Mengenal co-firing, benarkah solusi tepat untuk hadapi perubahan iklim?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Praktik Cofiring (Dok. PT PJB)

Masih belum habis pembahasan mengenai transisi energi bersih yang kenyataannya tidak akan bisa dilakukan secara instan. Kali ini, topik yang tak kalah menyita perhatian adalah mengenai praktik co-firing pada industri PLTU yang mengandalkan batu bara.

Co-firing sendiri merupakan salah satu dari dua upaya yang diunggulkan PLN untuk mengurangi emisi karbon. Adapun satu upaya lain yang dimaksud adalah teknologi Carbon Capture, Ulization, and Storage (CCUS). Sesuai namanya, teknologi tersebut bekerja dengan cara melakukan penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon.

Namun upaya pertama lebih banyak menyita perhatian dari berbagai pihak, apa sebenarnya yang dimaksud dengan co-firing?

1. Substitusi batu bara dengan biomassa

Substitusi batu bara dengan biomassa (Dok. PJB)

Menurut penjelasan BPPT, co-firing adalah strategi menggantikan bahan pembakar penghasil uap pada PLTU dalam hal ini batu bara, dengan biomassa. Adapun biomassa yang dimaksud terdiri dari tanaman energi, sampah rumah tangga, dan sejenisnya. Lain itu termasuk juga di dalamnya limbah pertanian dan perkebunan yang meliputi palet kayu, cangkang sawit, serbuk gergaji, dan lain-lain.

  Indonesia akan terima suntikan dana Rp6,3 triliun untuk penanganan krisis iklim

Seperti yang diketahui, selama ini karbon pembakaran batu bara memang telah menjadi penyumbang terbesar emisi penyebab krisis iklim. Sehingga metode co-firing diklaim sebagai solusi untuk mereduksi dampak yang ditimbulkan apabila sebagian kecil bahan pembakarnya diganti dengan biomassa.

Disebutkan jika biomassa memiliki kandungan sulfur dan nitrogen yang lebih rendah daripada batubara. Sehingga, saat pembakaran emisi gas NOx dan SOx dapat dikurangi. Menilik pengoperasiannya, saat ini ada dua jenis pembakaran dengan cara co-firing, yaitu direct dan indirect.

Lebih detail, direct co-firing adalah pembakaran batubara dan biomassa secara bersamaan. Sementara pada indirect, salah satu dari dua material tersebut harus melalui proses lain terlebih dahulu, misalnya gasifikasi biomassa.

2. Catatan praktik co-firing yang telah berjalan

Co-firing (Kementerian ESDM)

Mengutip publikasi Kementerian ESDM, diketahui jika per Maret 2021, telah dilakukan praktik co-firing pada 26 lokasi PLTU di Indonesia. Lebih detail, porsi biomassa yang digunakan adalah sebesar 1-5 persen dari total pembakaran.

Sementara itu, implementasi co-firing diproyeksi PLN akan berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas bauran energi yang menerapkan praktik EBT. Adapun dari 26 lokasi PLTU yang telah menerapkan praktik ini, 13 di antaranya disebut sudah beroperasi secara komersial.

  PLN Bangun PLTG dan PLTS di Bali, berkelanjutan atau hanya karena euforia G20?

Ke-13 PLTU yang dimaksud tersebar di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok. Lain itu jenis biomassa yang digunakan pun beragam mulai dari sekam padi, cangkang sawit, dan lain-lain. Lebih lanjut, PLN juga memproyeksikan jika pada tahun 2024 mendatang, total PLTU dengan praktik ini akan memberikan kontribusi EBT sebesar 18 GW.

Tapi, benarkah strategi satu ini merupakan solusi yang tepat untuk melakukan percepatan transisi energi bersih?

3. Tantangan tak kalah besar

Biomassa (Amelia Monteiro/Flickr)

Strategi co-firing di saat bersamaan memiliki sejumlah kendala yang dipertanyakan, bahkan praktiknya berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan yang lebih besar, yaitu pembukaan lahan.

Untuk apa pembukaan lahan yang dimaksud? Yakni untuk menyuplai bahan baku biomassa yang digunakan dalam pembakaran. Seperti sawit, pembabatan kayu untuk industri yang dimanfaatkan serbuknya, dan lain-lain.

Hasil riset Trend Asia yang juga dikutip oleh 350.org menunjukkan, jika praktik co-firing berpotensi mendorong perluasan lahan mencapai 11 juta hektare. Luas lahan tersebut dibutuhkan untuk membentuk industri biomassa guna memenuhi kebutuhan suplai materi biomassa yang dirancang Kementerian ESDM.

  Ketika gas alam membawa Lhokseumawe jadi kota petro dolar

Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), dalam Bisnis.com. Mereka mengungkap, jika praktik co-firing sebenarnya sudah jauh dilalukan sejak tahun 1990-an oleh sejumlah negara. Adapun negara yang dimaksud di antaranya adalah Amerika Serikat dan China.

Namun selang 20 tahun berjalan hingga detik ini, negara tersebut masih mengalami kendala dalam operasional co-firing. Yakni berupa pemenuhan bahan baku biomassa. Berangkat dari kondisi tersebut, tak heran jika sebagian besar pihak menganggap co-firing bukan solusi tepat untuk mempercepat transisi energi bersih.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya