5 desa di Indonesia yang manfaatkan energi bersih biogas

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilusttasi jalur pedesaan (Kate Anderson/Flickr)

Realisasi untuk mewujudkan transisi energi bersih secara merata di Indonesia memang masih membutuhkan upaya besar. Tidak hanya dalam skala besar seperti pembangunan PLT berbasis EBT, transisi dalam skala kecil juga perlu dilakukan, lebih tepatnya dari masyarakat di tingkat desa.

Lebih detail, transisi energi bersih yang dimaksud bahkan bisa dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, dan identik dengan ciri khas desa itu sendiri, yakni peternakan. Dengan memanfaatkan kotoran dari hewan ternak, masyarakat desa memiliki potensi energi alternatif berupa biogas.

Beruntungnya, potensi tersebut sudah terealisasi secara nyata pada beberapa wilayah. Di mana biogas telah diandalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan menggantikan peran gas yang selama ini diambil dari bumi.

Yang mengagumkan, praktiknya ternyata sudah berlangsung sejak lama bahkan selama bertahun-tahun. Desa apa saja yang dimaksud? Berikut daftarnya:

1. Desa Cabbeng Bone

Sumur penampungan kotoran ternak untuk biogas di Desa Cabbeng Bone (Justang/Tribun Makassar)

Berada di Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, desa seluas 6,8 kilometer ini rupanya sudah memanfaatkan biogas sejak 2013. Disebutkan jika pada desa tersebut terdapat sebanyak 30 alat pengolah limbah kotoran ternak yang digunakan untuk menghasilkan biogas.

  PLN Bangun PLTG dan PLTS di Bali, berkelanjutan atau hanya karena euforia G20?

Mengutip Tribun Makassar, meski hanya dengan dua ternak sapi yang ada namun hasil biogasnya bisa memenuhi kebutuhan memasak warga selama 8 jam setiap harinya. Lain itu, keuntungan pengelolahan biogas selain menghasilkan energi juga dapat memenuhi kebutuhan pupuk petani setempat.

2. Desa Penyabangan

Instalasi biogas ternak di Bali (via desapedia.id)

Tak kalah dengan Sulawesi Selatan, hal serupa juga ditemui di Desa Penyabangan yang berlokasi di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Di desa ini tercatat jika sedikitnya ada 44 rumah warga yang memanfaatkan peran biogas.

Menjadi kabar baik, karena sebelum beralih ke biogas mereka diketahui masih memanfaatkan kayu bakar untuk keperluan memasak. Rupanya, kesadaran untuk membangun biogas ini sendiri sudah berjalan sejak tahun 2011.

Lebih detail, Sebagian besar keluarga petani di desa tersebut memelihara hewan ternak, seperti sapi, ayam, maupun babi. Kotoran dari hewan ternak tersebut lah yang kemudian diproses sebagai sumber energi biogas.

3. Desa Argosari

Praktik biogas di Desa Argosari (desapedia.id)

Di pulau Jawa, praktik serupa juga dapat ditemui di Desa Argosari yang berada di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Berkat adanya biogas, kini pola pikir masyarakat desa tersebut lebih terbuka akan pelestarian lingkungan.

  Ketika Suku Laut tidak bisa lagi melaut, mengapa?

Mereka mulai menghentingkan aktivitas penebangan pohon yang biasanya dilakukan untuk dijadikan kayu bakar. Sebaliknya, karena sudah tidak lagi mencari kayu mereka justru menanami kebun dengan aneka tanaman keras. Khususnya tanaman yang dapat menyimpan cadangan air dalam tanah.

Dampak positif sampingan yang tak kalah penting dari peralihan tersebut, kini debit air sungai di desa mulai terjaga. Dan Argosari dikenal sebagai salah satu desa yang menerapkan prinsip mandiri energi dan air.

4. Desa Medowo

Masih di Jawa Timur, praktik energi bersih serupa juga dapat ditemui di Desa Medowo yang berada di Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. Mengutip penjelasan BBPT, Desa Medowo pasalnya merupakan salah satu daerah sentra peternakan sapi perah.

Lebih detail, hampir 80 persen penduduk desa tersebut adalah peternak sapi. Di saat bersamaan, besarnya jumlah peternakan sapi menimbulkan limbah kotoran yang jika tidak dimanfaatkan menimbulkan banyak permasalahan. Salah satunya pencemaran air sungai dan saluran irigasi.

Karena itu, sejak tahun 2016 akhirnya program pembuatan instalasi biogas dimulai di desa ini. Hasilnya setelah masyarakat desa menggunakan biogas, pencemaran air sungai di desa tersebut dapat ditekan hingga 90 persen.

  Budaya uma lengge, filosofi menyimpan bahan pangan Suku Mbojo agar tidak serakah

5. Energi bersih di Pasuruan

Ada sebanyak empat desa di Pasuruan yang masyarakatnya disebut sudah hampir 100 persen memanfaatkan biogas untuk kegiatan masak-memasak. Biogas tersebut berperan dalam menggantikan elpiji dan kayu bakar.

Adapun keempat desa yang dimaksud terdiri dari Desa Gunung Sari, Ngempring, Cemoro, dan Kumbo, yang berada di Kecamatan Tutur. Lebih detail, di Kecamatan tersebut tercatat ada sebanyak 1.350 unit reaktor biogas yang bisa menyalurkan energi ke sebanyak 1.450 kepala keluarga.

Berdasarkan keterangan di laman resmi Pemkab Pasuruan, menurut keterangan warga penghematan dari penggunaan biogas setiap bulannya bisa mencapai Rp350 ribu hingga Rp450 ribu.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya