SalamAid layani antar jemput vaksin untuk kalangan difabel

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Relawan SalamAid | SalamAid

Keterbatasan fisik kalangan difabel untuk bisa menjangkau ke sentra vaksin yang ada di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor, menjadi perhatian relawan yang tergabung dalam lembaga kemanusiaan, Salam Aid.

Program Jemput Sahabat Difabel yang diprakarsai oleh Salam Aid Nusantara ini merupakan permintaan masyarakat, karena sejatinya Salam Aid merupakan lembaga sosial kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat yang ada di Kota Bogor.

Menurut Wahyu Febriyanto, salah satu relawan ambulan Salam Aid yang bertugas menjemput para kalangan difabel, program ini sudah berlangsung sejak program vaksinasi dari pemerintah digencarkan. Mereka, sambung Botel–sapaan Wahyu–ingin kalangan difabel juga merasakan manfaat dari program pemerintah tersebut.

Tim relawan Salam Aid pun siap sedia selama 24 jam sehari dan 7 hari sepekan. Lain itu, Salam Aid jga melayani keadaan darurat lainnya.

2 tim disiapkan secara reguler

Untuk menjalankan program secara lancar dan berkesinambungan, sekiranya ada 2 tim yang bertugas untuk antar jemput kalangan difabel dari rumah mereka di Bantarjati dan Tegal Lega Bogor Utara ke sentra vaksin di Puskesmas Tegal Gundil.

  Masuki Bulan Ramadan, SalamAid tebar kebaikan di 22 kota Indonesia

Sebagai relawan, Botel merasa terpanggil untuk bisa membantu kalangan difabel, dan ia sudah banyak membantu antar jemput dari rumah warga difabel ke Puskesmas Tegal Gundil.

Relawan yang sehari-hari bekerja di salah satu bengkel motor di daerah Kendunghalang ini, bersama co-drivernya yaitu Fahmi, tidak hanya melakukan antar jemput saja, tetapi membujuk kalangan difabel yang mau divaksin.

SEjatinya, layanan ini tak hanya untuk para kalangan difabel, tapi juga untuk kalangan khusus, seperti yang memiliki gangguan mental, sehingga harus dibujuk lebih dulu ketika mau dibawa ke mobil untuk ikut vaksinasi.

“Ada satu orang yang nggak mau naik mobil, padahal sudah mau dibujuk jadi dibawa menggunakan motor. Jadi kita biasanya sudah mulai jemput jam 7 pagi, tapi baru bisa bergerak jam 9 ke Puskesmas karena kadang harus membujuk dulu,” kenang Botel.

Belajar dari pengalaman, untuk membawa sahabat difabel ke sentra vaksin memang tidak mudah, kemudian layanan vaksinasi untuk sahabat difabel pun dirubah menjadi layanan home care atau layanan yang datang ke rumah. Relawan dan ambulans tetap berkontribusi menjemput nakes dari puskesmas menuju rumah-rumah kalangan difabel.

  Kehangatan program ''Kampuang Ramadhan'' di lokasi bencana gempa Pasaman

Foto:

  • SalamAid

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya