kota berkelanjutan, kota lainnya yang mendapatkan pengakuan dari ajang penghargaan yang sama yakni Surabaya, untuk kategori kota besar dengan udara bersih (clean air).

Menurut penjelasan yang dipaparkan oleh Pemkot Surabaya, hal tersebut bisa diraih berkat upaya yang selama ini dilakukan yaitu dengan melakukan penanaman pohon secara intensif dan merata. Upaya tersebut diklaim telah menyumbang kontribusi terhadap upaya penurunan suhu dan berperan dalam penyimpanan air tanah.

Bukan cuma itu, daerah pesisir di wilayah timur dan barat Kota Surabaya juga tak luput dari sentuhan pembangunan berbasis ekologi, di mana wilayah pesisirnya ditanami berbagai jenis pohon bakau dengan tetap memperhatikan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut.

Hasilnya, Indeks Kualitas Udara (IKU) di Surabaya dilaporkan terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data dari tahun 2016-2020, IKU Surabaya mengalami peningkatan secara beruntun mulai dari 89,57 pada tahun 2016, kemudian di tahun-tahun setelahnya menjadi 90,26 (2017), 90,27 (2018), 90,3 (2019), dan terakhir 90,31 di tahun 2020.

  Ramah lingkungan, ini 3 cara tangkap hasil laut ala orang Timur

3. Bontang, Kalimantan Timur

Tidak hanya kota besar seperti Surabaya, kota kecil seperti Bontang juga tak mau kalah mewujudkan keberhasilannya mewujudkan prinsip ramah lingkungan. Terbukti, kota yang masih berada di wilayah Provinsi Kaltim tersebut mendapat pengakuan untuk kategori kota kecil dengan lahan bersih (clean land).

Bukan kali pertama, rupanya Bontang sendiri memang dikenal sebagai salah satu kota kecil yang kerap menjaga lingkungannya dengan upaya penghijauan lahan yang bersih. Hal tersebut terbukti dengan pencapaian pada tahun 2019 lalu, saat kota tersebut mendapat penghargaan Nirwasita Tantra untuk kategori kota kecil.

Foto:

  • Unsplash (Hobi industri, Hanif Ramadhani)
  • Flickr (Joni Jauhari, Verte Ruelle)

Artikel Terkait

Artikel Lainnya