Camping di alam, upaya tumbuhkan kepekaan dan rasa solidaritas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Cisadane Resik (Pejuang Waktu)

Pejuang Waktu kembali mengadakan kegiatan alam dengan melibatkan beberapa komunitas. Kali ini kegiatan Cisadane Resik Volume 11 bertemakan Hujan di Bulan Juni dengan beberapa kegiatan yang tidak hanya menanam pohon dan membersihkan sampah, namun juga camping. 

Kegiatan camping ini selain untuk memperkenalkan para peserta dengan alam, juga sekaligus refreshing setelah acara yang cukup padat beberapa waktu lalu. Para peserta pun diharapkan bisa saling berkolaborasi di alam, terutama dengan kawan-kawan lain yang baru saja ditemui. 

Lalu bagaimana cerita keseruan dari kegiatan Cisadane Resik ini? Dan apa pelajaran yang didapat setelah kegiatan camping ini? Berikut uraiannya:

1. Camping Cisadane Resik

Cisadane Resik (Pejuang Waktu)

Komunitas Pejuang Waktu kembali mengadakan kegiatan Cisadane Resik Volume 11 dengan tema Hujan di Bulan Juni. Berbeda dengan kegiatan yang biasa mereka lakukan seperti menanam pohon dan membersihkan sampah. Kali ini mereka juga mengadakan camping bersama para peserta dari beberapa komunitas. 

Kali ini mereka mengundang beberapa peserta dari OSIS SMA 1 Cijeruk, Komunitas Syair SMA 1 Cijeruk, Gunung Salak Organik, dan Hutan organik Megamendung. Totalnya peserta yang ikut kegiatan menanam mencapai 50 orang, namun yang terlibat dari mulai camping hanya 15 peserta. 

  Perhelatan COP27, antara mimpi dan pengharapan

Ketua Pelaksana Cisadane Resik Volume 11, Ferryansyah Mirabay menyebut kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari. Pada hari pertama para peserta diajarkan untuk membuat tenda ketika menghadapi bencana

Pada malam hari, para peserta saling beramah tamah agar bisa mengenal satu sama lain. Kemudian pada pagi harinya mereka akan melakukan penanaman bibit dan juga pembersihan sampah di sekitar sungai. 

“Kalau acara camping, tadi itu refreshing saja. Biasanya kan menanam bibit tanaman atau memungut sampah. Ini selingan aja, supaya engga bosen,” ucapnya.

2. Mengajarkan kepekaan

Cisadane Resik (Pejuang Waktu)

Ferry–sapaan akrabnya–mengatakan selain untuk refreshing, kegiatan camping ini bertujuan untuk saling mengakrabkan diri antar peserta satu dengan yang lainnya. Memang mayoritas peserta yang ikut dalam acara ini baru sekali mengikuti acara Cisadane Resik. 

Dalam penglihatannya, pada awal-awal banyak peserta yang masih malu-malu untuk berinteraksi satu dengan yang lain. Namun karena jumlah peserta yang tidak terlalu banyak, memudahkan untuk bisa saling terbuka satu dengan yang lain. 

Secara umum Pejuang Waktu berharap kegiatan camping ini juga bertujuan melatih kepekaan para peserta ketika di alam liar. Para peserta diharapkan bisa saling membantu dan berkolaborasi saat melakukan kegiatan. 

  Masuki Bulan Ramadan, SalamAid tebar kebaikan di 22 kota Indonesia

Walau baru pertama kali ikut dalam kegiatan lingkungan. Para peserta terlihat aktif dalam semua kegiatan yang diselenggarakan. Bahkan banyak peserta sudah bertanya mengenai acara selanjutnya yang akan diadakan. 

Selain itu, kegiatan Cisadane Resik tentunya tidak lengkap bila tidak ada penanaman bibit. Kali ini mereka juga melakukan penanaman bibit pohon. Kegiatan ini memang bertepatan dengan musim hujan sehingga bibit ini tidak akan kekeringan. 

3. Cara mendapatkan izin

Cisadane Resik vol 10 (Sutanandika/pejuang waktu)

Ketika harus melakukan kegiatan di alam, salah satu hal yang perlu ditempuh tentunya adalah izin dari orang tua. Apalagi para peserta yang masih tergolong anak pelajar dan masih awam dalam kegiatan alam. 

Hal inilah yang disadari para anggota Pejuang Waktu ketika akan mengadakan camping di alam. Sehingga panita perlu memutar otak agar para peserta bisa mendapatkan izin dari orang tua agar bisa mengikuti kegiatan. 

Tentunya setiap orang tua memiliki pandangan berbeda mengenai kegiatan di alam. Dirinya menyebut kepercayaan menjadi salah satu modal penting bagi komunitas ini agar bisa didukung oleh para orang tua. 

  Bukti kebangkitan penyintas gempa Pasaman

Selain itu tentunya adalah memberikan kenyaman kepada orang tua, seperti menyiapkan pengawas. Kemudian mengamankan para peserta bila tertinggal oleh rombongan, seperti langsung membawanya kembali ke rumah. 

Pejuang Waktu juga sering memberikan edukasi kepada orang tua bahwa pendidikan tidak hanya penting dari sisi akademis, namun juga lingkungan. Dari sisi ini, Anak-anak akan tumbuh karakter yang penting bagi dunia kerja nantinya. 

Praktik di lingkungan memunculkan kepekaan dan sikap-sikap penghayatan yang merupakan pendidikan karakter. Misalnya dalam pendidikan karakter berdasarkan pancasila kan ada tentang lingkungan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya