Inovasi para pejuang sungai di Bali dalam menangani sampah sungai

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Trash barrier/penghalang sampah) dari komunitas Sungai Watch (sungaiwatch.com)

River Warriors, begitu nama yang tersemat kepada sebanyak kurang lebih 55 orang yang diketahui tergabung, dan bekerja sama dalam sebuah komunitas lingkungan bernama Sungai Watch dengan basis lokasi di Pulau Bali.

Mungkin sudah tidak asing bagi kalangan pegiat di bidang terkait, Sungai Watch sendiri adalah sebuah komunitas lingkungan yang sesuai namanya memiliki tujuan untuk menjaga, memelihara, dan memperjuangkan kebersihan sungai yang untuk saat ini memang sedang lebih fokus mencurahkan perhatian di wilayah Pulau Dewata.

Berangkat dari permasalahan berupa fakta yang menyebut jika sekitar 80 persen sampah di lautan berasal dari sungai, kelompok ini berupaya untuk memberikan solusi terbaik dengan lebih memilih untuk memberantas keberadaan sampah terutama yang berjenis plastik langsung dari hulunya.

Menariknya, Sungai Watch sendiri ternyata didirikan oleh relawan asal Prancis yang merupakan tiga orang bersaudara bernama Garry, Kelly, dan Sam Bencheghib sejak tahun 2020. Sebelum menetap dan membangun orgnisasi terkait di Bali, mereka ternyata telah lebih dulu menjelajah dan melakukan berbagai aksi pembersihan pada sungai di sejumlah wilayah Pulau Jawa.

Teknologi sederhana penghalang sampah

Penghalang sampah yang dipasang di sungai (Dok. Sungai Watch)

Dengan berlandaskan prinsip dan pemahaman jika cara paling sederhana untuk membersihkan laut adalah dengan memulainya dari hulu, Sungai Watch yang diinisiasi oleh Bencheghib bersaudara akhirnya menghadirkan sebuah inovasi berupa trash barrier atau penghalang sampah yang terbukti efektif dalam pembersihan sungai.

  Miris, di beberapa tempat kambing terbiasa memakan sampah plastik

Secara sederhana, menurut para inisiator komunitas tersebut setiap aliran sungai baik besar atau kecil yang ada di Indonesia sejatinya harus memiliki penghalang pada titik-titik tertentu, agar setiap sampah yang terdapat di aliran sungai dapat terperangkap untuk selanjutnya ditindak dengan lebih mudah baik dengan cara pembersihan atau identifikasi penanganannya.

Dalam melancarkan upaya ini, Sungai Watch diketahui sudah memiliki kurang lebih sebanyak 55 orang relawan yang sebagian besar terdiri dari masyarakat lokal Bali. Jika menilik pada penjelasan di laman resminya, ke-55 orang tersebut memiliki perannya sendiri baik sebagai tim pembersih sungai harian atau tim sorting yang akan menindaklanjuti sampah hasil pembersihan.

Proses pembersihan harian dari penghalang sampah (Dok. Sungai Watch)

Melihat proses kerjanya, dari sejumlah penghalang sampah yang sudah dipasang pada titik-titik sungai tertentu, tim pembersih setiap harinya akan mengambil sekaligus mengumpulkan sampah yang berhasil terhalang.

Setelahnya, sampah tersebut akan melalui proses penyortiran untuk dianalisa serta ditelusuri sumbernya, penelusuran tersebut bertujuan untuk membuka diskusi seputar tanggung jawab dari produsen penghasil sampah terkait.

  Sepele tapi bermakna, memahami perbedaan daur ulang, daur naik, dan daur turun

Di samping itu, sampah yang sudah tersortir akan dicuci untuk digarap serta dipersiapkan menjadi material yang siap untuk diolah menjadi sebuah komoditas. Lebih jauh, terkait hal tersebut komunitas Sungai Watch diketahui masih melakukan berbagai eksperimen agar sampah-sampah tersebut dapat menjadi produk yang bernilai.

Dampak yang sudah dihasilkan

Audit sampah yang telah dikumpulkan (Dok. Sungai Watch)

Meski masih terbilang baru didirikan, namun per tahun 2021 atau lebih tepatnya selama 14 bulan sejak pemasangan penghalang sampah pertama mereka, Sungai Watch diketahui sudah berhasil memasang sebanyak 105 penghalang pada sejumlah sungai di Pulau Bali.

Lewat pemasangan tersebut, mereka mencatat sudah berhasil melakukan pembersihan terhadap sebanyak lebih dari 333 ribu kilogram sampah non-organik dan 393 ribu kilogram sampah organik.

Dari sampah-sampah tersebut, mereka telah mengaudit sebanyak 227.842 potongan jenis sampah yang selama ini mencemari sungai. Adapun maksud dari audit yang disebutkan adalah mereka berhasil mengidentifikasi produk plastik jenis apa saja yang paling mendominasi dalam pencemaran sungai dan dari perusahaan besar apa saja sampah-sampah tersebut berasal.

  Pertama di Asia, Indonesia punya pabrik batu bata sampah plastik di NTB

Berdasarkan laporan yang dipublikasi, terlihat jika jenis sampah yang paling mendominasi secara berurutan masih diisi oleh jajaran kantong plastik, bungkus kemasan produk, sandal plastik dan busa karet, botol plastik, dan lain sebagainya.

Hasil audit sampah sungai di Bali (Report Sungai Watch)

Selain itu, mereka juga berhasil mengidentifikasi 10 besar perusahaan asal produk yang menyumbang pencemaran paling besar pada sungai-sungai di Bali.

Jika dilihat secara keseluruhan, laporan pencemaran yang berhasil disuguhkan oleh komunitas tersebut sebagai hasil dari upaya pembersihan dengan inovasi penghalang sampah, dapat dikatakan sangat berarti dan bisa menjadi modal awal bagi pihak yang berkepentingan dalam menyikapi penyebaran sampah plastik yang ada di sungai jika ingin dilakukan dengan serius.

Sebagai catatan, upaya tersebut bahkan baru dilakukan di Pulau Bali. Bukan tidak mungkin jika fakta lapangan secara nyata akan diperoleh apabila aksi yang dilakukan oleh komunitas ini dapat meluas hingga ke wilayah lainnya di  tanah air.

Berangkat dari hal tersebut, Sungai Watch dengan yakin memiliki misi untuk memasang sebanyak 1.000 penghalang sungai pada tahun 2023, dan memasang penghalang di setiap sungai yang ada di Indonesia secara menyeluruh pada tahun 2025.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya