Kado lebaran untuk Sang Guru SD di lereng Gunung Semeru

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Luthfi Kurnia dan Martoyo | Luthfi Kurnia (SalamAid)
Pengabdian Martoyo (53) dalam bidang pendidikan tak perlu diragukan, 32 tahun sudah beliau dedikasikan dirinya menjadi seorang guru di kaki Gunung Semeru.
 
Diawali sebagai guru honorer hingga berpuluh tahun kemudian diangkat sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil). Suka duka sudah beliau alami selama menjadi guru,
 
“Tapi banyak sukanya mas. Apalagi kalau melihat murid-murid saya sukses dalam hidupnya” ujar Martoyo, pada relawan SalamAid.
 
Terkadang gaji minim tak dimungkiri menyulitkannya dalam mengajar, jika “minyak” (bensin) motor kosong, berjalan kaki harus dilakukannya agar anak-anak tetap belajar.
 
Saat Gunung Semeru meletus dan mengeluarkan awan panas guguran (APG), beliau sedang berada di rumah. Syukurlah rumahnya berada pada zona aman APG. Tapi tidak dengan sekolahnya SDN Supiturang 2 dan 3 di mana beliau mengabdi.
 
SDN Supiturang 3 habis terhantam APG, beberapa bangunan rusak akibat tak mampu menahan material vulkanik. Abu vulkanik yang sangat tebal memenuhi hampir seluruh area sekolah. Sudah bisa dipastikan SDN Supiturang 3 tak bisa di operasikan lagi.
 
Sebagai gantinya Pak Martoyo dan seluruh guru harus mengajar di sekolah darurat.
 
“Sementara ini di sekolah darurat dulu, belum tahu kapan kami bisa pindah ke sekolah baru yang dibuatkan di kawasan pemukiman Huntap (Hunian Tetap)” jelasnya.
 
Pak Martoyo dengan motor trailnya | Luthfi Kurnia (SalamAid)
 
Kini Pak Martoyo mengajar di dua SD sekaligus, dalam sehari beliau harus menempuh perjalanan hampir 50 km pulang-pergi (PP). Menyusuri kampung-kampung “mati” dampak letusan Semeru, serta melewati aliran sungai lahar dingin dengan motor semi trailnya.
 
Jika sedang hujan sungai itu tentu tak bisa di lalui. Kalau sudah begini Martoyo harus menginap di sekolah atau di rumah guru lainnya.
 
Hingga kini tercatat ada 7 orang guru yang mengabdi di SDN Supiturang 3, sama halnya dengan guru di SDN Supiturang 2, total ada 7 orang yang kesemuanya masih tenaga honorer.
 
“Gaji mereka tak seberapa, ada yang 250 ribu hingga 800 ribu dalam sebulan. Tapi mereka tetap mau mengajar, itu yang bikin saya salut,” ujar Martoyo.
 
Sahabat baik, di momen penuh kebaikan ini, bulan suci Ramadhan mengajarkan kita untuk memperbanyak sedekah. Saya mengajak sahabat baik semua untuk berbagi kebahagiaan kepada para guru dimanapun berada, khususnya mereka yang mengabdi di pelosok-pelosok Nusantara maupun di lokasi terpencil.
 
Jika ada yang berkenan untuk memberikan HADIAH LEBARAN kepada Pak Martoyo dan guru-guru lainnya bisa menghubungi narahubung SalamAid.
 
 
Ruang beajar sementara bagi sekolah yang terdampak abu pijar Semeru | Luthfi Kurnia (SalamAid)
  Longsor di wilayah Pasaman pasca gempa tak surutkan semangat guru relawan

Artikel Terkait

Artikel Lainnya