Desa Sukarara, menjaga adat dan tradisi budaya berbasis lingkungan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Wanita di Desa Sukarara | @Galih Yoga Wicaksono (shutterstock)

Selain Bali memiliki destinasi wisata yang menarik, Lombok juga memiliki potensi wisata yang tak kalah menarik. Dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata budaya antara Bali dan Lombok sama-sama bagus.

Jika berbicara tentang wisata budaya, tidak hanya Bali yang memiliki wisata tradisional, Lombok juga memiliki wisata tradisional. Namanya Desa Sukarara, salah satu desa adat Lombok yang terletak di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia.

Desa Sukarara didiami oleh suku Sasak. Yang mana penduduk di sana memiliki keramahan yang luar biasa saat menyambut pelancong yang jalanjalan di desa adat ini.

Selain itu aksesnya pun tidak terlalu merepotkan karena desa ini dekat dengan banyak tempat wisata lainnya seperti Tanjung Aan, Desa Banyumelek, Desa Sade, dan lain-lain.

Memasuki desa ini serasa kita berada di sebuah desa dengan kultur budaya tinggi. Anda bisa melihat replica rumah adat suku sasak yang kokoh berdiri.

Rumah adat tersebut seperti rumah panggung dengan tangga yang menghubungkan pintu utama. Atapnya terbuat dari ilalang, sehingga dari kejauhan rumah adat ini terlihat berwarna kuning.

  Kirab Budaya Puji Jagat, cara petani lereng Gunung Sumbing ucapkan rasa syukur

Suasana desa

Banyak rumah di desa ini menggunakan rumah modern. Di sepanjang dua sisi jalan, rumah-rumah tertata rapi, menciptakan keindahan dan keasrian layaknya suasana desa yang jauh dari ingar-bingar perkotaan.

Pemandangan alam sekitar cukup menarik dengan semua keteduhan dari pepohonan yang tumbuh di sepanjang pinggir jalan.

Sisi unik desa ini terletak pada adat istiadat yang melekat pada setiap warga desa. Menurut adat, perempuan desa Sukarara harus terampil menenun. Karena jika para perempuan di sana pandai menenun dengan baik, maka mereka dinilai cocok, layak untuk dinikahi. Tak heran jika sebagian besar wanita desa ini tahu cara menenun dengan hasil yang bagus.

Karena wanita pedesaan lebih suka menenun daripada pergi ke kota untuk mencoba peruntungan, maka kita yang berkunjung ke sana dapat menemukan banyak toko yang menjual kain tenun. kain tenun yang disjikan pun didapat dari bahan organik yang semuanya tergantung pada hasil alam.

Selain itu, wisata desa tidak hanya melihat arsitektur tradisional desa Sukarara, tetapi kita dapat menyaksikan langsung proses menenun di setiap rumah yang kita kunjungi. Kita dapat juga meminta para perempuan itu untuk mengajari cara menenun yang baik.

  Sudah swasembada beras, bagaimana kesejahteraan petani desa?

Atau mungkin Anda tertarik pada sesuatu yang lain? Karena masih banyak yang dapat Anda lakukan di sini selain yang disebutkan di atas.

Misalnya, Anda bisa menyewa pakaian adat dan melakukan swafoto sepuasnya di replika rumah adat. Dan Anda dapat mempostingnya di akun media sosial Anda.

Menariknya, adat Desa Sukarara mengharuskan perempuan yang telah menikah harus memakai kain songket hasil tenunannya.

Kain songket ini dipercaya sebagai lambang kelanggengan. Jadi, diharapkan hubungan suami istri tetap langgeng sampai ajal menjemput.

Gambaran Desa Sukarara itu sejatinya menceritakan bagaimana manusia, budaya, dan alam, dapat hidup secara harmoni hingga menciptakan keasrian lingkungan dan kelestarian budaya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya