Peduli kelestarian cagar budaya, Komunitas Pejuang Waktu dan para relawan lakukan revitalisasi alun-alun Empang Bogor

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Komunitas Pejuang Waktu melalui program Cisadane Resik membersihkan alun-alun Empang, Kota bogor (dok. Pejuang Waktu)

Rabu (14/9/2022), komunitas Pejuang Waktu yang bekerja sama dengan beberapa relawan terkait di sekitaran Kota Bogor melakukan revitalisasi alun-alun Empang Bogor.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk kembali mengoptimalkan alun-alun Empang Bogor berfungsi sebagai taman kota, mengangkat nilai sejarah dan budaya, serta menjadikannya sarana umum yang layak untuk berbagai kegiatan.

Menyelaraskan tujuan-tujuan yang berdaya guna untuk waktu yang relatif berkesinambungan itu, maka komunitas Pejuang Waktu selain menggandeng komunitas relawan lain dan masyarakat setempat, juga melakukan interaksi bersama dengan Pemerintah Kota Bogor, Dinas Pendidikan bidang Sejarah, dan Habib Empang.

Mengangkat nilai sejarah dan peradaban

Kegiatan bersih alun-alun Empang, Kota Bogor (dok. Pejuang Waktu)

Kawasan Empang sebagai salah satu kampung atau pemukiman awal yang menjadi inti dari pertumbuhan Kota Bogor telah mengalami perubahan besar dan penggunaan lahan yang berbeda-beda sejak masa Kerajaan Pajajaran (1482-1579), masa Kolonial Belanda (1754-1945), dan masa Kemerdekaan (1945-sekarang).

Letak kawasan Empang yang strategis karena dekat dengan pusat kota Bogor menyebabkan kawasan ini dipengaruhi oleh perkembangan yang cepat baik secara fisik maupun non fisik.

Sebutan Empang muncul ketika Bupati Kampung Baru, yaitu Demang Wiranata (berkuasa 1749-1758) membuat kolam ikan di halaman pendopo. Maka, daerah tersebut identikkan dengan Empang. Dengan Wiranata patut diduga sama dengan tokoh yang disindir dalam sejarah tanam paksa di wilayah Parahyangan.

  Mengarungi jeram sambil membersihkan sampah sungai

Pada tahun 1815 di sekitar wilayah Empang dibangun Masjid An Nur oleh Habib Abdullah Bin Muhsin Alatas. Habib Abdullah Bin Mukhsin Alatas. Habib yang populer dengan nama Wali Qutub ini dipercayai untuk cucu keturunan ke-36 Nabi Muhammad SAW.

Sementara di samping alun-alun Empang di bangun Mesjid Attohiriyyah dibuat pada periode 1817 oleh Raden Muhammad Thohir dari Cikundul, Cianjur.

Kawasan Empang dipercaya sebelumnya bernama Sukahati1 Wilayah ini dulunya bernama Soekaati (Sukahati) dan menjadi pusat pemerintahan Kampung Baru (cikal bakal Kabupaten Bogor) tahun 1754, namun kemudian nama Sukahati perlahan-lahan lenyap.

Lapangan yang berfungsi sebagai alun-alun dan bekas pendopo yang sekarang didiami oleh keluarga almarhum Abdul Azis Al-Wahdi menjadi buktinya.

Domain publik sebagai cagar budaya

Alun-alun Empang,Bogor, sebagai cagar budaya (dok. Pejuang Waktu)

Penyelarasan dengan menggandeng berbagai pihak, seperti; SMP Al-Irsyad Bogor, Komunitas Trail Biadab Banten, WALHI Indonesia, dan Cabang Dinas Kehutanan Wil. 1 Jawa Barat, itu tentu memiliki tujuan yang jelas.

Tujuan itu yakni untuk memastikan status hukum tanah alun-alun Empang agar menjadi domain publik dengan status wakaf yang jelas dan pemanfaatan yang berpihak terhadap kepentingan warga Empang Bogor dan lembaga-lembaga yang terkait.

Selain itu juga untuk mengangkat pamor alun-alun Empang sebagai cagar budaya Kota Bogor yang bisa dijadikan kebanggaan masyarakat setempat.

  Pasca berakhirnya Kerajaan Pajajaran (Bagian 1): Penyebab runtuhnya Pakuan Pajajaran

Dari sekian spot taman yang dirapihkan dalam kegiatan tersebut, ada sebuah spot yang terabaikan. Spot yang dimaksud tentu sangat strategis, karena meliputi nilai sejarah modern Kota Bogor, sejarah perkembangan Islam, perkembangan perekonomian sampai dengan pusat wisata religi.

Sampah dan parkir liar yang membuat kumuh alun-alun Empang, Bogor (dok, Pejuang Waktu)

Spot tersebut yang saat ini terlihat, adalah:

  • Rumput liar memenuhi lapangan tersebut, sebagian cukup tinggi sampai dengan lebih dari 30 cm, sebagian kecilnya lahan tersebut gundul dan berdebu di saat kering.
  • Waktu-waktu tertentu lapangan tersebut menjadi penggembalaan kambing.
  • Parkir liar, Sebuah rumah sakit baru didirikan di depan alun-alun Empang, meski Rumah sakit memiliki fasilitas parkir, namun sepertinya sebagian orang enggan menggunakan lahan parkir yang disediakan oleh rumah sakit, sehingga parkiran di samping alun-alun membeludak. sampai saat ini parkiran pun sudah masuk ke badan alun-alun Empang.
  • Pujasera dadakan juga di bangun di depan alun-alun Empang yang tidak nampak kesan rapi dan berseni, apalagi bicara higienitas. Kadang terlihat beberapa pedagang membuang air limbah di dekat mereka berjualan.
  • Pedagang daging kambing, pada pagi hari di sisi lain alun-alun Empang ada beberapa lapak penjual daging kambing.
  • Pos Polisi, di sebuah sudut persimpangan jalan antara Jalan Pahlawan, dan Jalan menuju Ciapus Pancasan serta simpangan menuju Kebun Raya. Meski kehadiran Polisi di waktu-waktu tertentu memang sangat penting karena di lokasi itu terpantau sangat padat, namun masih ditemukan titik-titik di mana oknum sopir angkot mengetem sembarangan di situ, sehingga arus yang padat tersebut semakin tersendat.
  • Toko-toko Buku dan Kitab Islami Pendidikan dan budaya literasi sudah lama berlangsung di wilayah Empang, hal ini berlangsung bahkan jauh sebelum huruf latin dikenalkan dan produksi bacaaan buku beraksara latin digalakan oleh Pemerintah Belanda/VOC. Beragam Kitab dan buku Islami bisa didapatkan di sini.
  • Toko Oleh-oleh wisata religi.
  • Pedagang Bibit Ikan.
  Tim Qurban Traveler Nusantara SalamAid siap sambangi wilayah pelosok

Bagian dari program Cisadane Resik

Komunitas Pejuang Waktu melalui program Cisadane Resik membersihkan alun-alun Empang, Kota bogor (dok. Pejuang Waktu)

Kegiatan ini merupakan program reguler dari Cisadane Resik yang dilakukan oleh para relawan yang meliputi berbagai kegiatan yang berbasis atas kepedulian lingkungan.

Diharapkan dari kegiatan ini tumbuh dan timbul kesadaran masyarakat untuk terus menjaga wilayah yang bersinggungan dengan nilai budaya, sejarah, serta menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat.

Alun-alun Empang juga sejatinya menjadi tempat yang teduh, bermanfaat untuk publik yang dikelola secara teratur, serta bagian dari kebanggaan Kota Bogor sebagai warisan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya