Kesuksesan Balunganyar, desa inovatif energi yang ubah kotoran sapi jadi biogas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi biogas (Practical Action/Flickr)

Desa Balunganyar, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur pernah dikenal sebagai desa terkotor karena bertebaran kotoran sapi. Setiap sudut kampung akan terlihat kotoran sapi, mulai dari saluran air, jalanan, hingga halaman rumah warga.

Namun hadirnya biogas membuat masyarakat Balunganyar dapat menghemat energi. Sebagai bentuk dukungan, Pemerintah Desa Balunganyar mengalokasikan anggaran pembuatan biogas setiap tahun melalui dana desa (DD). Program mandiri energi (biogas), diberikan kepada warga desa yang menghendaki.

Lalu bagaimana kisah desa ini menjadi bersih? Bagaimana juga desa ini menjadi inovatif secara energi? Berikut uraiannya:

1. Awalnya desa kotor

Sapi ternak (Alwi Hafizh A./Unsplash)

Desa Balunganyar, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan sangat melimpah dengan kotoran sapi yang menjadikannya desa terkotor. Kesan yang melekat di Desa Balunganyar adalah kumuh dan kotor, saking kotornya, siapapun yang datang kemungkinan besar tidak akan kembali.

Tentunya penyebabnya adalah hampir semua sudut kampung dipenuhi kotoran sapi. Di saluran air, jalanan, hingga halaman rumah, tampak tinja sapi berserakan. Itu karena sapi-sapi dibiarkan berkeliaran, bahkan kotoran sapi ini akan ditemukan di halaman rumah warga.

  Dilema masyarakat Kampung Waimon ingin kelola potensi desa secara mandiri

“Di mana-mana penuh kotoran. Enggak penuh gimana, wong di sini lebih banyak jumlah sapi ketimbang penduduknya,” terang Kepala Desa Balunganyar, Sholeh yang dimuat Mongabay Indonesia.

Tetapi itu dahulu, empat atau lima tahun lalu, sebelum masyarakat mengetahui bahwa kotoran sapi ternyata bisa diubah menjadi sumber energi. Kini tak lagi ada kotoran sapi tersisa. Warga mengubahnya menjadi sumber energi, biogas, atau keperluan memasak sehari-hari, ampasnya juga dimanfaatkan untuk pupuk organik.

“Dulu, orang lewat sepedaan saja kadang jatuh terpeleset karena kotoran sapi. Bisa dibayangkan betapa kotorannya desa kami itu,” kenang Sholeh.

2. Gayung bersambut

Pupuk organik (indipt.online/flickr)

Beternak sapi perah memang menjadi andalan warga Balunganyar. Dari 7.400 penduduk, sebanyak 95 persennya mengandalkan pendapatan dari memerah susu. Seorang warga, bahkan ada yang memiliki hingga 200 ekor sapi yang dipelihara.

Sholeh kemudian mempunyai solusi untuk membuat pupuk organik dari kotoran sapi. Akan tetapi, usaha ini hanya bertahan 2-4 tahun lantaran minimnya respon pasar. Gagal di pupuk, kotoran sapi kembali memenuhi sudut-sudut kampung.

  Desa Sungai Sekonyer dan kesadaran warga akan kelestarian lingkungan

Dia kembali mencari solusi hingga muncul gagasan memanfaatkannya menjadi biogas. Gagasan ini disambut PT Indonesia Power (IP), pabrikan setrum yang berada di Lekok. Melalui program community development-nya, pihak IP membantu Pemdes Balunganyar mengedukasi warga memanfaatkan kotoran sapi.

Dengan dukungan tokoh agama, pelan-pelan pemerintah desa bisa menyakinkan warga. Hingga tahun 2016, sebanyak 2 unit digester dibangun. Bahkan setahun berikutnya, ada 180 digetser model fixed dome dibuat, hasil bantuan sejumlah pihak dan tahun 2018, sebanyak 20 unit dibangun lagi.

“Kalau dari sisi ekonomi mungkin tidak banyak. Paling penting adalah bagaimana mengurangi limbah sekaligus memanfaatkannya. Dengan dukungan para pihak, kita olah jadi biogas,” terangnya.

3. Desa inovatif

Ilustrasi biogas (Rene/Flickr)

Balunganyar yang sebelumnya dicap sebagai desa terkotor, kemudian diganjar sebagai desa paling inovatif oleh Kementerian Desa pada 2018 silam. Kehadiran biogas di Balunganyar mampu mengubah perilaku peternak setempat.

Selain menjadikan biogas, ampas kotorannya juga digunakan untuk pupuk kandang (organik), untuk rumput gajah, pakan ternak sapi. Prinsip kerja biogas adalah menciptakan alat yang kedap udara dengan bagian-bagian pokok terdiri dari pencerna (digester).

  Denmark sebut Indonesia mampu jadi pemimpin energi hijau di Asia Tenggara

Hadirnya biogas membuat masyarakat bisa menghemat energi. Kholifah mengungkapkan semenjak ada biogas, dia bisa menghemat pengeluaran Rp50-75 ribu. Sebelumnya, biaya sebesar itu dia keluarkan untuk membeli gas elpiji setiap sebulan.

“Bagi saya, uang segitu lumayan berharga. Bisa tambahan ongkos anak anak di pondok,” ujarnya.

Kenyataan ini disadari pihak desa, sebagai bentuk dukungan mereka mengalokasikan anggaran pembuatan biogas setiap tahun melalui dana desa. Jumlah unit yang dibangun, tergantung kebutuhan saat pembahasan anggaran sebelumnya.

Program mandiri energi (biogas) diberikan kepada warga desa yang menghendaki. Syaratnya cuma satu warga atau pemilik rumah hanya menyediakan lahan untuk lokasi instalasinya. Semua biaya, desa yang akan menanggung. Hal ini juga didukung oleh pihak IP

“Ini sekaligus desa percontohan pemanfaatan kotoran sapi menjadi energi alternatif. Program ini juga bisa meningkatkan ekonomi masyarakat dengan pemanfaatan biogas sebagai pengganti LPG, untuk kebutuhan memasak sehari-hari,” jelas Khayubi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya