Ambisi Pertamina jual biofuel dari campuran tebu mulai tahun 2023

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
biofuel tebu
Pesawat dan biofuel (ecac-ceac.org)

Semua negara saat ini sedang mengejar target masing-masing untuk memenuhi kewajiban pengurangan emisi karbon, termasuk Indonesia. Tak dilakukan sendiri, upaya serupa dilakukan berbagai pihak yang terlibat dalam industri terkait.

Mulai dari perusahaan pertambangan, perkebunan sawit, hingga pengelolaan minyak dan gas bumi, salah satunya Pertamina.

Fokus utama yang sedang dikembangkan adalah membuat bahan bakar alternatif atau biofuel dengan berbagai jenis, termasuk bioetanol, biodiesel, dan biogas. Membahas soal bioetanol, salah satu bahan campuran alternatif yang sedang dikembangkan oleh perusahaan plat merah tersebut adalah tebu.

Sudah sejauh mana pengembangannya?

1. Rencana penjualan biofuel tebu tahun 2023

Tebu (kitaro ehoza/flickr)

Rupanya, Pertamina sedang dalam tahap penjajakan dengan pemerintah untuk segera bisa menjual biofuel berupa bioetanol campuran ekstrak tebu mulai tahun depan (2023).

Lebih detail, bahan bakar kendaraan tersebut selanjutnya akan diperkenalkan dengan nama A20. Bahan bakar yang dimaksud komposisinya terdiri dari campuran 80 persen bensin, 15 persen metanol yang berasal dari gas alam, dan 5 persen etanol yang berasal dari tebu.

  5 kiat dan rancangan membangun rumah hemat energi

Nicke Widyawati selaku CEO Pertamina, menyampaikan penjelasan mengenai rencana ini dalam salah satu kesempatan wawancara yang berlangsung di Bali belum lama ini. Nantinya, pasokan tebu yang digunakan akan berasal dari perusahaan induk perkebunan negara PT Perkebunan Nusantara III.

2. Lebih ambisius dari Pemerintah

Ilustrasi biofuel (scanrail/iStock via seekingaplha.com)

Bersamaan dengan hal itu, Nicke juga mengaku bahwa perusahaan pimpinannya memiliki target yang ambisius dari pemerintah.

Seperti yang diketahui, secara nasional pemerintah memiliki target emisi nol bersih bertahap sebesar 29 persen di tahun 2030. Namun Pertamina, menurut Nicke ingin mempercepat target tersebut dalam skala perusahaan mereka menjadi 31,89 persen di tahun yang sama.

“Kami sebenarnya lebih agresif dan ambisius dari Pemerintah dalam mengurangi emisi” imbuhnya dalam wawancara yang sama, mengutip Bloomberg.

Meski meyakini pihaknya lebih ambisius, Nicke tidak menampik jika mereka tetap membutuhkan kerja sama Pemerintah untuk mendukung target tersebut. Maksudnya, ia berharap pemerintah dapat mengeluarkan peraturan baru yang mengamanatkan penggunaan campuran bahan bakar pada tahun 2023 untuk kendaraan bermotor.

  Gaungkan transisi energi, kenapa jumlah PLTU malah bertambah?

3. Deretan strategi yang dilakukan

Biji Jarak pagar untuk biofuel (ebtke.esdm.go.id)

Masih dalam upaya untuk merealisasikan target emisi bersih mencapai 31,89 persen di tahun 2030, Pertamina disebut telah merancang berbagai strategi. Pertama, mereka sedang dalam tahap penjajakan untuk membangun pembangkit listrik EBT dan fasilitas pemanfaatan serta penyimpanan penangkapan karbon.

Untuk pembangunan fasilitas tersebut, mereka akan menyisihkan sekitar 14 persen dari anggaran perusahaan di tahun 2023 sekitar 10 miliar dolar AS. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk pembangkit listrik dan unit EBT di anak usaha PT Pertamina Power Indonesia.

Sedangkan mengenai proyeksi dari produksi biofuel-nya, Pertamina optimis akan mampu memproduksi 36 juta kiloliter A20. Mereka berencana membangun fasilitas metanol di Bojonegoro, yang kaya gas di Provinsi Jawa Timur untuk meningkatkan produksi.

Bukan hanya dari tebu, di saat yang sama mereka juga sedang mengupayakan bahan baku pembentuk etanol dari bahan nabati selain tebu. Beberapa di antaranya jagung, singkong, dan sekam kelapa sawit.  

Artikel Terkait

Artikel Lainnya