3 cara memasak tanpa minyak ala masyarakat tradisional Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Barapen (♪ ~/Flickr)

Permasalahan langka hingga mahalnya minyak goreng masih belum menemukan titik terang sampai saat ini. Kebanyakan masyarakat bingung karena tidak memiliki pilihan untuk mengolah makanan sehari-hari yang biasa dibuat dengan cara digoreng.

Namun lain di perkotaan, maka lain pula kondisi yang berlaku bagi masyarakat tradisional yang tinggal pedalaman. Nyatanya bagi beberapa kelompok tertentu, kondisi langka atau mahalnya minyak goreng sama sekali tidak berpengaruh bagi mereka.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Jawabannya adalah karena tradisi kental yang masih dijalankan sampai saat ini. Bukan hanya pakaian atau bahasa, adat tradisional yang tetap dilestarikan dalam mengolah makanan membuat mereka bisa bertahan, meski tanpa minyak goreng sekalipun.

Seperti yang bisa diduga, semuanya bisa terjadi karena mereka tetap bergantung dan mengandalkan keistimewaan alam.

1. Barapen dari tanah Papua

Barapen Papua (alfianwidi/flickr)

Cara memasak pertama yang tidak mengandalkan minyak sama sekali datang dari tanah Papua, melalui tradisi Barapen. Mengutip penjelasan Budaya Kemdikbud, barapen memiliki arti bakar batu. Dalam artian lebih luas, kebiasaan ini juga biasa dikenal sebagai tradisi pesta bakar batu.

  Jejak jembatan akar yang ikonik di Sumatra Barat

Biasanya, batu yang digunakan adalah batu kali yang disusun dengan rapi. Pertama-tema, masyarakat pedalaman Papua membuat lubang di tanah yang berfungsi sebagai wadah untuk proses memasak. Kemudian, batu-batu kali yang dimaksud akan dilapisi dengan daun setelah disusun dengan rapi.

Baru di atasnya, akan disusun berbagai macam jenis bahan pangan seperti ubi, pisang, keladi, dan daging-dagingan. Setelah itu sejumlah bahan makanan tersebut ditutupi dengan daun, dan ditimpa lagi dengan sisa batu.

Susunan batu tersebut kemudian dibakar, dan panas yang tercipta secara alami akan mematangkan ragam makanan yang ada di dalamnya.

2. Rimo bambu ala Maluku

Ilustrasi Rimo (ZafIsmail/Flickr)

Di Maluku tepatnya wilayah Jailolo, Maluku Utara, juga masih hidup tradisi memasak tradisional tanpa minyak dengan mengandalkan bambu, yakni Rimo.

Memang memasak dengan menggunakan bambu sebagai media atau wadah pembakaran sendiri sebenarnya banyak ditemui di daerah lainnya. Namun, Rimo dari Maluku terasa berbeda karena memiliki ciri khasnya tersendiri. Yakni tidak menggunakan air sama sekali seperti yang kerap dilakukan di wilayah lain. Dan jenis bambu yang digunakan tidak boleh terlalu tua atau terlalu muda.

  Tura jaji, ikatan persahabatan abadi masyarakat Flores saat hadapi bencana alam

Bicara lebih detail mengenai caranya, bambu yang akan digunakan terlebih dulu dipotong menjadi potongan yang lebih kecil. Kemudian, semua bahan masakan dan bumbu dimasukkan ke dalam lubang bambu.

Adapun jenis bahan yang biasa digunakan umumnya terdiri dari ikan, daging, pisang, umbi-umbian dan sayur-sayuran. Untuk bumbunya sendiri terdiri dari lada, pala, cabai, dan bawang yang biasanya diambil langsung dari kebun.

Setelah semua bahan masuk ke dalam bambu, bagian atasnya ditutupi dengan daun serai dan daun pisang, kemudian dibakar. Apabila sudah matang, bambu kemudian dibelah menjadi dua bagian dan fungsinya langsung terpakai menjadi wadah atau piring sekaligus.

3. Fermentasi Naniura dan Pecco tanpa minyak goreng

Naniura (Wikimedia Commons)

Bukan dengan pembakaran batu atau bambu, metode satu ini terbilang unik karena muncul proses layaknya ‘memasak tanpa dimasak’. Apa maksudnya?

Di jepang, masyarakatnya banyak yang memakan hidangan ikan mentah atau biasa disebut sashimi. Ternyata di Indonesia, cara tersebut sudah ada sejak lama secara tradisional dengan sedikit perbedaan. Yang dimaksud mentah seutuhnya kurang tepat, karena pengolahan bahan berupa ikan-ikanan justru matang karena adanya proses fermentasi, atau terjadi secara kimiawi.

  4 kawasan konservasi perairan di wilayah Maluku

Setidaknya ada dua santapan yang dibuat dengan cara tersebut, yakni Pecco dari Sulawei Selatan, dan Naniura dari wilayah Toba Samosir, Sumatra Utara. Ragam jenis ikan diolah dengan cara dicampur dengan berbagai bumbu masak seperti pada umumnya setelah dicuci bersih.

Yang membuat ikan bisa matang namun bertekstur basah datang dari campuran jeruk nipis dan cuka, sehingga terjadi proses kimiawi berupa fermentasi. Dan yang perlu digaris bawahi, cara ini jelas sama sekali tidak mengandalkan minyak.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya