Jarak Pagar, alternatif bahan baku biodiesel selain sawit

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Buah jarak pagar, bahan baku utama biodiesel (Forest and Kim Starr/Flickr)

Upaya memperoleh energi alternatif untuk bahan bakar kendaraan (biofuel) atau BBN terus dikembangkan. Salah satu jenis yang saat ini banyak diupayakan pembuataannya adalah biodiesel. Namun seperti yang sudah sering disebutkan, pembuatan biodiesel bertabrakan dengan kebutuhan bahan baku yang menjadi kebutuhan utama konsumsi rumah tangga. Apalagi jika bukan minyak sawit mentah.

Berangkat dari kondisi tersebut, sejumlah pihak sejak lama telah mencari alternatif bahan baku yang dapat diolah menjadi biodiesel. Dan pencarian tersebut menuntun kepada salah satu jenis tumbuhan semak berkayu, yakni tanaman jarak pagar.

Sebesar apa potensi yang dimiliki tanaman jarak pagar untuk bisa diolah menjadi biodiesel?

1. Mengenal jarak pagar

Buah jarak pagar, bahan baku utama biodiesel (Forest and Kim Starr/Flickr)

Jarak pagar (Jatropha curcas), adalah tumbuhan semak berkayu yang banyak ditemukan di daerah tropis. Mengutip Greeners, jarak pagar diyakini berasal dari Afrika, kemudian menyebar di sepanjang kawasan Mediterania dan seluruh wilayah Asia beriklim tropis.

Umumnya jarak pagar bisa tumbuh di area hutan, tanah kosong, dan daerah pantai. Tak jarang, ada sejumlah kelompok yang membudidayakan tanaman satu ini, terutama terkait pemanfaatannya untuk dijadikan biodiesel.

  Baik produsen dan konsumen, kesadaran sustainable fashion di Indonesia kian meningkat

Di setiap daerah Indonesia, jarak pagar memiliki nama yang berbeda-beda. Di Jawa Barat pohon atau tanaman ini disebut Kaliki, di Sumatra disebut Dulang dan Gloah, sedangkan di Madura dikenal dengan nama Kaleke.

Masuk dalam golongan tanaman perdu, jarak pagar memiliki batang yang kokoh. Batang kayunya bulat dan banyak mengandung getah, daunnya tunggal, lebar, menjari, dan berlekuk-lekuk.

2. Biji yang menjadi kunci

Biji Jarak pagar (ebtke.esdm.go.id)

Bagian dari jarak pagar yang memiliki peran kunci sebagai bahan baku biodiesel adalah biji pada buahnya. Biji dari buah jarak pagar memiliki bentul oval atau lonjong, dengan warna cokelat agak kehitaman. Memiliki ukuran sekitar 2 sentimeter dengan ketebalan sekitar 1 sentimeter, setiap biji memiliki massa sekitar 0,4-0,6 gram.

Biji dari buah jarak pagar mengandung 40-60 persen minyak yang dapat digunakan sebagai pelumas (lubricant). Lain hal menurut penjelasan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), biji jarak pagar disebut mengandung rendemen minyak nabati sebesar 35-45 persen.

Minyak tersebut dapat diproses menjadi biodiesel dan minyak bakar pengganti minyak tanah. Salah satu pihak yang telah membuat biodiesel berbasis jarak pagar adalah PT New Eco Energy Indonesia (NEEI-One).

  Mengenal seluk-beluk biofuel, dari jenis sampai bukti pemanfaatan

Lebih detail, NEEI-One menyampaikan jika produksi biodiesel mereka memiliki harga jual sekitar Rp6.500/liter dan kedepannya bisa ditekan menjadi sekitar Rp 5.000/liter. Berbeda dari permasalahan yang dialami sawit sebagai tanaman bahan pangan untuk minyak goreng, jarak pagar sama sekali bukan tanaman pangan.

“Yang penting bahwa jarak pagar bukan tanaman pangan sehingga tidak mengganggu stabilitas ketahanan pangan.” ujar Andriah Feby Misnah, selaku Direktur Bioenergi NEEI-One.

Masih menurut sumber yang sama, dijelaskan jika dalam proses pembuatan biodiesel berbahan baku jarak pagar, digunakan teknologi Nanomizer. Teknologi tersebut membuat biodiesel yang dihasilkan menjadi lebih bersih karena mengurangi emisi gas saat dilakukan pembakaran. Teknologi tersebut juga akan mengurangi konsentrasi methanol lebih dari 20 persen sehingga membuat mesin lebih tahan terhadap korosi.

3. Kendala pasokan

Biodiesel jarak pagar (ebtke.esdm.go.id)

Di lain sisi, hal yang sebenarnya menjadi kendala dari pemanfaatan jarak pagar sebagai bahan baku biodiesel adalah kepastian ketersediaan pasokan. Hal tersebut lantaran sempat ada masalah nilai keekonomian yang terjadi di tahun 2005.

  Kontribusi energi bersih, mengenal prosedur dan manfaat pemasangan PLTS atap

Disebutkan jika pada tahun 2008-2009, pengembangan atau budidaya jarak pagar terutama di Jawa Barat sebenarnya sudah cukup pesat. Investasi dan hasil produksinya kala itu dikatakan sudah cukup melimpah. Masalah muncul ketika petani ingin memasarkan hasil panen mereka, namun ternyata tidak ada pasar yang dapat menyerap dalam skala besar.

Akhirnya, hingga tahun 2017 pengembangan budidaya jarak pagar tidak memiliki kelanjutan, terutama dalam hal pengolahan. Hal tersebut menyebabkan beberapa lahan yang tadinya merupakan perkebunan jarak pagar digantikan dengan komoditas lain.

Namun, sebagaimana adanya pihak yang mengembangkan sendiri biodiesel dari jarak pagar yakni NEEI-One, kini ekosistemnya sudah mulai terlihat. Perusahaan tersebut sudah melakukan penanaman pohon jarak pagar sendiri di kebun contoh atau kebun inti seluas 5 hektare.

Penanaman tersebut mereka lakukan di didaerah Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali. Lain itu, praktiknya juga mempunyai fungsi membina masyarakat untuk menanam jarak pagar melalui koperasi desa atau badan usaha milik desa (Bumdes).

Artikel Terkait

Artikel Lainnya