Profesor RI sukses ubah sawit jadi bahan bakar nabati, negara Eropa panik?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Selama ini sawit kian dipandang sebagai jenis tanaman yang tidak ramah lingkungan karena keberadaannya diklaim dapat menimbulkan kerusakan.

Bukan tanpa alasan, pandangan tersebut muncul karena jika ditelaah berdasarkan karakteristiknya, satu batang kelapa sawit disebut dapat menyerap sekitar 12 liter unsur hara dan air dalam tanah per hari, hal tersebut yang diklaim dapat mengakibatkan kerusakan pada lingkungan.

Hal lain yang membuat perkebunan kelapa sawit dipandang merusak lingkungan adalah pembukaan lahan dengan cara pembakaran, di mana tanah di Kalimantan Barat yang umumnya dipenuhi dengan tanah gambut dan banyak digunakan untuk perkebunan kelapa sawit, akan melepaskan unsur karbon yang selama ratusan tahun terpendam setiap digarap untuk menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

Akibatnya, kelapa sawit Indonesia saat ini dipandang berbagai pihak sedang mengalami diskriminasi dari negara-negara Uni Eropa, karena tuduhan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.

Di balik kondisi tersebut, nyatanya ada sebuah fakta berlawanan mengenai potensi yang dimiliki oleh kelapa sawit, sebagai salah satu jawaban akan kebutuhan bahan bakar nabati (BBN) untuk menggantikan bahan bakar fosil yang sedang direncanakan penghentian penggunaannya secara massal.

  Kejar target energi bersih, kenapa pemasangan PLTS atap dibatasi?

1. Penemuan potensi sejak tahun 1982

Bukan hal baru, detail inisiasi penelitian yang dilakukan untuk mengubah sawit menjadi BBN sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak lebih dari 35 tahun yang lalu, oleh Prof Subagjo dan para pakar Teknik Kimia di Institus Teknologi Bandung (ITB).

Melalui sistem katalis, tim tersebut telah bekerja keras untuk mengonversikan minyak sawit menjadi BBN. Mengutip publikasi yang dimuat pada laman ITB, Prof Subagjo menjelaskan secara sederhana bagaimana bisa minyak sawit diubah dan menggantikan posisi bahan bakar fosil.

“Minyak sawit adalah hidrokarbon, yaitu seperti minyak bumi hanya di ujungnya ada CO2, jika ujungnya diputus (CO2) maka langsung menjadi seperti minyak bumi, lalu karena saya belajar tentang katalis, maka saya diminta untuk mencari katalis yang cocok untuk riset tersebut” jelasnya.

2. Keberhasilan yang kian terbukti

Pada tahun 2009, disebut mulai ada penelitian tentang Diesel Bio Hidro Karbon, atau diesel yang seperti minyak bumi tapi dari bahan hayati. Akhirnya Pertamina bekerja sama dengan ITB dengan memberikan bantuan untuk melakukan proses katalis untuk mengkonversi minyak sawit menjadi BBN, dalam bentuk Lab Teknik Reaksi Kimia dan Katalis (TRKK).

  Kontribusi energi bersih, mengenal prosedur dan manfaat pemasangan PLTS atap

Dalam kurun waktu enam hingga tujuh tahun terakhir, LabTRKK-ITB bersama Pertamina telah mengembangkan katalis untuk konversi minyak sawit menjadi berbagai jenis BBN untuk berbagai kebutuhan.

Di tahun 2019, keberhasilan tersebut akhirnya kian menemukan titik terang, salah satu akademisi kimia di ITB yang terlibat dalam upaya tersebut yakni IGB Ngurah Makertiharta, menjelaskan jika ia berhasil mengolah minyak sawit menjadi bensin.

Lebih istimewanya lagi, bensin atau BBN yang dihasilkan dari teknologi katalis yang ada bersifat drop-in, dalam artian dapat dipakai dalam mesin secara langsung tanpa harus dicampur dengan BBM berjenis fosil, karena setelah melewati serangkaian pengujian, minyak sawit yang telah diolah dengan katalis hasilnya persis dengan senyawa yang ada pada energi fosil.

Ke depannya, produk turunan berupa energi yang dihasilkan dari BBN tersebut akan diberi nama sesuai dengan jenisnya, yaitu bensin menjadi bensin nabati, diesel menjadi diesel nabati dan avtur juga jadi avtur nabati.

3. Kepanikan negara Eropa

Terlanjur ‘menjegal’ dan mendiskreditkan komoditas minyak kelapa sawit dari Indonesia untuk bisa masuk ke negara Uni Eropa karena pandangan deforestasi hutan, pada akhirnya kondisi tersebut membuat negara-negara Eropa panik.

  Menilik lokasi dan proyek pengembangan PLTB di Indonesia

Awalnya, Uni Eropa berencana untuk menghapuskan sawit sebagai material bahan bakar transportasi secara bertahap hingga menyeluruh sampai tahun 2023. Saat diumumkan, hal tersebut tentu mendapat penolakan dari negara penghasil kelapa sawit, salah satunya Indonesia.

Namun setelah ditemukannya potensi yang ada akan kemampuan minyak sawit menjadi BBN berkualitas tinggi siap pakai dan menggantikan BBM, situasi tersebut kini diyakini menjadi berbalik.

“Mereka panik setelah kita bisa mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar, dan CPO kita serap sendiri,” ujar IGB Ngurah Makertiharta.

Di saat yang bersamaan, Prof Subagjo juga menyatakan jika kondisi ini akan membuat Indonesia menjadi negara yang mandiri.

“Penggunaan katalis untuk konversi sawit menjadi BBN, bisa menjadikan kita sebagai bangsa yang mandiri di bidang energi, sehingga tidak tergantung kepada asing,” pungkasnya.

Foto:

  • itb.ac.id

Artikel Terkait

Artikel Lainnya