Mengenal PLTP Kamojang, pembangkit listrik panas bumi pertama dan tertua di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sumur PLTP Kamojang (Dok. Kementerian ESDM)

Pembangunan infrastruktur pembangkit energi bersih baik berupa PLTS, PLTB, atau PLTA mungkin baru digencarkan akhir-akhir ini. Tapi sebenarnya, Indonesia sudah memiliki beberapa fasilitas PLT berbasis EBT sejak lama. Salah satunya PLTP Kamojang.

Bukan memanfaatkan tenaga alam berupa surya (sinar matahari), angin, atau air, energi yang digunakan adalah panas bumi. Sejak pertama kali didirikan hingga detik ini, PLTP Kamojang tetap beroperasional dengan kokoh, bahkan memiliki kualitas uap terbaik di Indonesia.

Bagaimana jejak pendirian dan pemanfaatan PLTP Kamojang saat ini?

1. Digarap sejak tahun 1926

(Republik Endonesia/Flickr)

Menjadi yang pertama sekaligus tertua, PLTP Kamojang memanfaatkan sumur panas bumi yang dibor oleh pemerintah kolonial Belanda di tahun 1926. Mengutip penjelasan di laman resmi Kementerian ESDM, hingga saat ini sumur tersebut masih mengeluarkan uap meski hanya memiliki kedalaman 60 meter.

Sumur uap panas PLTP Kamojang berlokasi di wilayah Samarang, Garut, Jawa barat yang berada di ketinggian 1.730 mdpl. Disebutkan bahwa proyek PLTP tersebut sebenarnya sempat terhenti di tahun 1928. Setelahnya, proyek baru kembali diteruskan pada tahun 1978 di mana pemerintah RI bekerja sama dengan pemerintah New Zealand.

  Jarak Pagar, alternatif bahan baku biodiesel selain sawit

Akhirnya sumur panas bumi yang dimaksud baru secara resmi beroperasi sebagai PLTP Kamojang di tahun tersebut. Menjadi PLTP pertama, saat itu kapasitas produksinya masih ada di kisaran 250 KW.

Awalnya unit PLTP yang dioperasikan hanya ada satu, namun seiring berjalannya waktu jumlah pembangkit terus bertambah menjadi 7 unit. Lebih detail, ke-7 PLTP yang dimaksud tersebar di area terdekat sekitar Garut.

Yakni 3 sub-unit PLTP Kamojang di Kabupaten Bandung (140 MW), 1 unit PLTP Darajat di Kabupaten Garut (55 MW), dan 3 Unit PLTP Gunung Salak di Kabupaten Sukabumi (180 MW). Yang mana jika ditotal secara keseluruhan, energi yang dihasilkan oleh 7 unit PLTP Kamojang tersebut berkapasitas 375 MW.

2. PLTP terbaik

(Republik Endonesia/flickr)

Sudah beroperasi selama kurang lebih 44 tahun, hingga saat ini PLTP Kamojang diyakini sebagai PLT berbasis panas bumi terbaik di Indonesia. Pasalnya, uap yang dikeluarkan memiliki level sangat kering (very dry) dengan kelembaban yang sangat rendah, sehingga uap dapat langsung masuk ke turbin.

Meski begitu, dalam prosesnya tetap dilakukan pemantauan dan analisa secara periodik untuk memonitor uap. Hal tersebut dilakukan untuk memantau kandungan berbahaya seperti kandungan kimia, lumpur, dan material lain yang dapat mengurangi kinerja mesin pembangkit atau bahkan merusak peralatan pembangkit.

  Gerilya, program yang buat anak muda melek energi bersih

Pada tahun 2019, PLTP Kamojang sukses menunjukkan kinerja baik dengan berhasil mendapatkan pencapaian EAF (Equivalent Availability Factor) dan EFOR (Equivalent Force Outage Rate). Hal tersebut dicapai dengan adanya sistem tata kelola yang baik dengan mengedepankan aspek keselamatan dan lingkungan.

3. Proses kerja PLTP Kamojang

Pipa uap PLTP Kamojang (Dok. Kementerian ESDM)

Membahas mengenai prosesnya yang mana di Kamojang sendiri terdapat 3 unit pembangkit yang beroperasi. Awalnya, uap dari sumur panas bumi dialirkan ke steam receiving header. Bagian tersebut berfungsi menjamin pasokan uap tidak mengalami gangguan meski terjadi perubahan pasokan dari sumur produksi.

Selanjutnya melalui flow meter, uap tersebut dialirkan ke tiap unit turbin 1, unit 2, dan unit 3 melalui rangkaian pipa yang ada. Uap yang dimaksud dialirkan ke separator untuk memisahkan zat-zat padat, silica, dan bintik-bintik air yang terbawa di dalamnya.

Kemudian uap yang telah melewati separator dialirkan ke demister yang berfungsi sebagai pemisah akhir. Uap yang telah bersih kemudian dialirkan melalui main steam valve (MSV)-governor valve menuju ke turbin. Di dalam turbin, uap tersebut berfungsi memutar double flow condensing yang dikopel dengan generator, pada kecepatan 3.000 rpm.

  Sulawesi punya dua PLTA baru, Presiden ‘sentil’ birokrasi perizinan

Proses itulah yang akhirnya menghasilkan energi listrik dengan arus 3 fasa, frekuensi 50 Hz, dengan tegangan 11,8 KV. Selanjutnya, melalui transformer step-up, arus listrik dinaikkan tegangannya hingga 150 KV. Baru kemudian listrik yang dihasilkan dihubungkan secara paralel dengan sistem penyaluran listrik Jawa-Bali.

PLTP Kamojang sendiri diketahui sebagai salah satu PLT berbasis EBT, yang menjadi pemasok listrik untuk sistem REC di Pulau Jawa.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya