Desa Penangkalan dan kisah petani perempuan sebagai pejuang pangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Maisa petani (instagram @krips21)

Petani perempuan di Desa Penangkalan, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat giat menggarap lahan pertanian mereka untuk ditanami padi. Di desa ini, geliat pertanian perempuan tumbuh dalam sebuah kelompok bernama Kelompok Perempuan Kamboja.

Kelompok ini sudah berdiri sejak 2016, beranggotakan 24 orang perempuan dari berbagai dusun di Penangkalan. Desa Penangkalan memiliki penduduk 1.218 jiwa dengan luas wilayah 658 km persegi. Selain padi, komoditas lain yang menjadi tanaman unggulan desa ini adalah karet, lada, dan jeruk.

Lalu bagaimana peran perempuan dalam pertanian di Desa Penangkalan? Dan apa saja komoditas yang telah dihasilkan? Berikut uraiannya:

1. Petani perempuan

Maisa Petani (Arie Basuki/Liputan6.com)

Di Kabupaten Sambas, sebuah desa bergerak mengelola secara berkelanjutan. Sebagian besar pengelola pertaniannya adalah perempuan. Mereka bahu membahu membangun Desa Penangkalan, Kecamatan Sejangkung, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Budaya patriarki di Indonesia memang menempatkan posisi petani perempuan dalam posisi ambigu. Sangat sedikit yang memiliki akses untuk mempunyai aset secara legal. Peran ganda pun membebani, karena tidak jarang kegiatan yang dilakoni itu menjadikan mereka berprofesi sebagai petani.

  Umbi Gembili, makanan alternatif untuk masa depan dari Indonesia

Di Desa Penangkalan, geliat petani perempuan tumbuh dalam sebuah kelompok, Kelompok Perempuan Kamboja, terbentuk untuk belajar bersama meningkatkan kapasitas perempuan agar dapat membantu meningkatkan perekonomian keluarga.

Kelompok ini telah berdiri sejak 2016, beranggotakan 24 orang perempuan dari berbagai dusun di Penangkalan. Sejak pertama dibentuk, kelompok ini rutin menggelar pertemuan. Acara yang mengumpulkan semua anggota ini setidaknya dilakukan satu kali sebulan.

“Selain menanam padi biasa, kami juga membuat demonstrasi plot (demplot) pertanian beras hitam dan demplot cabai yang dikelola bersama,” kata Ketua Kelompok Perempuan Kamboja, Pariha yang dilansir dari Mongabay Indonesia, Rabu (18/5/2022).

2. Meningkatkan perekonomian keluarga

Maisa petani (instagram @maisapetani)

Pariha menerangkan, demplot cabai merupakan bantuan Dinas Pertanian yang dilaksanakan pada tahun 2017. Demplot-demplot pertanian dikelola oleh anggota kelompok. Hasilnya boleh dibilang cukup, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sebagian ada yang dijual ke pasar.

“Tetapi sebagian besar untuk kebutuhan harian,” ucapnya.

Kegiatan lain yang dilakukan adalah pelatihan teknis maupun non teknis untuk menambah kapasitas anggota dan kelompok. Contohnya pembuatan pupuk organik, pelatihan anti-hama organik, kepemimpinan perempuan, kesetaraan gender, dan paralegal.

  Api Abadi Mrapen, keajaiban alam yang pernah padam kini menyala kembali

“Bahkan, ada pelatihan dasar anggaran belanja keluarga,” terang Pariha. 

Pengelolaan lahan pertanian di Desa Penangkalan, sebagian besar masih dilakukan konvensional, menggunakan peralatan seadanya. Selain padi, komoditas lain yang menjadi tanaman unggulan desa ini adalah karet, lada, dan juga jeruk.

3. Program sekolah perempuan

Ilustrasipetani perempuan (razqa hadi/Flickr)

Lembaga Gemawan saat ini mendampingi lima desa di Kabupaten Sambas, untuk program pemberdayaan desa yang menyasar kaum perempuan. Tujuannya agar kaum hawa di daerah tersebut berani bersuara untuk memperjuangkan tentang nasibnya.

Direktur Lembaga Gemawan, Laily Khairnur menyatakan program pemberdayaan desa memang menyasar kaum perempuan. Mereka akan menerima sertifikat, menandakan sudah melewati fase pertama program tersebut. Dari angkatan pertama ada lima desa dengan 40 ribu ibu-ibu dan remaja perempuan yang terlibat.

Sekolah Perempuan Desa dilaksanakan di balai desa masing-masing dengan dua kali pertemuan selama satu minggu. Laily menerangkan bahwa selama pertemuan tersebut akan ada delapan materi yang disampaikan pada setiap desa.

Dirinya menyebut Gemawan ingin desa tidak hanya fokus pada dana desa untuk pembangunan fisik, namun melupakan program pemberdayaan masyarakat. Pasalnya, sesuai UU Desa, kegiatan melalui dana desa bisa menjawab krisis demokrasi dan pembangunan.

  Tujuan spiritual para pemetik teh berdandan demi pemberi kehidupan

“Padahal rakyat itu ada di desa,” ujar Laily.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya