Belajar bersyukur dan tak serakah saat melaut ala Suku Sekak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Suku Sekak (Yant Yanto/Flickr)

Hanya segelintir orang yang mengetahui bahwa orang Sekak adalah salah satu dari tiga kelompok besar suku laut di Asia Tenggara. Suku ini hidup di perairan Kepulauan Bangka dan Belitung dan terkenal sebagai pemandu perairan, penyelam, dan nelayan.

Suku Sekak juga dikenal sebagai suku yang sangat menghormati laut dan tak serakah. Dalam kehidupan di laut, mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan untuk makan satu hari dan menolak menggunakan jala.

Lalu bagaimana kisah kehidupan Suku Sekak selama ini? Dan apakah kehidupan di laut masih relevan untuk mereka? Berikut uraiannya.

1. Suku Sekak di laut

Orang laut (budak/Flickr)

Orang Sekak adalah salah satu dari tiga kelompok besar suku laut di Asia Tenggara. Suku ini hidup di perairan Kepulauan Bangka dan Belitung dan terkenal sebagai pemandu perairan, penyelam, dan nelayan.

Suku Sekak juga dikenal sebagai suku yang sangat menghormati laut dan tak serakah. Dalam kehidupan di laut, mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan untuk makan satu hari dan menolak menggunakan jala.

Selain sebagai juru seberang, mayoritas orang Sekak juga menjadi nelayan. Meski bisa melaut lebih dari sepekan. Mereka bukan nelayan dengan alat modern, tetapi hanya menggunakan pancing, bubu atau perangkap ikan dari bambu.

Kedua jenis alat itu selama berabad-abad sudah dikenal orang-orang di berbagai pelosok Nusantara. Tetapi orang Sekak baru menggunakannya di penghujung tahun 1970 an. Sebelumnya mereka hanya kenal tombak atau menyelam ke dasar laut.

  Cerita pohon nyatoh, tanaman identitas Bangka Belitung yang kini terlupakan

“Mereka suku yang menghormati laut dan tak serakah. Mereka hanya ambil apa yang dibutuhkan untuk makan satu hari. Untuk makan besok, akan dicari besok lagi,” ujar antropolog maritim dari Universitas Tokyo, Akifumi Iwabuchi yang dimuat dari Tanah Air: Sekak, Orang Laut dari Bangka Belitung terbitan Kompas.

Suku Sekak menggunakan jala, hal ini karena dikhawatirkan akan mengangkut makhluk hidup laut lainnya yang bukan sasaran tangkap. Cara seperti ini tidak sesuai dengan falsafah, hidup secukupnya, ambil seperlunya.

Falsafah itu dianggap sesuai jika menangkap ikan dan teripang dengan tangan atau tombak. Tangkap teripang dengan tangan, tangkap ikan dengan tombak. Penggunaan tombak untuk memastikan hanya ikan sasaran yang terkena.

2. Musim pancing

Suku Laut (The Humanity forum/Flickr)

Supaya menghindari kerusakan ekosistem dan mempertahankan falsafah, Suku Sekak membuat bubu yang memungkinkan ikan kecil tetap lolos dari perangkap. Sementara ikan-ikan besar ditangkap.

“Bubu ditaruh di dasar laut. Saat meletakkan atau mengambil hasil bubu, kami menyelam. Dulu hanya bermodal kacamata kecil dan tahan napas sekarang sudah ada kacamata besar dan udara dari mesin,” ujar Wak Jen (74), sesepuh Sekak.

Tetapi Suku Sekak juga tidak sepanjang tahun mencari ikan. Hanya selama September hingga Januari biasanya mereka memancing. Ketika itu arus kencang dan kondisi pesisir juga relatif keruh.

  Inikah potret desa tertua di Indonesia?

“Ikan tidak bisa lihat jelas umpan pancing, jadi dimakan saja,” ujar Sumardi.

Sementara itu selama Februari-Agustus jadi masa mencari teripang. Ikan dan teripang dicari hanya di pesisir. Orang Sekak juga tidak melaut sampai jauh ke tengah laut. Hal ini karena memori masa lalu Orang Sekak yang merupakan keturunan bajak laut.

Apalagi sampai pertengahan 1980 an, orang Sekak hanya mengenal kolek sebagai sarana transportasi. Kolek adalah perahu yang terbuat dari kayu tanpa layar atau mesin. Perahu itu sekaligus jadi tempat tinggal setiap saat bagi orang Sekak.

Namun hampir semua kolek musnah sejak adanya kebijakan hidup di darat pada pengujung dekade 1980 an. Dengan alasan untuk memudahkan bantuan, orang Sekak dibuatkan rumah di darat.

“Sekarang sebagian mereka menghabiskan hidup di darat,” ujar Naskah, pemuda keturunan Sekak di Kampung Juru Seberang.

3. Falsafah yang punah

Suku laut (warlock14/Flickr)

Orang Sekak memang makin kehilangan identitas sebagai orang laut. Kehilangan itu semakin menjadi setelah adanya kebijakan pemerintah yang mewajibkan masyarakat tersebut tinggal di darat.

Padahal dahulunya orang Sekak tinggal di perahu yang disebut kolek. Perahu yang rata-rata selebar 2 meter dan panjang 10 meter itu adalah rumah bagi keluarga orang Sekak. Tetapi kini telah puluhan tahun orang Sekak tidak lagi melihat kolek.

  Mayoritas petani berusia di atas 40, ancaman kedaulatan pangan?

“Sebelum tinggal di parak (rumah panggung) seperti sekarang, saya tinggal di kolek. Rasanya sudah lebih dari 20 tahun saya tidak pernah melihat kolek,” ujar Wak Jem.

Dengan kolek biasanya mereka hanya sesekali ke darat. Biasanya untuk mencari air tawar jika lama tidak hujan. Untuk makanan, mereka bisa menyantap apa saja yang didapatkan dari laut.

Setelah kebijakan tinggal di darat, orang Sekak perlahan mengganti kolek dengan perahu bermesin. Dengan perahu mesin, waktu berada di laut lebih singkat. Tak ada lagi orang Sekak yang melaut selama berbulan-bulan.

“Ayah melaut sepekan sampai 10 hari, lalu pulang,” terang Naskah.

Mereka kini tidak lagi melaut secara subsisten atau hanya mencari kebutuhan satu hari. Orang Sekak sudah hidup layaknya orang darat yang menginginkan sepeda motor baru, televisi baru dan rumah besar.

Ketika hasil laut tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan itu, kini mereka mulai banting setir untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Banyak orang Sekak yang memilih bekerja di tambang timah ilegal.

“Pekerjaan yang bertentangan dengan falsafah hidup masyarakat Sekak yang bersahabat dengan alam. Padahal falsafah itu yang dipegang teguh orang Sekak selama ratusan tahun, sejak nenek moyang mereka,” pungkas Kris Razianto Mada dalam Tanah Air: Suku Sekak yang Terancam Punah dari Litbang Kompas.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya