Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan momentum bank untuk stop danai batu bara

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi tumbuhan dan tanah (mike nolen/Flickr.com)

Hari Lingkungan Hidup sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, harus menjadi momentum sektor perbankan nasional untuk menghentikan pendanaan ke energi kotor batu bara. Demikian kata Jeri Asmoro, Digital Campaigner 350 Indonesia,

Jeri juga menyebut, beberapa waktu yang lalu salah satu bank pemerintah Indonesia, yakni BRI (Bank Rakyat Indonesia), sudah mengawali komitmen untuk menghentikan pendanaan ke energi kotor batu bara, penyebab krisis iklim.

Masih kata Jeri, meskipun pernyataan CEO BRI yang akan menghentikan pendanaan ke batu bara perlu ditindaklanjuti dengan sebuah kebijkan perusahaan yang kongkret, namun itu menjadi sinyal positif bagi komitmen bank terhadap krisis iklim.

“Di hari lingkungan hidup ini bisa menjadi momentum bagi BRI untuk mengeluarkan kebijakan perusahaan yang kongkret sebagai tindak lanjut dari pernyataan CEO bank itu,” tandasnya.

Di sisi lain, bagi CEO bank lain, seperti bank Mandiri dan BNI, hari lingkungan hidup bisa menjadi momentum untuk berkomitmen menghentikan pendanaan ke batu bara, harapnya.

Desakan untuk bank lain melakukan hal serupa

Kampanye stop pendanaan batu bara oleh bank | Dok. 350.org

Sebelumnya, 350 Indonesia tergabung dalam koalisi organisasi masyarakat sipil, “Bersihkan Bankmu”, mendesak empat bank papan atas di Indonesia untuk menghentikan pendanaan ke energi kotor batu bara. Keempat bank tersebut adalah bank Mandiri, BRI, BNI dan BCA.

  Wujud PLTS yang terangi kehidupan di Pulau Sebira

“Dari keempat bank tersebut baru CEO BRI yang mengeluarkan pernyataan akan berhenti mendanai batu bara. Keberanian CEO BRI harus menjadi contoh bagi CEO bank Mandiri, BNI dan BCA.”

Sementara itu, komunitas mahasiswa yang tergabung dalam Fossil Free kampus juga menuliskan petisi khusus ke BNI agar menghentikan pendanaan ke energi kotor batu bara. 

“Bencana ekologi akibat krisis iklim ini telah terjadi di berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, sehingga tidak ada waktu lagi bagi sektor perbankan untuk terus menunda komitmen aksi iklimnya, menghentikan pendanaan ke energi kotor batu bara” pungkasnya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya