Mengenal seluk-beluk biofuel, dari jenis sampai bukti pemanfaatan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi biofuel (scanrail/iStock via seekingaplha.com)

Bicara mengenai energi alternatif sebagai upaya untuk mengatasi perubahan iklim, praktiknya tentu tidak hanya dihasilkan dalam bentuk energi listrik. Bentuk energi lain yang juga sedang banyak dikembangkan dan tak kalah penting adalah biofuel, atau Bahan Bakar nabati (BBN).

Sesuai namanya, energi ini berperan besar sebagai bahan bakar berbagai macam jenis kendaraan untuk menggantikan bahan bakar fosil. Beberapa uji coba yang telah dilakukan telah berhasil membuktikan jika BBN bersifat lebih ramah lingkungan. Hal tersebut lantaran emisi karbon yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibanding penggunaan bahan bakar fosil.

Lantas, dari mana sebenarnya asal biofuel dan bagaimana proses pembuatannya?

1. Ada 3 jenis biofuel

Biodiesel, salah satu jenis biofuel (Mike Blake/Reuters)

Biofuel adalah wujud bahan bakar berupa padatan, cairan, ataupun gas hasil pengolahan bahan-bahan organik yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Meski lebih umum dikenal dengan satu sebutan yakni BBN, sejatinya pembeda energi alternatif ini dibagi lagi menjadi tiga jenis.

Jenis pertama yakni bioetanol. Memiliki wujud berupa alkohol, biofuel satu ini berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti gandum, tebu, jagung, buah-buahan, hingga limbah sayuran. Dalam prosesnya, untuk mendapatkan alkohol tumbuhan di atas harus melewati proses fermentasi terlebih dahulu.

  PLN Bangun PLTG dan PLTS di Bali, berkelanjutan atau hanya karena euforia G20?

Kedua ada biodiesel. Bahan bakar ini terbuat dari minyak kedelai, minyak rapeseed (sejenis bunga), minyak buah jarak, hingga minyak bunga matahari. Di beberapa negara biodiesel biasanya juga berasal dari berbagai bahan yang berbeda tergantung dengan sumber daya yang dimiliki.

Misalnya di Hawaii, biodiesel terbuat dari minyak goreng bekas. Sedangkan di Jepang, mereka membuat biodiesel dari minyak bekas aktivitas restoran. Bagaimana dengan Indonesia?

Di tanah air, biodiesel kebanyakan dibuat dari bahan minyak sawit mentah. Sebenarnya biodiesel juga bisa dibuat dari minyak hewan, tapi kebanyakan negara di dunia untuk saat ini membuatnya dari tumbuh-tumbuhan.

Terakhir adalah biogas, jenis ini berasal dari fermentasi sampah tumbuhan atau kotoran manusia dan hewan ternak. Saat difermentasi, sampah atau kotoran yang dimaksud akan mengeluarkan gas, dan gas tersebut yang pada akhirnya menjadi biogas. Selain untuk BBN, biogas juga bisa dimanfaatkan untuk menyalakan listrik dan kompor.

2. Situasi yang masih menjadi kendala

Pemanfaatan biodiesel (Dok. Kementerian Perindustrian)

Sama seperti penghasil energi alternatif layaknya PLTA atau PLTS yang mengalami kendala dari segi biaya, biofuel juga memiliki kendalanya sendiri. Salah satu kendala yang muncul adalah jenis biofuel yang bahan utamanya berasal komoditas penting di alam, yakni biodiesel.

  Biogas, harapan sumber energi terbarukan dari limbah organik

Seperti yang telah disebutkan, biodiesel di Indonesia sendiri saat ini masih banyak dibuat dengan memanfaatkan minyak sawit mentah. Di mana saat ini bahan tersebut justru menjadi bahan utama komoditas minyak goreng yang juga penting bagi konsumsi rumah tangga masyarakat Indonesia.

Persoalan ini yang dalam beberapa waktu terakhir mencuri perhatian. Di mana salah satu penyebab kelangkaan minyak goreng yang terjadi, ternyata lantaran bahan bakunya banyak dialihkan untuk pembuatan BBN.

Jadi meskipun memiliki proyeksi energi bersih yang menjanjikan demi menghadapi perubahan iklim, ternyata ada keperluan lain yang perlu dipertimbangkan.

3. Pesawat penumpang sukses terbang dengan minyak goreng

Airbus A380 yang terbang dengan minyak goreng (airbus.com)

Di lain sisi belum lama ini, praktik dan keberhasilan biodiesel yang dibuat dari minyak sawit mentah dibuktikan oleh pesawat Airbus A380.

A380 adalah jenis pesawat penumpang terbesar di dunia yang dikembangkan dan diproduksi oleh perusahaan asal Prancis, Airbus. Pada Jumat (25/3/2022), pesawat ini berhasil terbang dengan menggunakan ‘minyak goreng’ dalam uji coba yang berlangsung selama tiga jam.

  Lightyear 0, mobil tenaga surya pertama di dunia siap diproduksi massal?

Lebih detail, bahan bakar minyak goreng yang dimaksud berjenis Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang juga menggunakan campuran limbah lemak. Bukan kali pertama, sebenarnya dalam kurun waktu setahun terakhir Airbus kerap melakukan uji coba dengan tipe pesawat berbeda.

Rangkaian uji coba yang dilakukan terdiri dari penerbangan pesawat A350 pada Maret 2021, dan pesawat A319neo pada Oktober lalu. Mengutip CNN Indonesia, dengan rangkaian uji coba yang telah dilakukan Airbus mengeklaim jika penggunaan SAF dapat mengurangi emisi karbon antara 53 persen hingga 71 persen, dibandingkan dengan avtur biasa yang berasal dari bahan bakar fosil.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya