Biogas, harapan sumber energi terbarukan dari limbah organik

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Tidak semua limbah bersifat buruk dan sepenuhnya tidak dapat dimanfaatkan. Kebalikannya, ada limbah yang justru dapat menjadi harapan sekaligus jawaban dari permasalahan krisis energi yang saat ini masih mengandalkan bahan bakar fosil, yakni limbah organik.

Terdiri dari sejumlah komponen yang terbentuk dari aktivitas makhluk hidup seperti limbah makanan, limbah kotoran hewan, dan limbah tanaman. Saat sederet komponen tersebut terfermentasi dan melalui tahap yang dinamakan aktivitas anaerobik, terbentuklah wujud biogas yang dapat digunakan sebagai sumber energi seperti bahan bakar kendaraan maupun listrik.

Nyatanya, konsep biogas sendiri bukan hal baru yang dicetuskan seiring dengan situasi krisis energi selama beberapa tahun ke belakang ini. Menilik riwayatnya, pemanfaatan biogas ternyata sudah berlangsung sejak tahun 1770-an.

Lantas seperti apa proses yang terjadi hingga limbah organik dapat membentuk biogas?

1. Sisi lain gas metana

Bukan karbon, jenis gas yang diyakini memiliki dampak lebih besar sebagai penyebab situasi perubahan iklim lewat efek rumah kaca sejatinya adalah metana (CH4). Salah satu sumber bahkan menyebut bahaya yang dimiliki metana terhadap pencemaran udara 21 kali lebih besar dibanding karbon dioksida. Lebih detail, dijelaskan bahwa 1 ton daya rusak gas metana setara dengan 21 ton emisi gas buang karbon dioksida.

  Ketika sampah sayur dan buah sukses diubah menjadi hand sanitizer

Fakta tersebut diperparah dengan kenyataan jika gas metana sendiri berasal dari proses penguraian sampah organik, dan 50 persennya dari aktivitas pertanian, yang mana jenis sampah atau limbah tersebut tidak akan pernah habis karena sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Namun ibarat memiliki dua sisi yang salah satunya bisa dimanfaatkan dengan baik, gas metana yang selama ini menjadi momok menakutkan justru dapat diolah menjadi biogas, sebuah sumber energi baru yang dapat bermanfaat sebagai penghasil panas, listrik, dan bahan bakar kendaraan.

Bayangkan, sumber penyumbang krisis iklim yang tak pernah habis kini berbalik menjadi sumber energi terbarukan yang tak pernah habis pula.

2. Biogas dan metana

Jika membahas mengenai proses perubahannya secara sederhana, tumpukan sampah organik yang selama ini ada akan melalui proses fermentasi melalui aktvitas anaerobik–bakteri pengurai yang dapat hidup tanpa oksigen.

Melalui proses fermentasi tersebut, terbentuklah gas metana yang sewaktu-waktu dapat menjadi bom waktu, meledak jika tidak dikelola dengan baik seperti yang pernah terjadi di Indonesia beberapa waktu silam, dan melepaskan gasnya ke atmosfer.

  3 manfaat jika transisi EBT segera dilakukan secara masif

Namun jika dikelola dengan baik, gas metana yang terbentuk dapat menjadi biogas yang bentuk lain pemanfaatannya adalah sebagai pengganti gas elpiji untuk memasak dalam kebutuhan rumah tangga.

Dalam prosesnya, pemanfaatan ini membutuhkan suatu instalasi berupa digester yang biasanya terpasang dekat dengan lokasi pembuangan limbah organik berada, penerapannya sendiri lebih banyak dikenal sebagai istilah teknologi biogas.

Untuk proses pengaplikasian dan pemasangan instalasi biogas secara sederhana, bisa dilakukan melalui tahap awal dengan membuat lubang pada timbunan limbah organik, dan selanjutnya dilakukan pemasangan pipa sebagai penangkap gas metan untuk dialirkan ke tujuan penggunaannya, misal pipa gas rumah tangga untuk memasak.

3. Teknologi biogas di Indonesia

Sebenarnya sudah cukup banyak penerapan biogas di tanah air, namun instalasi yang digunakan masih dalam skala kecil atau rumahan, di mana biasanya digunakan oleh para pemilik hewan ternak yang memanfaatkan limbah organik kotorannya.

Meski begitu, terdapat juga beberapa teknologi biogas skala besar yang dimiliki Indonesia, salah satunya PLT Biogas POME yang berada di area pabrik Kelapa Sawit PTPN V Riau. Ya, jenis limbah organik yang digunakan adalah limbah cair dari industri kelapa sawit.

  Gambut, lahan basah yang jadi pahlawan penyimpan karbon

Menurut keterangan BPPT, pabrik kelapa sawit yang memiliki kapasitas olah sebanyak 60 ton per jam tersebut berpotensi menghasilkan POME (Palm Oil Mill Effluent) yang dapat diolah menjadi biogas untuk pembangkit listrik dengan daya sekitar 2 MW.

Dari kondisi tersebut dapat disimpulkan, gas metana yang terbentuk dari penguraian anaerobik limbah organik tidak selalu menjadi mimpi buruk. Namun dapat menjadi jawaban atas kebutuhan pengganti bahan bakar fosil untuk energi listrik dan keperluan memasak.

Foto:

  • Kementerian ESDM
  • BPPT
  • Pixelbliss/Shutterstock
  • Mongabay Indonesia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya