Andalkan 20.000 sampah sandal jepit, ini potret instalasi seni unik di Bali

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Instalasi seni dari sampah sandal di Bali (instagram @liinaklauss)

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memanfaatkan sampah di lingkungan sekitar agar menjadi barang yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai tambah. Selain melakukan proses daur ulang, rupanya salah satu cara menarik yang belakangan banyak dilakukan oleh para aktivis yaitu dengan mengubahnya menjadi material untuk membentuk instalasi seni.

Hal seperti ini sebenarnya sudah sering dilakukan, salah satu yang sempat mencuri perhatian yaitu museum sampah plastik yang ada di Gresik, Jawa Timur. Namun belakangan, aksi serupa yang tak kalah menghasilkan instalasi seni mengagumkan terjadi di Bali.

Bukan sampah plastik, jenis yang digunakan adalah sampah sandal bekas yang dikumpulkan dari sejumlah sungai yang ada di Bali. Bukan berupa museum pula, seni yang dibuat digarap dalam bentuk menyusun sandal-sandal tersebut ke dalam sebuah kalimat yang membentang di jalan salah satu desa Pulau Bali, bertuliskan Make Art Not War.

Bagaiman proses penggarapan instalasi ini bisa berhasil?

1. Gunakan sebanyak 20.000 sandal bekas

Sampah sandal yang digunakan untuk instalasi seni di Bali (instagram @liinaklauss)

Menjadi project kolaborasi antara sebuah organisasi lingkungan bernama Sungai Watch dan seorang seniman asal Jerman yang memang sudah lama tinggal di Pulau Dewata yakni Lina Klaus, pembuatan seni tersebut diketahui menggunakan sebanyak 20.000 sandal bekas yang dikumpulkan oleh Sungai Watch selama tahun 2021 dari seluruh sungai yang ada di Bali.

  Kado lebaran untuk Sang Guru SD di lereng Gunung Semeru

Berlangsung pada hari Minggu (6/3/2022), dan berlokasi di Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Dari hasil instalasi yang disorot terlihat jika tulisan Make Art Not War membentang di sepanjang jalan pedesaan, yang membelah area persawahan di kedua bahu jalan tersebut.

Jika dilihat dari atas, tulisan tersebut nampak indah dengan perpaduan berbagai macam warna cerah mulai dari kuning, hijau, biru, oranye, hingga merah muda. Dari jauh, tak akan ada yang menduga jika tulisan tersebut nyatanya dibuat dari puluhan ribu sandal beraneka warna yang telah disusun sedemikian rupa.

2. Libatkan ratusan relawan

Proses instalasi seni sandal bekas di Bali (instagram @liinaklauss)

Sudah mencuri perhatian bahkan sejak awal rencana kampanye ini diumumkan, pada saat pemberitahuan jadwal pelaksanaan sejumlah masyarakat lokal khususnya yang berada di Pulau Bali banyak yang menanyakan mengenai cara untuk bergabung dan berpartisipasi dalam aksi tersebut.

Terbukti, pada saat hari pelaksanaan diketahui jika ada sebanyak lebih dari 100 relawan yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, dan dari berbagai kalangan serta usia ikut meramaikan aksi tersebut.

  Kolaborasi untuk Indonesia bersih dan lestari

“Saya ikut program bersih-bersih pantai di Bali dua minggu yang lalu. Karena ada kegiatan menjadikan limbah menjadi karya seni, jadi ikutan. Banyak volunteer dari berbagai lembaga yang saya kagumi juga,” tutur salah satu relawan bernama Dewi, mengutip Medcom.id.

Diketahui jika instalasi tersebut dibuat dalam waktu satu hari sejak pagi dan dibongkar pada waktu malam hari. Tak dimungkiri jika berikutnya pasti akan timbul pertanyaan mengenai kemana sampah sandal bekas itu kemudian berakhir?

Memberikan jaminan, baik pihak Sungai Watch atau Lina Klaus memastikan jika sandal-sandal tersebut akan kembali dikumpulkan baik untuk aksi instalasi seni berikutnya di tempat lain, atau disalurkan dengan aman kepada kelompok seniman dan beberapa organisasi yang bisa mengelola sampah tersebut menjadi barang yang kembali memiliki nilai.

3. Bukan kali pertama

Instalasi sampah sandal di Potato Head Club Bali oleh Lina Klaus (instagram@
liinaklauss)

Lina Klaus, seniman yang menggagas aksi instalasi seni ini sendiri diketahui sudah sering melakukan hal serupa. Upayanya melakukan aksi tersebut diklaim sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan baik sungai atau ekosistem lainnya.

  Sepenggal cerita relawan SalamAid bersama 5 anak yatim di Cianjur

Sebelumnya pada tahun 2018, Lina diketahui pernah membuat hal serupa pada salah satu destinasi kunjungan wisata populer di Bali yakni Potato Head beach Club, berupa instalasi seni berbentuk air laut bergelombang di bagian pintu masuk area tersebut.

Dalam penggarapannya kala itu, Lina menggunakan sebanyak 5.000 sandal jepit bekas yang dikumpulkan dalam kurun waktu tiga bulan dari hasil membersihkan sampah di wilayah pantai barat Bali.

“Yang ingin kita lakukan adalah berlomba mengurangi polusi laut dan plastik. Kami juga ingin menunjukan bahwa kreativitas dapat menyatukan orang-orang dan membuat kami berpikir tentang polusi dengan cara yang berbeda,” pungkas Lina.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya