Pokja RAN, dan harapan besar untuk konservasi mamalia laut di Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Paus (Istockphoto)
Paus bungkuk (Kerstin Meyer/Flickr)

Perairan Indonesia merupakan tempat hidup bagi jalur migrasi 35 spesies mamalia laut yaitu jenis duyung dan cecatea yaitu 21 jenis paus, 12 jenis lumba-lumba serta satu jenis pesut. Melihat hal ini menjadi sebuah keharusan bagi pemerintah agar memiliki hukum yang jelas untuk melindungi mamalia ini.

Pemerintah sendiri telah menetapkan semua jenis mamalia laut, yaitu paus, lumba-lumba, pesut dan dugaong yang ada di perairan Indonesia sebagai jenis satwa yang dilindungi. Hal ini melalui Peraturan Pemerintah (PP) No.7/1999 yang selanjutnya diubah dalam Peraturan Menteri (Permen) LHK No.20/2018 jo Permen LHK No.106/2018.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga telah menetapkan rencana aksi nasional (RAN) konservasi bagi semua jenis mamalia, melalui Kepmen KP No.79/2018 tentang Konservasi Mamalia Laut tahun 2018-2022. KKP juga telah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) untuk pelaksanaan RAN konservasi mamalia laut.

“Penetapan status perlindungan belum cukup, masih harus diikuti gerak langkah sinergis dalam upaya konservasi mamalia laut di Indonesia. Mengingat pelaksanaan rencana aksi jenis ikan terancam punah/dilindungi ini juga memerlukan dukungan dari Kementerian/Lembaga lain, KKP sebagai penanggung jawab utama pelaksanaan kegiatan, perlu bersinergi dengan pihak lain,” kata Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) KKP Aryo Hanggono yang dilansir dari Mongabay.

Lalu melihat program ini, siapa saja tim yang akan terlibat dan bagaimana pelaksanaan RAN konservasi ini berlangsung? Berdampak besarkah kepada kelestarian mamalia laut di Indonesia? berikut uraiannya:

  Tim Qurban Traveler Nusantara SalamAid siap sambangi wilayah pelosok

1. Keanggotaan dan program Pokja RAN

Lumba-Lumba (Pixabay)

Keanggotaan Pokja RAN Konservasi Mamalia Laut berisi dari stakeholder lintar sektor baik pemerintah maupun non pemerintah. Pokja ini memiliki masa kerja mulai dari 4 Februari – 31 Desember 2020. Anggotanya tercatat sebanyak 47 stakeholder, antara lain Kementerian KKP, Polri, Basarnas, LIPI dan lain-lain. Sedangkan dari lembaga non pemerintah ada WWF Indonesia, WCS Indonesia, dan lain-lain.

Pokja RAN Mamalia Laut diharapakan bisa menjadi model atau prototipe bagi RAN jenis ikan dan biota laut yang terancam punah lainnya yang belum ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan seperti, sidat, bambu laut, napoleon, kuda laut, teripang, pari manta, penyu, lola, kima, hiu pari, ikan capungan baggai (BFC), karang, dan hiu paus.

Direktur Konservasi dan Kenekaragaman Hayati Laut Ditjen PLR KKP, Andi Rusandi mengatakan ada enam isu dan tantangan pengelolaan mamalia laut, yaitu perairan Indonesia merupakan jalur migrasi mamalia laut, fenomena kejadian terdampar tinggi, penyebab kejadian terdampar dan terperangkap masih belum pasti.

  Cerita komunitas pelestari Gunung Salak menjaga alam berbasis kearifan lokal

Lalu pengendalian pemanfaatan mamalia laut, masih minimnya pengetahuan tentang penanganan mamalia laut terdampar dan belum terbentuknya jejaring penanganan terdampar. Andi menyebut dokumen ini nantinya bisa menjadi referensi bagi setiap unit dalam pelaksanaan konservasi jenis ikan.

2. Butuh dukungan bersama

Ilustrasi laut (Relawan untuk orang dan alam)

Anggota Indonesia Aquatik Megafauna Flying Veterinary (IAM Flying Vet) Dwi Suprapti meminta KKP sebagai Ketua Pokja RAN Mamalia Laut memberikan dukungan berupa legalitas kerja kepada IAM Flying Vet  dalam membantu penanganan medis mamalia laut yang terdampar di pesisir Indonesia.

Selain adanya legalitas, mereka juga berharap adanya dukungan fasilitas dan operasional kegiatan karena mereka bekerja secara sukarela.  Apalagi kegiatan investigasi untuk menentukan penyebab kematian satwa laut yang terdampar seperti uji laboratorium butuh biaya yang tidak murah.

“Seperti kasus penyu yang terdampar mati akibat tarball di Kalbar atau dugong yang diduga keracunan di Bali harus dilakukan uji lab,” katanya pada 2020 silam.

Selain itu, dukungan dana operasional diperlukan untuk perawatan seperti fasilitas pusat rehabilitas dan obat-obatan bila mamalia laut terdampar dalam kondisi sakit atau masih hidup. Hal yang paling penting bagi mereka adalah RAN Mamalia Laut bisa bekerja secara sinergis dan kolaboratif.

  Upaya pelestarian lingkungan melalui pendekatan kultur dan budaya

3. Program edukasi konservasi

Pesut mahakam (Correcto)

Pendiri dan peneliti dari Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb mengatakan ada banyak yang terungkap dalam acara sosialisasi Pokjan RAN Mamalia Laut. Misalnya program edukasi konservasi, isu bycatch dan mamalia laut terdampar, perlunya pelatihan dan kordinasi, sampai masalah pembiayaan.

Pada kesempatan itu Danielle menyinggung masalah sampah di lautan yang menjadi penyebab terdampar dan matinya mamalia laut. Menurutnya dengan hispatologi, peneliti bisa mengetahui penyebabnya. Karena kondisi sampah menjadi indikator laut, termasuk misalnya pesut mahakam yang menjadi indikator kesehatan sungai di Mahakam.

Yayasan RASI mempunyai program edukasi konservasi pesut di Kalimantana Barat. Selain itu mereka juga mendorong kampanye kerajinan ke masyarakat, termasuk dengan sampah dan perikanan yang lebih lestari. Adanya Pokja ini diharapkan akan lebih jelas peran dari stakeholder.

Foto:

  • Pixabay
  • Istockphoto
  • Relawan untuk orang dan alam
  • Correcto

Artikel Terkait

Artikel Lainnya