PLN Bangun PLTG dan PLTS di Bali, berkelanjutan atau hanya karena euforia G20?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada tahun 2025 masih menjadi PR besar yang harus dikerjakan. Dalam sisa waktu setidaknya dua sampai tiga tahun ke depan, pemerintah masih harus mengejar tergarapnya 11,5 persen PLT berbasis EBT, karena per akhir tahun 2021 lalu realisasi yang terbangun baru separuhnya.

Sejumlah pembangunan di beberapa wilayah mulai berjalan, salah satu yang paling menyorot perhatian adalah relokasi PLTG yang semulanya berada di wilayah Grati, Jawa Timur ke Pesanggaran, Denpasar, dan pembangunan PLTS Hybrid di kawasan Klungkung, Nusa Penida.

Target operasionalnya ditetapkan berfungsi pada saat gelaran KTT G20 bulan Oktober 2022 mendatang, muncul pertanyaan apakah penggarapan PLT berbasis EBT ini benar dibangun dengan prinsip berkelanjutan atau hanya untuk memenuhi euforia G20 semata?

1. Penuhi pasokan listrik saat gelaran KTT G20 di Bali

Prinsip berkelanjutan bukan tujuan utama, jika menilik rilis resmi yang termuat oleh berbagai media, tujuan utama yang disorot dalam relokasi dan penggarapan PLT berbasis EBT ini adalah untuk menyukseskan gelaran KTT G20.

  Pensiun dini PLTU butuhkan dana ratusan triliun, berikut alasannya

Diketahui jika saat ini total daya kelistrikan yang ada di Bali mencapai 1.322 MW, sementara itu saat gelaran KTT G20 nanti perkiraan beban puncaknya akan mencapai 970 MW, meski masih memiliki cadangan listrik sebesar 341,1 MW atau sekitar 25,9 persen, pasokan cadangan listrik lebih banyak dinilai masih sangat dibutuhkan.

Hal tersebut yang melatarbelakangi dipindahkannya PLTG dari Jawa Timur ke Denpasar dan pembangunan PLTS di Nusa Penida, yang jika ditotal dapat menambah cadangan pasokan listrik sebanyak 200 MW.

Ditargetkan beroperasi secara komersil pada bulan Oktober 2022, mengutip pemberitaan yang dimuat oleh IDX Channel dua PLT tersebut akan menjadi salah satu showcase yang akan diperlihatkan kepada perwakilan negara-negara di dunia yang datang melalui KTT G20, untuk menunjukkan jika PLN siap mengawal transisi energi Indonesia menuju era energi baru dan terbarukan.

2. Potensi pengurangan emisi karbon

Tidak menutup mata, dibangunnya dua PLT ini memang dapat memberikan dampak pengurangan emisi karbon yang cukup berarti, misalnya saja PLTS Hybrid di Nusa Penida yang diyakini akan turut menurunkan emisi sebesar 3.200 ton CO2 per tahun.

  5 desa di Indonesia yang manfaatkan energi bersih biogas

Kabarnya, PLTS Hybrid Nusa Penida sudah dalam proses pelelangan umum EPC atau rekayasa pengadaan dan konstruksi, serta telah memasuki tahap penandatanganan kontrak.

Dalam klaimnya, Darmawan Prasodjo selaku Direktur Utama PLN memastikan jika kedua penggarapan PLT tersebut, termasuk ke dalam hitungan akan upaya pemerintah untuk memenuhi sisa target realisasi bauran energi 23 persen di tahun 2025, seperti yang sudah disebutkan di awal.

3. Trauma PLTB dan PLTS yang terlantar di Bali

Namun jika menilik riwayat di masa lampau, pembangunan PLT berbasis EBT ini kembali mengingatkan akan kondisi serupa yang pernah terjadi pada tahun 2007 silam. Kala itu, Indonesia memang didapuk menjadi tuan rumah untuk gelaran United Nation Framework Convention on Climate Change di Nusa Dua, Bali

Dengan tujuan ‘showcase’ yang sama, pemerintah saat itu memamerkan PLTB dan PLTS yang sama-sama dibangun dalam satu kawasan di Nusa Penida, tepatnya di wilayah Puncak Mundi. Namun sayang, dua PLT yang menelan anggaran hingga Rp25 miliar pada masanya itu ternyata hanya beroperasi memasok listrik selama satu tahun, atau lebih tepatnya pada tahun di mana gelaran konferensi perubahan iklim PBB berlangsung.

  Kontribusi energi bersih, mengenal prosedur dan manfaat pemasangan PLTS atap

Berdasarkan pantauan Bisnis Indonesia, pada tahun 2014 terlihat jika kondisi dua PLT di Puncak Mundi sangat memprihatinkan, sejumlah baling-baling PLTB terlihat sudah tak bergerak, beberapa bahkan telah patah, sementara itu solar cell pada bagian PLTS nampak masih utuh meski terlihat kotor.

Padahal, I Ketut Sudikerta yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali pada periode 2013-2018 pernah memberikan keterangan, jika jenis PLT berbasis EBT yang cocok dibangun untuk kawasan Nusa Penida sejauh ini adalah PLT yang memanfaatkan arus laut. Tapi nyatanya, PLTS justru kembali dibangun di kawasan yang sama.

Jika mengedepankan rasa optimis, kita hanya perlu berharap semoga penggarapan PLTS di kawasan yang sama kali ini memang akan memberikan dampak berkelanjutan, dan tidak akan berakhir dengan nasib yang sama seperti sebelumnya.

Foto:

  • pln.co.id
  • Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Artikel Terkait

Artikel Lainnya