Kerja sama SalamAid dan IPB University untuk mendesain Sekolah Alam Tanggap Bencana di Pasaman, Sumatra Barat

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

IPB University melalui Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) siap berpartisipasi dalam merancang Sekolah Alam Pasaman yang tanggap bencana alam sebagai reaksi dari Bencana Alam Gempa Pasaman Sumatra Barat 2022.

Dalam upaya meningkatkan daya tahan masyarakat terhadap bencana alam, dosen dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB University merancang sistem tanggap bencana melalui desain lanskap Sekolah Alam Pasaman yang mengedepankan pengembangan masyarakat usia dini sebagai motor tanggap bencana di Kampung Aur, Desa Malampah, Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatra Barat.

Hal ini untuk membantu mitigasi dan resiliensi masyarakat terhadap bencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu.

Ketua Tim Dospulkam, Dewi Rezalini Anwar pada, Jumat (24/6/2022), mengatakan, “Sekolah Alam Aid menginisiasi Sekolah Alam di Pasaman Sumatera Barat pasca bencana gempa yang terjadi pada bulan Februari 2022 kemarin.” 

Sekolah alam adalah konsep pendidikan yang mengajak siswa untuk mendapatkan pengalaman melalui serangkaian kegiatan yang akan membuat siswa tumbuh dan kekuatan fisik, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual nya.

  Cara tim Qurban Traveler Nusantara merajut toleransi kebhinekaan di NTT

Tim Dosen Pulang Kampung akan membantu mewujudkan sekolah alam sebagai wadah belajar masyarakat yang tanggap bencana di Pasaman, Sumatera Barat dengan bekal keahlian dalam bidang desain lanskap.

“Timnya ada 4 orang, 3 dosen dan 1 mahasiswa dari Departemen Arsitektur Lanskap, Fakultas Pertanian, IPB University. Kita menargetkan dapat menghasilkan sebuah model desain yang tanggap bencana bagi masyarakat sekitar, khususnya tanggap bencana yang diajarkan kepada anak melalui sekolah alam,” tambah Dewi.

Pembelajaran di sekolah alam banyak dilaksanakan di ruang terbuka. Dengan mempelajari lingkungan sekitar, anak-anak akan dilatih manajemen bencana dan evakuasi, dengan metode belajar bersama. Lingkungan sekolah alam yang inklusi menyediakan tempat bagi siswa berkebutuhan khusus.

Berprinsip pendidikan bagi semua, sekolah alam percaya bahwa dengan menyatukan antara siswa biasa dan siswa berkebutuhan khusus, masing-masing pihak akan dapat saling belajar. Siswa berkebutuhan khusus akan mendapatkan spektrum normal, sementara siswa biasa akan lebih tumbuh rasa empatinya terhadap sesama.

“Kami akan berangkat minggu depan ke lokasi untuk mencari seluruh informasi yang dibutuhkan, melakukan inventarisasi, menemukan kendala dan potensi yang berfokus pada bencana alam-nya,” sambung Dewi. 

  Mengarungi jeram sambil membersihkan sampah sungai

Lain itu, semua pihak berharap diharapkan Program Dosen Pulang Kampung dan kerja sama dengan SalamAid ini bisa berjalan lancar dan dapat bermanfaat sebanyak-banyaknya bagi masyarakat Pasaman dan bisa ketempat yang lain juga.

Edukasi kebencanaan perlu diberikan bagi anak usia dini, agar mereka sigap ketika terjadi bencana alam yang sebelumnya sudah dibekali oleh pengetahuan jenis bencana dan cara mengatasinya. Edukasi kebencanaan kepada anak usia dini juga menjadi jaminan bahwa masyarakat dimasa depan dapat mengurangi dampak bencana.

“Sekolah alam memiliki banyak program yang meningkatkan kemampuan anak. Dan ada pula beberapa program SalamAid yang sejenis. Kami mengharapkan barangkali bisa terjadi sinergi antara IPB University dengan SalamAid,” pungkas Husnan, Ketua SalamAid Nusantara.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya