Mengenal DME, alternatif pengganti LPG di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
DME LPG
Tabung gas DME pengganti LPG (Antara)

Selain minyak bumi, salah satu material alam lain yang kini juga sedang diupayakan bentuk energi alternatifnya adalah gas bumi. Dalam penggunaan sehari-hari, salah satu pemanfaatan gas bumi yang banyak dipakai sehari-hari adalah gas LPG/elpiji. Kini, salah satu alternatifnya yang sedang dikembangkan adalah DME.

Sedikit memahami, gas elpiji selama ini diperoleh dari penyulingan minyak mentah atau dari kondensasi gas bumi dalam kilang pengolahan gas bumi. Pencairannya menjadi LPG bertujuan untuk memperoleh volume yang jauh lebih kecil agar dapat digunakan secara lebih praktis oleh konsumen rumah tangga.

Kini elpiji sedang dalam masa penjajakan untuk digantikan oleh DME atau Dimethyl Ether. Ada beberapa alasan yang menyebabkan elpiji akan digantikan oleh DME, salah satunya adalah karena elpiji beberapa kali kerap memanfaatkan gas impor.

Lain itu, ditemukan fakta bahwa DME lebih efisien daripada LPG, dan memiliki lebih sedikit sisa-sisa fraksi karbon yang terbuang dalam proses penggunaannya.

Seperti apa sebenarnya fungsi serta kandungan DME? Dan keunggulan apa yang dimiliki jenis energi tersebut dibandingkan elpiji?

  Mengenal seluk-beluk biofuel, dari jenis sampai bukti pemanfaatan

1. Mengenal DME

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Kementerian ESDM (@kesdm)

Menurut penjelasan di laman resmi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), DME atau Dimethyl Ether memiliki kemiripan dengan komponen LPG, yakni terdiri atas propan dan butana, sehingga penggunaannya sesuai dengan LPG.

DME berasal dari berbagai sumber termasuk material yang dapat diperbaharui, misalnya biomassa dan limbah.

Sebenarnya, pemanfaatan DME di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 2009. Salah satu wilayah di Indonesia yang sudah menjadi lokasi percobaan DME berada di Kota Palembang dan Muara Enim.

Adapun tahap uji coba telah dilakukan dalam rentang waktu Desember 2019 hingga Januari 2020. Detailnya, uji coba dilakukan pada 155 kepala keluarga dan secara umum dapat diterima oleh masyarakat.

Karena memiliki kemiripan karakteristik, nantinya DME dapat menggunakan infrastruktur LPG yang ada sekarang. Mulai dari tabung, storage dan handling eksisting.

  Dilema pemanfaatan sawit, antara energi alternatif atau kebutuhan pangan

Masih berupa campuran, nantinya kandungan yang dibuat dalam tabung akan terdiri campuran DME sebesar 20 persen dan LPG 80 persen.

2. Keunggulan DME dibanding elpiji

Ada beberapa hal yang disebutkan membuat DME lebih unggul dibanding elpiji. Pertama, DME mudah terurai di udara sehingga tidak merusak ozon dan meminimalisir gas rumah kaca hingga 20 persen.

Mengutip penjelasan di laman resmi Kementerian ESDM juga dijelaskan, bahwa emisi yang dihasilkan DME lebih kecil dari elpiji. Disebutkan jika elpiji menghasilkan emisi sebanyak 930 kg karbon per tahun, sedangkan DME hitungannya akan berkurang menjadi 745 kg karbon.

Dari segi penggunaan, nyala api yang dihasilkan gas DME disebut lebih biru dan stabil serta tidak menghasilkan polutan particulate matter (PM) dan nitrogen dioksida (NOX). Senyawanya juga disebut tidak mengandung sulfur, dan pembakarannya lebih cepat dari LPG.

3. Pabrik DME di Sumatra

DME (BPMI Setpres/Laily Rachev)

Keseriusan untuk mengembangkan industri DME di dalam negeri nyatanya terlihat dari pembangunan pabrik DME di Muara Enim, Sumatra Selatan. Nantinya, fasilitas pabrik ini diproyeksi dapat menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun saat beroperasi nanti.

  Jarak Pagar, alternatif bahan baku biodiesel selain sawit

Sudah digarap pada awal tahun 2022 lalu, pembangunan pabrik DME ini rencananya akan rampung dalam kurun waktu 30 bulan atau 2,5 tahun.

Jika pengembangan DME berjalan lancar, industrinya diharapkan mampu menekan subsidi APBN sebesar Rp7 triliun, dan menyerap tenaga kerja sekitar 10.600 orang.

Lain itu adanya DME ini juga diyakini mampu menekan impor elpiji sebesar 1 juta ton per tahun. hal tersebut yang diharapkan dapat menghemat devisa impor LPG sebesar Rp9,1 triliun rupiah per tahun. Lain itu industrinya juga diproyeksi akan menambah investasi sebesar 2,1 miliar dolar AS.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya