Menilik kondisi dan pengelolaan sampah elektronik di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
sampah elektronik
Sampah elektronik (Cap SciencesFollow/Flickr)

Selain plastik, ada satu jenis sampah yang di masa depan juga diproyeksi mengalami peningkatan seiring semakin tinggi penggunaannya, yakni sampah elektronik.

Sama seperti sampah pada umumnya, sampah elektronik yang sudah tidak terpakai juga memiliki potensi merusak lingkungan dari segi ekologis. Satu hal yang menarik, faktanya jika dikelola secara serius sampah satu ini justru dapat memunculkan potensi dan nilai ekonomi yang tinggi.

Hal itu terbukti, karena sudah diterapkan oleh beberapa negara yang telah melakukan pengelolaan tersebut dengan ketat sejak lama. Lantas bagaimana dengan keberadaan sampah elektronik di Indonesia serta potensi pengelolaannya?

1. Sampah elektronik di Indonesia

Sampah mesin ATM (Ya, saya inBaliTimur/Flickr)

Menilik laporan The Global eWaste Monitor, per tahun 2019 Indonesia menduduki peringkat ke-7 sebagai negara penghasil sampah elektronik terbanyak dunia. Dengan catatan, sampah yang dimaksud berada di angka 1,6 juta metrik ton.

Berbeda menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Yang mana per tahun 2021 disebutkan bahwa sampah elektronik di Indonesia sudah meningkat menjadi sekitar 2 juta ton metrik.

Hal tersebut disampaikan oleh Rosa Vivien Ratnawati, selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) KLHK. Dalam sebuah webinar bertajuk National eWaste Day yang berlangsung pada pertengahan bulan Oktober 2021.

  5 negara tertinggi pendaur ulang sampah (2018)

Adapun sampah yang dimaksud terdiri dari peralatan rumah tangga seperti televisi, lemari pendingin berukuran kecil hingga besar hingga mesin cuci. Lain itu ada pula kipas angin dan berbagai jenis gawai mulai dari komputer, laptop, tablet, hingga ponsel.

2. Tantangan dan solusi pengelolaan

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Angela Widia (@angela.widia.sutanto)

Vivien mengakui bahwa pengelolaan sampah elektronik di Indonesia sejatinya memang masih belum optimal. Tidak hanya mengenai pengelolaan, namun pemahaman masyarakat akan apa yang harus dilakukan terhadap sampah elektronik juga belum memadai. Pada akhirnya, barang elektronik yang sudah tidak terpakai dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) umum.

Padahal, jenis sampah tersebut perlu mendapatkan penanganan khusus karena kandungan elektronik atau kelistrikan di dalamnya. Di lain sisi, belum adanya keikutsertaan atau kontribusi dari produsen barang elektronik di Indonesia juga jadi isu besar.

Ditambah lagi, cukup banyak kalangan yang saat ini memiliki gaya hidup dengan melakukan pembelian atau penggantian ponsel dalam kurun waktu tertentu. Entah karena ponsel yang dimiliki sudah mengalami penurunan beberapa fungsi, bosan, atau ingin memiliki ponsel keluaran terbaru.

  Lightyear 0, mobil tenaga surya pertama di dunia siap diproduksi massal?

Sebenarnya, solusi yang telah digunakan dan terbukti bekerja adalah dengan pengambilan oleh produsen dari konsumen. Istilah satu ini lebih dikenal juga dengan skema take-back. Nantinya, barang elektronik yang sudah tidak terpakai akan didaur ulang oleh industri untuk menjadi material untuk produk lainnya.

Jepang merupakan salah satu negara yang sejak tahun 2000-an telah menetapkan kebijakan tersebut. Salah satunya bukti nyatanya adalah pembuatan medali Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020 yang menggunakan sampah elektronik.

3. Punya nilai nyaris Rp200 triliun

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Saruga (@sarugaindonesia)

Jika memang ingin dilakukan secara serius, Indonesia sebenarnya juga bisa melakukan hal serupa. Di Indonesia nyatanya juga sudah ada beberapa lembaga yang menerima sampah elektronik untuk didaur ulang. Bahkan jika masih layak pakai, biasanya barang elektornik seperti ponsel dan lain sebagainya didonasikan ke orang yang membutuhkan.

Beberapa lembaga yang dimaksud dan sudah banyak dikenal misalnya Donasi Barang, EwasteRJ, dan Waste4Change. Lebih lanjut, pengelolaan sampah elektronik ini seharusnya bisa dilakukan dengan skala lebih besar dan masif lagi.

  Realisasi EBT dalam bentuk PLTS masih hadapi tantangan besar? Ini 3 faktanya

Mengapa? Karena ternyata ada potensi ekonomi yang dimiliki dari kegiatan yang juga bisa dijadikan ladang bisnis ini. Seperti yang kita tahu, selama ini dalam barang-barang elektronik terdapat sebagian kecil kandungan material berharga. Material yang dimaksud terdiri dari tembaga, emas, perak, platinum, dan palladium.

ScienceDirect memproyeksikan sampah elektronik di Indonesia akan meningkat menjadi 3,2 juta ton di tahun 2040. Angka tersebut ternyata mewakili nilai ekonomi mulai dari 2,2 miliar dolar AS sampai 14 miliar dolar AS. Nilai tersebut setara dengan Rp200 triliun yang berasal dari berbagai kandungan material layaknya emas dan lain-lain seperti yang disebutkan di atas.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya