Desa wisata sebagai ladang konservasi alam dan budaya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi desa di Indonesia | @noer cungkring (shutterstock)

Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar nama desa wisata? Tentu saja, kemurnian, ayam jantan yang berkokok, keharmonisan antara alam dan manusia, kegiatan pertanian, dll. Intinya harus hal-hal yang indah jauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Secara definisi, desa wisata adalah suatu kesatuan bentuk atraksi, akomodasi, dan fasilitas penunjang yang disatukan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang terintegrasi dengan tradisi dan tata cara yang ada.

Desa wisata juga merupakan elemen pariwisata yang mencakup keseluruhan pengalaman pedesaan, atraksi budaya, tradisi, elemen unik, yang bersama-sama dapat menarik wisatawan.

Sementara menurut Kementerian Pariwisata, desa wisata adalah suatu wilayah pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan, baik dari kehidupan, sosial ekonomi, sosial budaya, adatistiadat keseharian, arsitektur bangunan, maupun struktur tata ruang desa yang khas.

Atau juga bisa dibilang segala kegiatan perekonomian yang unik dan menarik, serta memiliki potensi untuk dikembangkan berbagai komponen kepariwisataan.

Tapi tahukah Anda, bahwa sebetulnya desa wisata selain berdampak secara ekonomi, juga berperan sebagai konservasi budaya dan alam. Yakni menjaga komposisi wilayah sebagai penyeimbang dan keselarasan alam sekitarnya.

Hal tersebut seperti diceritakan Trisno, Inisiator dan Koordinator Desa Menari yang terletak di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Dalam ceritanya, Trisno mencoba menyelaraskan budaya desa, keindahan alam, serta potensi ekonomi yang bisa dicapai, namun tetap menjaga orisinalitas lingkungan dan alam sehingga keelokannya tetap terjaga.

”Desa wisata tak hanya mengenalkan dan menjaga budaya desa, tapi juga membangun interaksi dengan alam sebagai salah satu langkah untuk konservasi alam. Saya rasa ini juga sangat penting,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana desa wisata bisa selaras dengan upaya konservasi budaya dan alam seperti yang diucap Trisno di atas?

Berikut paparannya.

Melihat potensi desa

Jika dirunut ke belakang, pada tahun 2000, Dusun Tanon masih akan tertinggal, terutama dalam hal perekonomian rakyat. Jalan belum diaspal, pendapatan masyarakat rendah, masih sedikit anak-anak yang bersekolah.

Terletak di lereng Gunung Telomoyo yang menawan, sejak zaman dahulu sebagian besar masyarakat Dusun Tanon hidup dengan bertani dan beternak. Bahkan ketika bermigrasi ke daerah lain, kebanyakan dari mereka hanya menjadi buruh kasar.

Mengenai kemajuan desa, cerita bermula pada tahun 2006 ketika Trisno, mahasiswa pascasarjana dari Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta, kembali ke desa berpenduduk 151 orang dan 37 kepala keluarga itu.

Bisa dikatakan Trisno adalah satu-satunya pemuda yang bergelar sarjana saat itu. Kemudian dia berpikir tentang bagaimana membangun desanya, di mana semua ada batasan. Dengan tekad ini, dia menolak pekerjaan di ibu kota.

  Mengenal padi Rojolele Delanggu dan upaya memulihkan eksistensinya

Usahanya yang kemudian membuahkan hasil, Kang Tris–begitu akrab disapa, akhirnya mampu menginspirasi sebuah kawasan bisnis yang dulunya mandiri dan terpencil, menjelma menjadi desa wisata pada tahun 2009.

Saat ini Desa Tanon telah menjadi salah satu wisata budaya dan desa ekonomi kreatif di Semarang. Sejak tahun 2012, desa ini juga menjadi salah satu tujuan wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Desa yang juga dikenal dengan sebutan “Dance Village” ini mendapat penghargaan dari Astra International dalam program Desa Berseri Astra.

Atas keberhasilannya dalam merevitalisasi perekonomian desa, Trisno juga meraih Penghargaan Pelopor Pemuda Jawa Tengah Bidang Peternakan Tahun 2009 dari Pemerintah Jawa Tengah dan mendapat penghargaan Satu Indonesia Award 2015 bidang lingkungan oleh Astra Internasional.

Promosikan ekonomi desa melalui wisata esensial

Sebagai desa wisata yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah, Kang Tris juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat berinteraksi dengan jadwal kedatangan wisatawan.

Karena memang sangat sedikit orang tua yang berminat menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari Sekolah Dasar (SD).

Untuk mendukung kegiatan tersebut, semua penduduk desa, baik tua dan muda, laki-laki dan perempuan, mengikuti kursus bahasa Inggris. Melalui cara diskusi adalah salah satu jalan yang ditempuh Trisno.

Ia tak segan-segan berdiskusi dengan anak muda dan orang tua di desa untuk memperluas pemikiran mereka tentang pentingnya pendidikan.

“Mereka sangat antusias, karena tujuan kami membuat kampung Jawa dan kami ingin mengajari turis asing berbahasa Jawa, jadi mereka harus bisa berbahasa Inggris terlebih dahulu sebagai bagian dari perkenalan desa,” ujarnya.

Sajian tarian di desa

Jika masalah interaksi berangsur-angsur membaik, maka Trisno dan seluruh warga mulai menggarap konsep konten wisata yang ditampilkan saat wisatawan datang. Salah satu atraksi desa yang sangat populer saat ini adalah pertunjukan tari.

Pada umumnya masyarakat desa sangat melestarikan seni tari rakyat secara turun temurun. Anak-anak juga belajar menari sejak usia dini. Salah satu tarian yang dikuasai warga desa adalah tari Warok, antara lain tari topeng Ayu, kuda Debog, Geculan Bocah, kuda pak dan tari Eko Prawiro.

Kemudian ada tarian lain yang sering menarik perhatian wisatawan saat berkunjung, yaitu tari Ndolanan Bocah yang dibawakan oleh anak-anak.

Saat atraksi menjamu para turis, tak hanya anak-anak muda saja yang menyuguhkan tarian, namun juga dibawakan oleh para orang tua. Para turis yang sedang menonton disajikan makanan khas pedesaan, seperti ubi/singkong/pisang rebus, getuk, kopi, dan camilan lain yang tak kalah enak.

  Kampung Dukuh Dalam, perkampungan tanpa genteng dan tembok untuk menjaga alam

Konsep wisata alam

Lain sajian tarian, konsep wisata desa menari juga mengajak para pengunjung untuk menyusuri alam desa melalui program wisata out bound.

Pada dasarnya, konsep itu muncul karena Trisno pernah menjadi pemandu wisata di Solo. Alasan lain yang memantapkan niatnya untuk menjadikan desanya sebagai destinasi wisata out bound adalah soal lahan hortikultura milik warga yang cukup terbatas, yakni kurang dari 2.500 meter persegi.

Singkatnya, pasokan tanaman dari daerah yang begitu luas tidak cukup untuk menghidupkan kembali ekonomi lokal. Sehingga konsep bagaimana pengunjung berinteraksi dengan alam desa dapat dikembangkan dengan memberikan pengalaman bercocok tanam di kebun dan lahan.

”Upaya ini merupakan cara kami untuk mengingatkan pengunjung akan hakikat dasar interaksi manusia dengan alam, sekaligus mengingatkan mereka (pengunjung) terhadap masyarakat yang sejak kecil dulu pernah bercocok tanam di desa. Sulit menemukan pengalaman berkesan ini di destinasi wisata lain,” jelas Trisno.

Pengunjung Desa Tanon dapat merasakan secara langsung beberapa tujuan pembelajaran pariwisata asing. Hal-hal tersebut adalah menumbuhkan empati terhadap orang lain, menghargai bahwa setiap hal ada proses, memahami bahwa para pelaku profesi dasar adalah penjaga keberlangsungan sebuah mata rantai kehidupan, belajar mensyukuri kehidupan, dan berguru pada alam.

Trisno juga mengajak pengunjung untuk memerah susu sapi segar, dan ternyata banyak pengunjung yang antusias untuk mencobanya.

Alhasil, Desa Tanon bisa memasok susu sapi segar yang juga digunakan sebagai bahan pembuatan sabun susu merek Kamila yang sangat populer di beberapa kota di Jawa Tengah.

Selain itu, desa ini juga menjadi tempat produksi keripik dan kerajinan tangan yang telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Kami bahu-membahu meningkatkan kualitas desa. Salah satunya dengan menyerahkan produk susu sapi ke koperasi dan mempekerjakan perempuan untuk membuat sabun susu,” jelas Trisno.

Dari harga bahan baku sabun susu yang hanya Rs 1.500/liter, warga kini dapat memperoleh manfaat lebih dengan meningkatkan pengetahuan mereka tentang pasokan susu koperasi. Mereka saat ini mendapatkan Rp3.000 dari tiap liter susu murni yang mereka suplai.

Program yang dijalankan dengan berbasis sektor wisata juga mampu mendorong warga di sektor usaha mandiri kecil menengah (UMKM).

Pembentukan karakter yang orisinal

Bagi pengunjung yang menginap di Desa Tanon, mereka juga bakal merasakan suasana desa yang alami dan asri. Seperti saat pagi hari mendengar kokok ayam, menikmati pemandangan sejuk lereng Gunung Telomoyo sambil menyesap kopi, dan melihat pada petani berada di ladang sedang bercocok tanam.

  Harmoni manusia dan alam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Sebuah pengalaman yang saat ini sulit ditemui, dan tentunya sangat berharga bagi mereka yang ingin merasakan kembali suasana pedesaan yang lestari.

Pengunjung juga didorong untuk melakukan aktivitas yang sama seperti warga, dan melakukan berbagai hal secara mandiri. Seperti setelah membuat masakan sendiri, serta melakukan kegiatan mandiri lainnya.

Hal ini, sebagaimana ditegaskan Trisno yang merupakan upaya untuk membentuk kepribadian yang orisinal dengan bersikap mandiri. Oleh karena itu, banyak program kemandirian dan pembentukan kepribadian yang ditujukan kepada anak-anak usia prasekolah.

“Kami juga membuat Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang mengajarkan mereka bagaimana membentuk karakter mereka sehingga mereka menjadi individu yang mandiri dengan kemampuan berempati dengan orang lain. Ini juga mengajarkan Anda untuk beradaptasi dengan cepat.”

Laboratorium konservasi dan masyarakat

Desa Menari juga merupakan laboratorium sosial untuk menabur sinergi antara modernitas dan tradisi. Ada beberapa hal yang ingin dikatakan Trisno tentang ini.

Yang pertama menyangkut pemeliharaan pekerjaan utama masyarakat sebagai petani dan penggembala. Pengunjung dapat melihat bagaimana kehidupan asli masyarakat desa tetap terjaga.

Kemudian ada pelestarian dan pelestarian tarian tradisional dan kesenian daerah. Pengunjung belajar bagaimana pelestarian budaya dipertahankan, sehingga dapat memberikan atraksi asli yang akan berdampak pada konten pariwisata.

Setelah itu, gerakan sensitisasi dilakukan untuk memperkuat kekuatan lokal dalam memperoleh otonomi. Ini menunjukkan bagaimana kekuatan budaya lokal mampu menghipnotis pengunjung, terutama dari kota-kota besar, yang identik dengan gaya hidup modern.

Yang tak kalah pentingnya adalah penggunaan teknologi informasi dalam mempertahankan kekuasaan lokal. Warga akan belajar dan bangga dengan tradisi lokal yang diminati turis asing yang ini tentu harus ditunjukkan secara luas.

Sementara penerapan teknologi sebagai media promosi kegiatan kebudayaan dan konservasi nilai lokal dalam upaya menumbuhkan kekuatan finansial, juga menjadi salah satu poin yang tak kalah penting sebagai media apresiasi aktivitas kebudayaan.

Karenanya, untuk terus menjaga nilai-nilai itu Desa Tanon tak dibuka setiap hari untuk dikunjungi. Trisno menyebut hal itu merupakan cara untuk menjaga ritme aktivitas warga.

”Kita juga menjaga agar tak terlalu banyak wisatawan yang keluar masuk Desa Tanon. Selain agar tak terlalu padat, juga untuk menjaga aktivitas warga,” tandasnya.

Namun, dari banyak hal yang dijelaskan Trisno sebelumnya, masih ada beberapa masalah terkait ketersediaan jaringan seluler, terutama di Desa Tanon. Ia berharap pemerintah mulai bereaksi terkait penyediaan infrastruktur jaringan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya