Budaya masyarakat Using menolak penyakit melalui pelestarian kesenian

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Barong Kemiren (liza edy/Flickr)

Barong bagi masyarakat Using di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur tidak sekadar bentuk kesenian Barong merupakan simbol, bagaimana masyarakat Using menjalani hidup keseharian mereka.

Barong Kemiren juga dipercaya sebagai penangkal dari berbagai penyakit atau pagebluk. Bahkan ketika pandemi Covid-19 sedang tinggi-tingginya, kesenian barong masih dilaksanakan oleh masyarakat.

Lalu bagaimana kesenian Barong Kemiren ini lahir? Dan apa makna dari kesenian itu bagi masyarakat Using? Berikut uraiannya:

1. Kesenian Barong

Barong (Erik Fadli/Flickr)

Masyarakat Desa Kemiren rela berjubel untuk melihat rombongan pengantin Using yang diarak sepanjang 1,5 kilometer mulai dari balai desa hingga ke rumah mempelai wanita. Salah satu hiburan yang ditunggu adalah kesenian barong.

Barong dimainkan masyarakat adat Using setiap ada upacara sakral, seperti sedekah bumi, pernikahan, atau perayaan panen. Masyarakat Using hingga sekarang percaya bahwa barong sebagai penolak bala.

Pendiri sanggar Barong Sapu Jagad, Sucipto (52) menjelaskan bahwa munculnya kesenian Barong Kemiren di masyarakat Using dimulai dari wabah pagebluk yang menyerang Kemiren pada ratusan tahun silam.

“Orang yang terserang penyakit pagebluk akan meninggal dalam waktu yang cepat. Bila terserang penyakit pada pagi hari, sore harinya penderita akan meninggal,” kata Sucipto dalam tulisan Angger Putranto pada Tanah Air: Barong Kemiren, Bukan Cerita Kemarin.

Sucipto mengisahkan pada saat itu keresahan melanda warga, banyak di antara mereka yang putus asa karena keluarganya terkena penyakit dan tak tertolong. Sampai suatu ketika Ki Buyut Cili, sesepuh Kemiren, mendapat wangsit dalam tidurnya.

  4 pilihan destinasi agrowisata populer untuk edukasi keluarga

Dia diminta mencari kayu pulai (Alstonia scholaris) sepanjang dua jengkal atau sekitar 60 sentimeter. Kayu itu harus dia masukkan ke sumur. Tetapi meski telah dilakukan, pagebluk tak kunjung hilang.

Setelah itu sesepuh tersebut mendapatkan sebuah wangsit. Dia diminta untuk memahat kayu pulai menjadi topeng. Dipercaya saat topeng itu sedang dibuat, ada kekuatan lain yang menggerakkan tangan Buyut Cili.

“Dari kayu itu tercipta kepala barong dan macan. Setelah kedua topeng tercipta pagebluk hilang,” tuturnya.

2. Kearifan leluhur

Barong kemiren (Nindarositadevi/Instagram)

Sucipto menjelaskan para leluhur mewariskan ajaran kearifan dalam perwujudan barong. Ajaran tersebut kini menjadi pegangan hidup masyarakat Using di Kemiren. Salah satu contohnya warna barong yang merupakan perlambang doa dan harapan.

“Barong memiliki warna merah, putih, hijau, kuning, dan hitam. Merah artinya berani, putih artinya bersih dalam mengendalikan hati. Hijau artinya kesuburan, hitam artinya kelanggengan, dan kuning artinya kesetiaan. Ini adalah nilai-nilai yang diharapkan ada di warga Kemiren,” tutur Sucipto.

Dirinya melanjutkan bahwa barong juga bisa membuka mulutnya. Hal ini dijelaskannya bukan menandakan dia sedang lapar, melainkan siap mencari makan untuk keturunannya, bukan untuk dirinya sendiri.

  Dilema masyarakat Kampung Waimon ingin kelola potensi desa secara mandiri

Adapun dua pasang sayap melambangkan sepasang laki-laki dan perempuan. Ajaran tentang nilai juga tergambar dalam wujud barong. Kumis, kata Sucipto, dalam bahasa Jawa disebut brengos yang mengandung pesan kalau ditanya jangan mlengos (menoleh).

Sementara itu di kepala, jelasnya, barong juga mempunyai tanduk atau biasa disebut sungut. Hal ini bermakna bahwa orang Kemiren tidak boleh mbesengut (cemberut) saat menemani tamu.

Menurutnya, makna-makna itu diwariskan secara turun-temurun bersama dengan topeng barong. Sucipto merupakan generasi keenam penerus Barong Kemiren. Disebutnya Barong Kemiren yang diciptakan Mbah Buyut Cili ratusan tahun lalu masih ada di rumahnya.

Disebutkannya rata-rata satu generasi mengemban tugas menjaga barong dan melestarikan budaya barong selama 40-50 tahun. Bila diakumulasi, umur kepala barong yang diwariskan turun-temurun itu berumur 200 tahun lebih.

3. Menjaga warisan

Barong Kemiren (liza edy/Flickr)

Disebutkannya agar bisa mempertahankan kesenian Barong Kemiren tidak berjalan mudah. Ahli waris perlu merawat baik warisan leluhur secara fisik dan juga nilai. Beberapa kali kepala barong warisan itu harus diperbaiki.

  Kisah Sekapuk, desa yang dahulu miskin sekarang jadi desa miliarder

“Saat ini tidak mudah mencari kayu pulai, padahal kayu itu bahan utama,” tutur Sucipto.

Dia mengatakan saat ini pembuat topeng barong memang sudah banyak tersebar. Tetapi pembuatnya sudah tidak menggunakan kayu pulai sebagai bahan pembuatan topeng barong karena kesulitan mendapatkannya.

Selain itu tantangan yang lebih nyata adalah mempertahankan nilai-nilai kearifan yang disimbolkan dalam barong. Dari sisi berkesenian, Sucipto dan masyarakat Kemiren terus mempertahankan kesenian yang menjadi salah satu nilai.

Beruntung animo generasi muda dalam melestarikan barong masih ada. Mayoritas pemain barong kini anak-anak dan para remaja. Salah satu contohnya adalah Adhi yang sejak sekolah dasar (SD) telah ikut sanggar barong.

“Saya tertarik karena melihat teman-teman bisa tampil dengan kostum barong. Kelihatannya seru bisa memainkan barong. Di Kemiren, kalau tidak main barong tidak gaul,” kelakarnya.

Kekayaan berkesenian itu pula yang kini menghidupi warga. Kini, kesenian barong menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Kemunculannya di hari-hari tertentu selalu dinantikan, karena Barong Kemiren merupakan cerita masa yang akan datang.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya