Mengenal eco enzyme, cairan multifungsi penyelamat bumi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
eco enzyme (agrozine.id)

Sampah organik berupa sisa-sisa makanan seperti ampas buah dan sayur rupanya punya banyak manfaat. Selain bisa diolah jadi energi alternatif sebagai biogas, komponen tersebut ternyata juga bisa dibuat menjadi eco enzyme.

Belum familiar atau sama sekali belum pernah mendengar tentang eco enzyme?

Zat berbentuk cairan ini setelah terbentuk sempurna banyak dianggap sebagai penyelamat bumi. Karena, selain bisa mengurangi sampah yang bersifat mencemari, keberadaannya justru memberikan manfaat positif lebih besar bagi lingkungan.

1. Awal mula gagasan eco enzyme

Sampah organik (Christopher Allman/ Flickr)

Mengutip zerowaste.id, formula eco enzym atau dalam bahasa Indonesia disebut ekoenzim (EE) pertama kali ditemukan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, penggiat pertanian organik di  Thailand pada tahun 2003.

Gagasan tersebut muncul dengan tujuan utama mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya dibuang, untuk menjadi pembersih. Jika didefinisikan, eco enzyme adalah cairan fermentasi limbah organik yang biasanya terdiri dari ampas buah dan sayur, yang memiliki berbagai macam fungsi.

Cairan eco enzyme biasanya memiliki warna coklat gelap dan memiliki aroma fermentasi yang kuat. Mengenai kandungannya sendiri, zat ini membentuk asam asetat (H3COOH) yang dapat membunuh kuman, virus, dan bakteri.

  Ketika sampah sayur dan buah sukses diubah menjadi hand sanitizer

Di lain sisi, kandungan enzyme itu sendiri terdiri dari enzyme Lipase, Tripsin serta Amilase. Di mana ketiganya mampu mencegah pertumbuhan serta membunuh bakteri pathogen. Ampas hasil pembuatan eco enzyme juga dapat digunakan sebagai bahan pembuat kompos, atau bahan pembuatan eco enzyme berikutnya.

2. Ragam manfaat eco enzyme

Eco enzyme (tzuchi.or.id)

Jika membahas mengenai manfaatnya secara spesifik, formula zat ini memiliki ragam kegunaan yang sangat besar dan berarti bagi lingkungan. Eco enzyme dapat berguna sebagai cairan pembersih serbaguna seperti deterjen pakaian, cairan pembersih toilet, bahan hand sanitizer, dll.

Eco enzyme juga dipercaya memiliki kemampuan untuk membersihkan hingga sebanyak 1.000 liter air sungai yang tercemar. Selain itu zat ini juga dinilai mampu meningkatkan kualitas udara dengan membersihkannya dari racun, polusi, dan bau sebagai air purify.

Sementara itu jika secara spesifik membahas kegunaan lainnya, eco enzyme dapat berfungsi sebagai:

  • Pestisida alami dan ramah lingkungan, pembasmi hama tanaman dan hama rumah,
  • Pembersih alami lantai, dapur, dan piring,
  • Cairan mencuci buah dan sayuran untuk menghilangkan residu pestisida,
  • Pembersih luka dan mempercepat penyembuhan luka,
  • Penyubur tanaman,
  • Pengolah limbah,
  • Disinfektan, dan masih banyak lagi.
  4 jenis sampah dapur yang bisa jadi pupuk tanaman

3. Cara membuat eco enzyme

Pembuatan eco enzyme (dlh.bulelengkab.go.id)

Menariknya, pembuatan eco enzyme juga terbilang mudah. Prosesnya bisa dilakukan oleh siapa saja dengan bermodalkan perlengkapan sederhana yang pasti selalu tersedia di rumah. Bagi mereka yang ingin membuat cairan satu ini, harus memastikan jenis sampah organik yang diolah adalah sisa sayur atau buah.

Secara lebih detail, bahan-bahan yang dibutuhkan terdiri dari sisa sayur atau buah berupa potongan tak termakan, kulit, dan biji. Selain itu dibutuhkan juga air, gula merah, dan wadah kedap udara misal berupa toples atau botol plastik.

Adapun langkah pembuatannya adalah sebagai berikut:

  1. Ukur air, sisa sayur atau buah, dan gula merah dengan perbandingan 10:3:1. Contoh: 10 gram gula merah, 30 gram sisa sayur/buah, dan 100 gram air.
  2. Potong sisa sayuran dan buah menjadi potongan kecil.
  3. Campur semua bahan ke dalam wadah plastik dan aduk. Wadah plastik dipilih agar lebih fleksibel dan tidak meledak saat gas hasil fermentasi bertambah.
  4. Tutup wadah sampai kedap udara.
  5. Biarkan selama 3 bulan di tempat yang teduh.
  6. Saat masa awal fermentasi, buka tutup wadah kira-kira satu minggu sekali untuk mengeluarkan gas yang terperangkap di dalamnya, dan mencegah wadah meledak.
  7. Setelah 3 bulan, cairan eco enzyme yang sukses akan berubah warna menjadi coklat gelap dan berbau cuka.
  Pertama di Asia, Indonesia punya pabrik batu bata sampah plastik di NTB

Dalam beberapa kondisi, kerap terjadi cairan berwarna hitam. Untuk mengatasi kondisi tersebut, tambahkan gula untuk mengulang proses fermentasi. Jika muncul cacing atau serangga, biarkan karena akan terurai dengan sendirinya dalam cairan.

Jika sudah berhasil, cairan eco enzyme bisa langsung disaring dan residu atau ampas organik masih bisa digunakan untuk mengulang proses pembuatan. Lain itu, ampasnya juga dapat digunakan sebagai penyubur tanaman.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya