Menilik wacana subsidi dan konversi untuk meningkatkan kendaraan listrik di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Motor vespa konvensional yang dikonversi menjadi motor listrik oleh Elders garage (Naikmotor.com)

Selain proyek pembangkit listrik berbasis EBT, ada satu hal lain yang diupayakan pemerintah untuk menggencarkan praktik energi bersih, yakni pemassalan kendaraan listrik. Tak heran untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah baru-baru ini terdengar sedang menggodok program subsidi kendaraan listrik.

Pertama kali terucap dari perkataan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, yang dimuat dalam wawancara Bloomberg. Tak lama, kepastian mengenai rancangan skema subsidi dikonfirmasi oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

Lebih jelas, Menko Marves Luhut bahkan menjelaskan berapa perkiraan besaran subsidi yang akan diberikan untuk pembelian kendaraan listrik jenis tertentu.

1. Target 2,5 juta kendaraan listrik di 2025

Untuk diketahui, tercatat jika per tanggal 3 Oktober 2022 di Indonesia setidaknya sudah ada sekitar 28.188 kendaraan listrik di Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sekitar 22.942 di antaranya adalah sepeda motor dan 4.904 terdiri dari mobil. Sedangkan sisanya adalah kendaraan umum atau komersil lain seperti bus, truk, dan kendaraan roda tiga.

  Upaya dorong generasi muda paham teknologi EBT di Indonesia

Di lain sisi, pemerintah memiliki target untuk merealisasikan penggunaan sebanyak 2,5 juta kendaraan listrik pada tahun 2025.

Perlu diketahui, jika maksud subsidi yang dimaksud sejauh ini terlihat baru dan hanya difokuskan untuk kendaraan roda dua atau motor. Menko Marves Luhut sebelumnya menyebut, jika kemungkinan besaran subsidi yang diberikan untuk motor listrik berada di kisaran Rp6,5 juta.

Di saat bersamaan mengutip pemberitaan CNN, pemerintah juga memiliki proyeksi ingin mencapai target penggunaan sebanyak 1,2 juta motor listrik di tahun 2024. Karena itu, disebutkan bahwa anggaran subsidi yang dibutuhkan bisa mencapai Rp7,8 triliun.

2. Antara subsidi dan konversi kendaraan listrik

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Elders Garage (@elders_garage)

Selain subsidi, pemassalan penggunaan kendaraan listrik sejatinya juga bisa dilakukan dengan melakukan konversi terhadap kendaraan konvesional yang sudah ada. Hanya saja, biaya yang dibutuhkan rupanya juga tak jauh berbeda bahkan bisa cukup mahal dengan membeli kendaraan listrik baru.

  Kasepuhan Gelar Alam, siklus adaptasi Kasepuhan Ciptagelar di era modern

Masih menurut keterangan Menko Marves Luhut, dikatakan jika kemungkinan biaya yang dibutuhkan untuk sistem konversi motor listrik nantinya akan berada di kisaran Rp15 juta.

Di lain sisi, Menteri ESDM Arifin Tasrif mangatakan, dari biaya konversi di atas, pihaknya juga sedang mempetimbangkan subsidi konversi setengahnya, atau sekitar Rp7,5 juta.

“Biaya untuk konversi (motor listrik) itu kan Rp15 juta, yang paling mahal itu Rp7,5 juta baterainya. Jadi bisa nggak nih baterainya dipikirkan untuk ‘digendong’ biar separuh harganya.” ungkapnya, di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (2/12/2022), mengutip sumber yang sama.

3. Menyasar pelaku mitra ojek online

Motor listrik yang digunakan Ojol (TMCblog)

Hingga kini, detail skema mengenai subsidi dan konversi motor listrik pun dikonfirmasi masih dalam rancangan dan pembahasan. Maksud skema yang dimaksud tentu mulai dari besaran pasti, jumlah kendaraan yang subsidi, serta siapa pihak yang akan menjalankan proses konversi nantinya.

Namun Arifin Tasrif memastikan, jika pada rencana awal target pihak yang menerima subsidi termasuk untuk konversi motor listrik harus tepat sasaran.

  Sudahkah kita memberikan ruang hak asasi untuk hewan?

Ia mengatakan jika untuk saat ini pemerintah berencana melakukan subsidi konversi kendaraan listrik bagi para pelaku mitra transportasi ojek online (ojol).

“Itu ojol penting, akan kami prioritaskan,” ujar Arifin, mengutip Katadata.

“Pemberian subsidi ini harus menyentuh ke masyarakat yang memang membutuhkan. Mudah-mudahan sebelum 2023,” tambahnya lagi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya