Kemiri, sang pengganti sawit untuk bahan baku biodiesel

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Kemiri sunan (Wendy Cutler/flickr)

Bicara soal bahan bakar alternatif, nyatanya kemiri sunan (Reutealis Trisperma Blanco) berpotensi menghasilkan minyak nabati hingga 8 ton/hektare/tahun, melebihi potensi dari kelapa sawit. Sifat minyak nabati yang mengandung racun adalah nilai yang lebih baik karena tidak akan bersaing dengan kebutuhan pangan.

Minyak nabati yang dihasilkan kemiri sunan dapat diolah menjadi biofuel (biodiesel) sebagai pengganti bahan bakar diesel. Bahkan dikatakan kemiri sunan adalah salah satu tanaman penghasil bahan bakar minyak nabati (biodiesel) yang non-edible.

Sejatinya, pohon ini tumbuh sangat baik di daerah lahan kritis, sehingga tidak bersaing dengan tanaman penghasil pangan lainnya. Lain itu, tinggi pohon bisa mencapai 12-20 Meter dengan canopy yang sangat rimbun, berdaun besar dan berakar tunjang, maka pohon kemiri sunan sangat cocok sebagai tanaman konservasi.

Kemiri sunan pun dikatakan dapat berumur panjang dan sangat produktif, karena sudah mulai berbuah pada usia tiga (3) tahun sejak penanaman. Kernel (biji buahnya) mengandung reedmen crude oil (minyak mentah) sekitar 50-62 persen yang bisa diubah menjadi biodiesel sampai 90 persen. Demikian tulis Pojok Iklim.

Kemiri sunan cenderung melakukan perkawinan silang, oleh karena itu bibit yang baik untuk kebun induk harus berasal dari perbanyakan secara vegetatif.

  Ramai alat Nikuba mengubah air jadi bahan bakar alternatif, apa kata para ahli?

Lolos standarisasi

Kemiri sunan (Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur)

Dari ampas dan sampah biomasanya, bisa diperoleh banyak sekali bahan baku ethanol yang lazim digunakan untuk campuran jenis bahakan bakar premium/gasoline. Sedangkan dari kandungan crude oil,  akan diperoleh oleochemicals yang bisa diproses menjadi bahan medis, kosmetik, tinta cetak, pestisida, pembasmi rayap dan karet.

Hasil uji berdasarkan American Standard Testing and Materials (ASTM), biodiesel yang dihasilkan oleh kemiri sunan sudah sesuai Standart Nasional Indonesia (SNI) dan Deutsche Industrial standard (DIN), serta  sudah diuji pada motor bakar. Dengan spesifkasi biodisel: Cetane Ave 57, 0 Sulfur dan  yod (Iodine nr)  32.

Pengembangan kemiri sunan diharapkan menjadi bagian dari program kesinambungan ketahanan energi turunannya dari biodiesel, bioethanol, sampai bioavtur, sehingga menjadi bagian dari kemandirian energi.

Potensi sebaran kemiri sunan

Budidaya kemiri sunan di Kalimantan (CIFOR/flickr)

Kemampuan kemiri sunan dalam mengimbangi tanaman sawit sebagai penghasil biodiesel atau bahan bakar nabati juga diakui oleh Global Forest Watch (GFW). Bahkan mereka menyebut ada sekitar 50-60 tanaman lain yang lebih ramah lingkungan ketimbang kelapa sawit.

  Memahami perbedaan biodegradable dan compostable, jangan sampai tertukar

Seperti dijelaskan oleh Dinas Perkebunan (Disbun) Jawa Barat, bahwa satu hektare lahan kelapa sawit dengan umur 5 tahun mampu menghasilkan 5 ton biosolar, sementara untuk luas dan umur yang sama, kemiri sunan mampu menghasilkan 2,2 juta ton biosolar.

Lebih sedikit memang, tetapi umur produksi kemiri sunan mencapai 50 tahun dengan produktivitas yang terus meningkat. Berbeda dengan sawit yang harus diremajakan setiap 15 tahun karena produksi menurun.

Fadli Ahmad Naufal dari Yayasan Madani Berkelanjutan pernah bilang bahwaada sekira 2,27 juta hektare lahan yang bisa dikembangkan untuk mengoptimalkan komoditas tanaman non-sawit untuk biodiesel.

Fadli menyebut, lahan-lahan potensial biofuel non-sawit itu tersebar di beberapa wilayah, seperti di Sumatra, Kalimantan, NTT, dan tentunya Papua. Soal jenis tanaman-tanaman potensial itu tadi, antara lain; jarak, tebu, aren, pinang, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kelapa, dll.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya