Ketika gas alam membawa Lhokseumawe jadi kota petro dolar

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
PT Arun (Sthila Beny/Flickr)

Kota Lhokseumawe, Aceh pernah dikenal sebagai “Kota Petro Dolar” yaitu ketika pada masa jaya perusahaan gas PT Arun Natural Gas Liquefaction Co periode 1980-1990. Sayangnya jejak kejayaan itu tidak bersisa lagi pada tahun 2014.

Pada masa jayanya PT Arun NGL adalah penghasil LNG (gas alam cair) terbesar di dunia pada media 1990-an. LNG yang dihasilkan diekspor ke sejumlah negara, terutama Jepang. Dari perusahaan inilah yang menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Lhokseumawe.

Lalu bagaimana kisah PT Arun NGL? Dan apa dampaknya bagi masyarakat? Berikut uraiannya:

1. Kekayaan dari gas

PT Arun (irfan mnur/Flickr)

Kota Lhokseumawe, Aceh pernah dikenal sebagai “Kota Petro Dolar” yaitu ketika pada masa jaya perusahaan gas PT Arun Natural Gas Liquefaction Co periode 1980-1990. Sayangnya jejak kejayaan itu tidak bersisa lagi pada tahun 2014.

PT Arun NGL memiliki catatan sejarah panjang sebagai pemasok besar LNG (gas alam cair) internasional dan ditugasi pemerintah untuk mengekspor LNG ke Jepang dan Korea Selatan sesuai kontrak.

  Mahasiswa UNNES sukses garap sepeda listrik berangka komposit bambu

Dimuat Kompas, Lhokseumawe memang menyimpan kekayaan alam berlimpah, antara lain gas dan minyak. Akhirnya pemerintah bekerja sama dengan swasta sehingga menemukan gas dalam jumlah besar, sekitar 17,1 triliun kubik di kawasan Arun pada 1970.

Penemuan itu memicu berdirinya PT Arun NGL pada 1974 dengan komposisi saham milik PT Pertamina (55 persen), Mobil Oil Inc selaku perusahaan merger ExxonMobil (30 persen), dan asosiasi para pembeli gas di Jepang (JILCO) yang memiliki porsi saham 15 persen.

Pada periode 1990-an, PT Arun NGL adalah penghasil LNG (gas alam cair) terbesar di dunia. LNG yang dihasilkan oleh perusahaan ini diekspor ke sejumlah negara, terutama Jepang dan Korea Selatan.

Gas dari perusahaan ini menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Lhokseumawe dan Indonesia pada periode 1980-1990. Penemuan gas dalam jumlah besar dan berdirinya PT Arun NGL memberikan perubahan positif bagi Lhokseumawe.

2. Bawa kesejahteraan

PT Arun (Irfan Mnur/Flickr)

Ternyata hal ini juga memicu berdirinya sejumlah industri yang bergantung pada gas, seperti perusahaan pupuk urea dan amoniak PT Pupuk Iskandar Muda. Perekonomian masyarakat pun tumbuh pesat di Lhokseumawe karena kehadiran perusahaan itu.

  Menilik kondisi dan pengelolaan sampah elektronik di Indonesia

“Lhokseumawe disebut Kota Petro Dolar karena daya beli warganya yang tinggi. Perekonomian tumbuh dan banyak orang luar bekerja di Lhokseumawe,” tulis Adrian Fajriansyah dalam Lhokseumawe: Setelah Kota Petro Dolar Mati.

Syamsuddin, warga Lhokseumawe yang juga mantan pekerja Mobil Oil indonesia di Aceh Utara menjadi saksi ketika Lhokseumawe menjadi kota nan kaya. Ketika ttu daya beli masyarakat sangat tinggi.

Disebutkan oleh Syamsuddin biasanya warganya mencari sayur-mayur, ikan , daging ayam, dan daging sapi selalu habis dibeli warga sebelum jam Rp11.00.

“Jadi pedagang enak sekali ketika itu. Apapun yang mereka jual pasti laku,” paparnya.

3. Berangsur turun

PT Arun (Sthila Beny/Flickr)

Tetapi hal itu berubah ketika produksi PT Arun NGL turun drastis tahun 2000-an dan berhenti produksi pada Oktober 2014. Kondisi itu membuat perusahaan yang bergantung pada gas ini tutup bertahap sejak awal tahun 2000.

Realisasi produksi LNG terus merosot seiring penurunan pasokan gas dari lapangan Arun. Dari enam kilang yang ada, hanya satu kilang yang beroperasi dan menghasilkan LNG untuk diekspor ke luar negeri.

  Keindahan Pulau Sabang, setetes surga di ujung barat Indonesia

Disebutkan oleh Presiden Direktur PT Arun NGL, Fauzi Husin, pada tahun 2012 volume produksi LNG diperkirakan hanya 22 kapal kargo. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan saat puncak produksi pada tahun 1994 yang mencapai 224 kapa per tahun.

Kelangkaan sumber gas alam dan melambungnya harga gas di pasar dunia mengakibatkan volume LNG kilang Arun terus anjlok. Akibatnya, beberapa industri pengguna gas di daerah itu terpaksa mengurangi kapasitas produksi.

Bahkan ada perusahaan yang berhenti berproduksi sehingga ribuan karyawan kehilangan pekerjaan dan fasilitas pabrik yang ada terbengkalai. Kondisi ini pastinya berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat Lhokseumawe sejak tahun 2000-an.

Kondisi itu semakin turun, setelah Aceh dilanda tsunami tahun 2004. Keadaan Lhokseumawe kian sulit kala mayoritas pendatang meninggalkan kota itu ketika konflik Aceh semakin meluas.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya