Dilema masyarakat Kampung Waimon ingin kelola potensi desa secara mandiri

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Warga Waimon dan tangkapan udang banana di Pulau Bambu. (Yosias Arnold Rumbruren/Yayasan EcoNusa)

Memiliki potensi alam yang berlimpah nan luas, tak heran jika seluruh bagian wilayah Indonesia dari ujung paling barat hingga timur kerap memiliki limpahan sumber daya yang identik dengan karakteristik wilayahnya masing-masing.

Namun satu hal yang kerap menjadi permasalahan, biasanya kerap dijumpai sistem pengelolaan yang terkadang tidak membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal terkait. Hal tersebut bisa terjadi karena pemanfaatannya ternyata banyak dikelola oleh pihak yang berasal dari luar wilayah.

Salah satu kondisi dari perumpaan di atas tergambar langsung pada situasi yang terjadi di sebuah kampung yang berada di Papua, lebih tepatnya di Kampung Waimon di Distrik Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat.

Permasalahan apa yang dihadapi?

1. Potensi udang banana

Udang banana (Humas Ditjen PDSPKP)

Secara demografis, Kampung Waimon sendiri dihuni oleh masyarakat dari beberapa marga yaitu Marga Aresi, Fadan, Malalu, Kasilit, Igip, dan Seme. Sementara itu salah satu aset berharga yang mereka miliki terletak di Pulau Bambu yang memiliki potensi laut tinggi karena menjadi basis pengepul udang banana (Fenneropenaeus merguiensis).

  Kisah Sekapuk, desa yang dahulu miskin sekarang jadi desa miliarder

Namun, permasalahan muncul karena nyatanya bukan masyarakat lokal yang mendominasi pemanfaatan hasil laut di Pulau Bambu tersebut. Diketahui jika sebagian besar nelayan di sana adalah nelayan Suku Buton, yang berasal dari sebrang tepatnya Sulawesi Tenggara.

Mengutip econusa, nelayan dari Suku Buton disebut memiliki perjanjian kontrak wilayah di Pulau Bambu yang nilainya mencapai Rp50 juta setiap tahun. Kontrak tersebut diketahui sudah berjalan selama 19 tahun, atau lebih tepatnya sejak tahun 2003. Lebih lanjut, kontrak tersebut ternyata dilakukan antara pihak marga Malalu bersama pengepul.

2. Perhitungan potensi yang dikelola masyarakat luar

Ilustrasi udang banana (KKP)

Jika ingin membahas mengenai potensi yang dimanfaatkan oleh pihak luar dari segi materi, disebutkan jika pemanfaatan hasil laut ini sendiri ternyata sangat menguntungkan.

Misalnya dalam satu kali perjalanan nelayan setiap hari, setiap armada yang dioperasikan oleh 2-3 orang nelayan bisa menghasilkan sekitar 80-100 kilogram tangkapan udang banana.

Sementara itu harga udang banana per kilogramnya berada di rentang Rp60 ribu di tingkat pengepul, belum lagi pengepul yang kemudian menjualnya dengan harga antara Rp80ribu sampai Rp100ribu per kilogram saat sudah sampai di kota.

  Langkah bangun desa mandiri dan lestari, apa yang perlu dilakukan?

Jika diakumulasi berdasarkan pendapatan kotor, artinya setiap satu armada nelayan bisa saja memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp4,8 juta sampai Rp6 juta hanya dalam kurun waktu satu hari.

Jika dalam satu hari ada 80 armada nelayan yang beroperasi, nilai pendapatan totalnya jauh lebih dari cukup untuk bisa membayarkan nilai kontrak selama setahun.

3. Keinginan pengelolaan masyarakat lokal

Ilustrasi nelayan cilik Papua (Vicky Pongoh/Flickr)

Melihat potensi besar yang ada, masyarakat asli Kampung Waimon berharap untuk bisa mengelola sendiri sumber daya alam di wilayah mereka. Bukan hanya karena potensi dari segi ekonomi, alasan lainnya disebutkan jika selama ini tidak ada kontribusi berarti yang diperoleh masyarakat lokal dari keuntungan besar yang sudah diperhitungkan di atas.

Misalnya, masyarakat pendatang seperti nelayan dari Suku Buton yang bermukim di Pulau Bambu dan secara administrasi terdata sebagai masyarakat Kampung Waimon, nyatanya selama bermukim tidak pernah berkontribusi secara fisik maupun materi bagi Kampung Waimon.

Salah seorang warga Kampung Waimon asli, yakni Lekius Kasilit bahkan mengungkap jika para pengepul hanya menggunakan beberapa tenaga kerja dari masyarakat lokal, sisanya mereka lebih banyak mempekerjakan buruh kontrak yang didatangkan dari Buton.

  Kuliner lempah kuning, simbol harmonisnya alam dan masyarakat Bangka Belitung

“Kami hanya mencari udang di sekitar Pulau Bambu lalu membawanya ke pengepul. Biasanya kami mengambil barang-barang seperti bensin, gula, kopi, rokok, pinang, dan biskuit di pengepul. Jadi kami hanya mengambil saja, tetapi hasil pemotongan nanti setelah kami membawa hasil tangkapan ke pengepul,” jelas Lekius.

”…Udang yang diminta juga harus sudah dibersihkan bagian kepalanya untuk ditimbang dan mendapatkan berat bersihnya. Hasil penjualan akan dipotong dengan harga barang-barang yang saya bawa.”

Melihat kondisi tersebut, tak heran jika akhirnya masyarakat Kampung Waimon menginginkan agar tata kelola potensi alam berupa udang banana di Pulau Bambu dapat dikembalikan ke masyarakat lokal, dan mereka tidak ingin lagi melibatkan pengepul karena sudah merasa dirugikan selama belasan tahun.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya