Banyak diandalkan untuk PLTA, ini 5 bendungan terbesar yang ada di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bendungan sigura-gura (inalum.id)

Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk mengelola air di muka bumi agar bisa termanfaatkan secara maksimal. Salah satunya adalah lewat keberadaan sebuah bendungan. Sebagai konstruksi yang dibangun untuk menahan laju air menjadi sebuah waduk atau danau, bendungan memiliki banyak manfaat untuk berbagai aspek.

Berbagai manfaat yang dimaksud di antaranya adalah sebagai sumber dari sistem pengairan, pencegah banjir, habitat bagi ekosistem air tawar, hingga manfaat menjadi tempat rekreasi. Lebih istimewanya lagi, bendungan juga jadi komponen utama bagi praktik energi bersih lewat kehadiran PLTA yang biasanya dibangun secara bersamaan.

Indonesia sendiri jadi salah satu negara yang memiliki bendungan dengan jumlah cukup banyak. Per tahun 2021, Kementerian PUPR mencatat ada sebanyak 205 unit bendungan beroperasi, yang tersebar di sebanyak 16 provinsi tanah air.

Dari sekian banyak bendungan tersebut, ada beberapa bendungan yang dinobatkan sebagai bendungan terbesar dan banyak dikenal sampai saat ini. Apa saja bendungan yang dimaksud? Berikut daftarnya.

1. Bendungan Jatiluhur

Bendungan Jatiluhur (bumntrack.co.id)

Dikenal juga sebagai Bendungan Juanda, bendungan yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat ini sudah beroperasi sejak tahun 1965. Membendung aliran sungai Citarum, bendungan ini memiliki potensi air tersedia mencapai 12,9 miliar meter kubik/tahun

  Kejar target energi bersih, kenapa pemasangan PLTS atap dibatasi?

Pertama kali dibangun tahun 1957, kala itu tujuan utamanya adalah untuk mengairi irigasi sawah seluas 242.000 hektare milik penduduk sekitar. Menelan biaya pembangunan sebesar 230 juta dolar AS, bendungan tersebut juga diandalkan untuk menopang PLTA yang ada.

Awalnya PLTA Jatiluhur memiliki kapasitas daya terpasang 150 MW, namun pada tahun 1998 ditingkatkan menjadi 187,5 MW. Produksi listrik rata-rata yang dihasilkan dalam setahun mencapai 830 juta kWh, yang sebagian digunakan untuk keperluan operasional bendungan dan sebagian lagi dipasok ke PT PLN melalui jaringan tegangan 150 kV dan 70 kV.

2. Bendungan Karangkates

Bendungan Karangkates/Ir. Sutami (unej.ac.id)

Berlokasi di Malang, bendungan ini dikenal juga sebagai bendungan Ir. Sutami, sosok Menteri Pembangunan terdahulu yang banyak dihormati. Dibangun pada tahun 1975 hingga 1977 dengan biaya Rp10 miliar rupiah kala itu, volume normal bendungan ada di kisaran 343 juta meter kubik per tahun.

Manfaat sampingannya, bendungan Sutami sering menjadi tempat istirahat bagi para pengemudi. Selain itu, tempat ini juga telah menjadi objek wisata yang telah dilengkapi dengan beberapa fasilitas olahraga.

  Realisasi EBT dalam bentuk PLTS masih hadapi tantangan besar? Ini 3 faktanya

Bendungan ini juga mendukung operasional tiga unit PLTA yang masing-masing memiliki kapasitas 35 MW. Karena itu, PLTA yang ada mampu memasok listrik hingga kisaran 488 juta kWh dalam setahun.

3. Bendungan Batu Tegi

Bendungan Batu Tegi (unej.ac.id)

Terletak di Lampung Selatan, bendungan ini merupakan penyedia air minum untuk Kota Bandar Lampung, Metro, dan kawasan Beranti. Diresmikan pada tahun 2004, bendungan Batu Tegi memiliki volume normal hingga 687 juta meter kubik.

Pembangunannya menelan biaya hingga Rp920 miliar. Bendungan ini juga memiliki fungsi sebagai pengendalian banjir, lokasi perikanan, dan objek pariwisata. Soal pembangkit listrik, bendungan ini memiliki dua PLTA dengan masing-masing kapasitas 14 MW.

4. Bendungan Sigura-gura

Bendungan Sigura-gura (inalum.id)

Yang satu ini bisa dibilang paling menarik. Berada di sekitar 23,3 kilometer dari hulu Sungai Asahan, Sumatra Utara dan 1 kilometer ke hilir air terjun Sigura-Gura, bendungan ini memang dibangun untuk memasok air bagi operasional PLTA Sigura-Gura.

Dibangun pada Mei 1978 dan selesai pada Desember 1981, PLTA Sigura-gura merupakan PLTA pertama di Indonesia yang terletak di bawah tanah. Memiliki 4 generator, kapasitas PLT dalam kondisi normal ada di kisaran 203 MW, dan bisa mencapai 286 MW jika dalam mode operasi maksimum.

  Menakar realisasi pengoptimalan bauran EBT di Indonesia

Energi listrik yang dibangkitkan oleh PLTA Sigura-gura disalurkan ke Kuala Tanjung melalui jaringan tegangan sebesar 275 kiloVolt.

5. Bendungan Gadjah Mungkur

Bendungan Gadjah Mungkur (unej.ac.id)

Pertama kali dibangun pada tahun 1976. Bendungan yang berada di Wonogiri, Jawa Tengah ini mulai beroperasi pada tahun 1982, dan membendung air dari sungai terpanjang di Pulau Jawa, yakni Bengawan Solo.

Menelan biaya produksi Rp55 miliar, bendungan Gadjah Mungkur digunakan untuk mengairi sawah seluas 23.600 hektare di Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Klaten, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Sragen.

Selain untuk mengairi lahan, bendungan ini juga menopang PLTA yang menghasilkan daya sebesar 12,4 MW per tahun.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya