Pertama di Asia, Indonesia punya pabrik batu bata sampah plastik di NTB

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Pernah mendengar istilah ecobrick? Jika melakukan pencarian di internet, definisi atau bentuk yang muncul akan menunjukkan suatu metode yang digunakan untuk meminimalisir sampah plastik dengan media botol, yang diisi penuh dengan sampah anorganik bersih hingga botol benar-benar keras dan padat.

Kemudian, botol tersebut bisa digunakan sebagai pondasi untuk membuat bangunan baik dengan tampilan polos atau dilapisi lagi dengan adukan semen. Kekinian, wujud ecobrick dibuat semakin modern dan lebih enak dipandang, sejalan dengan kebutuhan akan nilai estetis.

Salah satu pihak yang telah menghadirkan ecobrick dengan wujud lebih modern baik dari segi penggunaan dan daya tahannya adalah Block Solutions, sebuah perusahaan rintisan yang berasal dari Finlandia.

Yang menarik perhatian, project istimewa pertama untuk membuat bangunan berupa sekolah dari ecobrick buatan Block Solutions nyatanya berlokasi di Indonesia, tepatnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

1. Pabrik ecobrick pertama di Asia

Bukan hanya membuat bangunan, hal istimewa lainnya adalah Indonesia ternyata juga dipilih sebagai negara pertama yang menjadi lokasi pembangunan pabrik produksi ecobrick itu sendiri.

  Upaya BNI membuat peta jalan penghentian pendanaan ke industri batu bara

Tentu hal tersebut memberikan banyak dampak positif, bukan hanya dari segi pembukaan lapangan kerja, melainkan juga dampak langsung berupa penyerapan sampah plastik di Indonesia untuk menjadi bahan baku pembuatan bata yang dimaksud.

Menggandeng organisasi non-profit lokal bernama classroom of hope dan pemerintah Provinsi NTB, nilai investasi dari pembangunan pabrik ini disebut berada di kisaran 2,3 juta euro atau sekitar Rp37,8 miliar.

Wacana dari pembangunan pabrik ini sendiri sebenarnya sudah diinisiasi sejak kisaran akhir tahun 2021 lalu, bersamaan dengan diresmikannya sekolah pertama di Indonesia sekaligus Asia yang dibangun dari bata ecobrick.

2. Digunakan untuk membangun sekolah dan rumah

Seperti yang sudah dijelaskan, pada tahun 2021 lalu diketahui sudah ada dua bangunan berupa sekolah yang dibangun menggunakan pondasi bata sampah plastik ini, yaitu SDN 04 Medas dan SMPN 2 Satap Tanjung. Selain itu, ecobrick juga telah digunakan untuk membangun sebuah rumah untuk salah seorang warga di Lombok.

Kala itu, pembangunan sekolah juga mendapat respons baik secara langsung dari Zulkieflimansyah, selaku Gubernur NTB.

  Dari Jokowi hingga Dubes Jerman, ini deretan ‘protes’ dari pegiat lingkungan cilik Indonesia

“Kami mendukung seratus persen. Hal ini juga menjadi salah satu solusi dari program zero waste di Provinsi NTB. Sampah-sampah yang ada dapat dijadikan batu bata yang memiliki manfaat seperti membangun sekolah dan fasilitas umum lain,” jelasnya.

Karena saat itu bata yang digunakan masih didatangkan langsung dari Finlandia, saat ini sejumlah pihak yang terlibat sedang fokus menggarap pabrik ecobrick yang berlokasi langsung di Indonesia. Jimmy Hutasoit selaku ketua Yayasan Classroom Of Hope mengatakan, jika selanjutnya akan fokus membangun sejumlah fasilitas dengan bata yang dihasilkan langsung dari pabrik di NTB.

“Tahun 2022 akan dilanjutkan tujuh sekolah sembari menunggu pabrik selesai dibangun,” pungkasnya.

3. Kualitas ecobrick

Jika bicara mengenai kualitas, ecobrick disebut memiliki bobot lebih ringan, harga yang terjangkau, dan material yang diklaim dapat bertahan hingga 100 tahun, persis seperti waktu yang dibutuhkan plastik untuk dapat terurai secara sempurna. Lain itu, ecobrick juga diklaim tahan akan guncangan gempa.

Sementara itu dalam pengaplikasiannya, bata ini hanya perlu dipasang layaknya balok lego, dengan bagian tengah yang memiliki lubang sebagai tempat untuk penempatan besi pengait.

  Ketika sampah sayur dan buah sukses diubah menjadi hand sanitizer

Nantinya sebelum disusun, bagian dasar akan dipasang pelat besi untuk penjepit bata sekaligus sebagai elemen dasar penguat bangunan. Karena kemudahan tersebut, proses penggarapan bangunan yang menggunakan material ini diketahui hanya membutuhkan waktu jauh lebih singkat, yakni sekitar kurang dari sebulan atau tergantung dari luasnya area bangunan yang digarap.

Foto: 

  • https://block-solutions.com/
  • Eszter Papp via abc.net.au
  • Dinas Kominfotik NTB

Artikel Terkait

Artikel Lainnya