Upaya masyarakat adat menjaga alam dengan tradisi keramat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Hutan (Render422/Flickr)
Hutan (Render422/Flickr)

Merawat situs sakral alami menjadi salah satu upaya masyarakat adat untuk merawat keberlangsungan alam di wilayahnya. Pelestarian mitos dengan cerita-cerita rakyat ini dianggap efektif untuk menahan laju deforestasi yang kini melanda beberapa wilayah Indonesia.

Tradisi ini juga tidak hanya terkait penjagaan habitat, namun juga harmoni antara manusia dengan alam. Karena beberapa masyarakat adat mempercayai kearifan kepada alam akan memberikan kesejahteraan. Sementara bila merusak, akan memunculkan malapetaka bagi manusia.

“Tetapi dari sisi sebaliknya, bila manusia telah rakus dalam memanfaatkan alam maka alam dapat memunculkan keganasannya dan menjadi malapetaka bagi manusia,” tulis Drs Sartini dan Drs Syafiq Effendy dalam jurnal ilmiah bertajuk Mitos-Mitos Situs Sakral Alami dan Fungsinnya Bagi Pengembangan Etika Lingkungan.

Lalu bagaimana situs sakral alami ini menjaga kelestarian alam pada masyarakat adat? Seberapa efektif pelestarian mitos ini bisa menahan laju deforestasi yang mengancam alam Indonesia, berikut uraiannya:

1. Merawat situs sakral alami

Tari Ancak (Yanto Yant/Flickr)
Tari Ancak (Yanto Yant/Flickr)

Pandangan-pandangan ini jamak ditemui dalam beragam tradisi masyarakat adat, baik di lingkungan pegunungan maupun pantai. Di Indonesia ada beberapa suku adat yang masih mempertahankan tradisi leluhur sebagai upaya merawat alam, seperti Suku Anak Dalam Jambi, Baduy, Dayak, dan beberapa yang lain.

  Tradisi Lebaran Ketupat dan pesan tentang kearifan lingkungan

Sudah banyak kajian tentang kearifan lingkungan yang dibukukan. Misalnya kearifan lingkungan khas masyarakat Bali yakni Subak. Beberapa peneliti, seperti Grader (1984), Greetz (1959), dan Lansing (1981) yang memuji kecerdasan lokal yang dimiliki Subak.

Kearifan tersebut merentang dari tatanan religius hingga tatanan teknologi yang bersifat budaya. Kearifan lokal ini berbasis konsepsi Tri Hita Karana, yakni hubungan yang serasi dan harmonis sesama umat manusia, lingkungan, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Di luar Bali kita dapat temukan pada masyarakat Papua, misalnya perempuan di hutan mangrove. Ada juga tradisi yang dipertahankan pada masyarakat Sunda, misalnya Baduy, Kasepuhan, dan Suku Naga. Kelompok masyarakat ini mengkeramatkan hutan sebagai warisan leluhur agar dijaga untuk anak cucu kelak.

2. Interaksi antara manusia dan alam

Tradisi Ngusaba (Made Mardiasa/Flickr)
Tradisi Ngusaba (Made Mardiasa/Flickr)

Agung Wibowo dalam Kearifan Lokal Petani Lereng Gunung Lawu dalam Mengatasi Banjir dan Tanah Longsor menyebut masyarakat petani di Gunung Lawu mempunyai pengetahuan tradisional untuk memanfaatkan dan mengelola lingkungan pertanian dan perumahan.

Sedangkan Ling Moch Ihsan yang melakukan penelitian tentang interaksi manusia dengan hutan di Sirnarasa Cisolok Sukabumi, menjelaskan bahwa terdapat interaksi dan hubungan saling ketergantungan antara masyarakat dengan hutan yang  ada di sekitarnya.

  Mitos singa barong dan nagareja yang melindungi kawasan Pegunungan Kendeng

Mendukung kajian tersebut, I Nyoman Nurjaya dalam artikel berjudul Kearifan Lokal dalam pengelolaan Sumber Daya Alam mengungkapkan citra lingkungan masyarakat hukum adat sering tampaknya tidak rasional, bersifat mistis. Karena selain berkaitan dengan alam nyata juga masih ada hubungan dengan alam gaib.

“Meskipun demikian pandangan ini membentuk praktik-praktik pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang bijaksana dan bertanggungjawab,” tulis Nurjaya.

Menurut Nurjaya, citra lingkungan masyarakat tradisional, seperti yang berkembang dalam masyarakat sedang berkembang, lebih bercorak magis-kosmis. Menurut pikiran ini manusia ditempakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari alam lingkungannya.

3. Pelestarian mitos yang mulai terancam

Festival Danau Sentani (Michael Thrinbeck/Flickr)
Festival Danau Sentani (Michael Thrinbeck/Flickr)

Semakin berjalannya waktu, pencegahan yang dilakukan masyarakat tradisional yang menggunakan ritual dan kepercayaan sudah mulai ditinggalkan. Hal ini karena dianggap bertentangan dengan nilai agama, dianggap kampungan, tidak realistis dan kurang masuk akal.

Aspek eksternal menjadi faktor yang paling besar mempengaruhi perubahan pola pandangan masyarakat. Kepedulian pengambil kebijakan dan kesadaran masyarakat sangat penting dalam upaya pelestarian. Aspek ekonomi dan kesejahteraan sering menjadi penyebab terjadinya perubahan ini.

  Suku Lom, penjaga lingkungan Pulau Bangka yang mulai terancam

Misalnya saja mulai memudarnya konsep Tri Hita Karana yang menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Padahal implementasi konsep ini pada dasarnya mengontrol libido kapitalisme industri pariwisata dengan menanamkan kesadaran moral dan etika agama (parahyangan), kemanusiaan (pawongan), dan lingkungan (palemahan).

Kearifan lokal yang mengkeramatkan daerah-daerah tertentu, larangan membunuh dan menangkap hewan tertentu, penghormatan terhadap laut, pemeliharaan terumbu karang, dan penggunaan teknologi penangkapan sederhana merupakan cikal bakal pengelolaan lingkungan yang ramah lingkungan.

“Upaya untuk mendorong kearifan lokal yang masih berada pada tataran kebiasaan menjadi sebuah lembaga yang mapan perlu dilakukan. Hal ini terkait dengan perubahan budaya yang terjadi di masyarakat,” ucap Syafiq.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya