Ketika sampah sayur dan buah sukses diubah menjadi hand sanitizer

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Selama ini sampah sisa konsumsi rumah tangga yang dikenal sebagai sampah organik, memang sudah banyak diketahui dapat dimanfaatkan dan diolah kembali menjadi beberapa jenis sumber energi baru, di antaranya biogas untuk menggantikan penggunaan gas elpiji bagi rumah tangga, atau bio-etanol untuk menggantikan bahan bakar minyak (BBM).

Sedikit berbeda, kali ini sampah organik yang berasal dari sampah sayur dan buah nyatanya juga memiliki potensi untuk dibuat menjadi produk lain yang sangat dibutuhkan di tengah situasi pandemi seperti saat ini, yaitu hand sanitizer atau cairan pembersih tangan.

Bayangkan, sampah yang pada dasarnya kerap dipandang sebagai sesutau yang kotor, namun setelah dikelola dengan baik justru bisa memberikan manfaat dan berperan sebagai pembersih. Bagaimana cara pembuatannya?

1. Mengandalkan pembentukan eco-enzyme

Mengenai bahan utamanya, secara spesifik jenis sampah yang dapat digunakan untuk membuat cairan pembersih tangan seperti yang diinginkan adalah sampah sisa sayuran dan buah-buahan.

Pada tahap pertama, sampah sayuran dan buah-buahan terlebih dahulu dibersihkan, kemudian direndam dengan gula merah atau molase, lalu disimpan pada ember yang tertutup. Proses fermentasi ini dilakukan untuk mendapatkan eco-enzyme yang memiliki fungsi seperti alkohol, yakni sebagai desinfektan.

  4 jenis sampah dapur yang bisa jadi pupuk tanaman

Disebutkan jika semakin beragam limbah sayur dan buah yang digunakan, semakin beragam pula endofit atau mikroorganisme untuk menghasilkan eco-enzyme.

Pada minggu pertama proses fermentasi, wadah tertutup yang digunakan untuk menampung sampah yang difermentasi harus dibuka untuk mengeluarkan gas yang ada di dalamnya. Kemudian, wadah baru dibuka kembali setelah 30 hari untuk melepaskan gas dan mengecek keberhasilan proses fermentasi.

Tidak selalu berhasil, pada beberapa kondisi terkadang kerap dijumpai proses fermentasi yang gagal, hal tersebut bisa terjadi akibat udara sekitar yang tidak bersih. Karena itu, sangat dianjurkan untuk menyimpan wadah fermentasi jauh dari tempat sampah.

2. Apa itu eco-enzyme?

Kandungan dari eco-enzyme sendiri diketahui membuatnya bisa menjadi cairan multiguna yang dapat diaplikasikan pada berbagai kebutuhan rumah tangga sebagai pembersih, dengan cara ditambahkan ke produk pembersih seperti shampoo, pencuci piring, deterjen, dan lain sebagainya.

Selain itu, kandungannya juga disebut mampu membantu siklus alam seperti memudahkan pertumbuhan tanaman (sebagai fertilizer), mengobati tanah dan juga membersihkan air yang tercemar, berperan sebagai pupuk alami dan pestisida yang efektif untuk pertanian, dan juga peternakan.

  Biogas, harapan sumber energi terbarukan dari limbah organik

3. Olahan hand sanitizer oleh tim Universitas Pertamina

Digarap oleh tim Program Studi Kimia Universitas Pertamina, Dr. Suharti selaku dosen pembina dalam tim terkait mengungkap jika proses pembuatan penyanitasi tangan berbahan baku limbah rumah tangga ini cukup sederhana dan murah.

Menurut penuturannya, apaabila ingin mengolah produk eco-enzyme murni yang sudah dihasilkan dari proses fermentasi menjadi cairan pembersih tangan, hal yang harus dilakukan adalah tinggal menambahkan air sesuai dengan perbandingan yang dibutuhkan.

“Setelah proses fermentasi selesai, eco-enzyme yang telah dihasilkan dicampur air dengan perbandingan 1:400, yaitu 1 mililiter (mL) eco-enzyme untuk 400 mL air,” papar Suharti.

Produksi cairan pembersih tangan ini telah dilakukan sejak pertengahan tahun lalu atau tepatnya bulan Juli 2021, Laboratorium Kimia Universitas Pertamina hingga saat ini diketahui telah menghasilkan sekitar 100 liter hand sanitizer.

Selain lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia, salah satu riset juga menyebut jika limbah rumah tangga yang difermentasi juga berpotensi menghasilkan metana atau hidrogen yang berfungsi sebagai antiseptik. Di mana artinya, efektivitas hand sanitizer yang dihasilkan akan setara dengan produk antiseptik berbahan dasar alkohol.

  Ambisi Pertamina jual biofuel dari campuran tebu mulai tahun 2023

Ke depannya, tim yang sama disebut juga akan membuat sejumlah produk pembersih serupa yang masih berasal dari sampah sayuran dan buah.

“Ke depan menggunakan metode yang sama, kami berencana memproduksi pengharum ruangan dari ekstrak bunga, kulit jeruk, dan bahan alami lainnya. Eco-enzyme yang dihasilkan dari bahan-bahan alami tersebut juga memiliki fungsi lain yakni sebagai penghilang kuman,” tandas Dr. Suharti.

Foto:

  • Dok. Universitas Pertamina
  • Dra. Syofia Rahmayanti/Kementerian LHK
  • Lea Wee/straittimes.com

Artikel Terkait

Artikel Lainnya