Honai, rumah adat Papua yang ternyata lebih dulu terapkan prinsip eco-friendly

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Honai (Heru Haryanto/unsplash)

Bersamaan dengan masalah lingkungan yang semakin besar dihadapi, kekinian semakin banyak pihak atau masyarakat yang kian serius melakukan berbagai macam upaya untuk menghadirkan inovasi ramah lingkungan.

Salah satunya yaitu membangun rumah dengan mengutamakan konsep ramah lingkungan, contohnya saja menggunakan batu bata yang dibuat dari olahan sampah plastik atau ecobrick.

Tak banyak yang menyadari jika sebenarnya semua upaya ramah lingkungan yang sedang diusahakan, sudah jauh lebih dulu dilakukan oleh masyarakat adat atau tradisional yang saat ini mungkin hanya tersisa dengan populasi skala kecil di wilayah pedalaman.

Jika ingin mengakui, sebenarnya sejak dulu mereka telah memanfaatkan alam untuk menopang kehidupan dengan cara pemanfaatan yang ramah dan tidak merusak lingkungan, bahkan untuk membangun sebuah tempat tinggal.

Misalnya saja, saat kebanyakan orang di perkotaan sedang mengupayakan inovasi pembangunan rumah ramah lingkungan, masyarakat pedalaman Papua sejak dulu hingga saat ini bertahan dengan rumah tradisional yang ternyata sudah jauh lebih dulu menerapkan prinsip tersebut.

1. Honai, rumah adat khas Papua

rumah honai (adib/flickr)

Meski dikenal sebagai rumah tradisional Papua, namun bukan berarti rumah ini bisa ditemukan di seluruh wilayah Papua. Honai diketahui merupakan rumat bagi suku Dani yang tinggal di bagian lembah Baliem atau Wamena, suku Lani di Pegunungan Toli, dan suku-suku asli Papua di beberapa daerah lainnya.

  Jejak jembatan akar yang ikonik di Sumatra Barat

Umumnya, rumah honai memiliki tinggi sekitar 2-2,5 meter dan terdiri atas dua lantai. Lantai pertama biasanya digunakan untuk tempat tidur, sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat beraktivitas, ruang santai, ruang makan, tempat mengerjakan kerajinan tangan, dan lain sebagainya.

Lain itu, honai biasanya juga dibangun dengan tidak memiliki jendela dan terkenal akan ruangannya yang sempit. Bukan tanpa alasan, pembangunan tersebut dilakukan untuk menghalau hawa dingin karena nyatanya lokasi dari tempat tinggal suku Dani atau suku lainnya yang hidup dengan rumah tradisional ini memang terletak di wilayah pegunungan.

2. 100 persen rumah ramah lingkungan

Rumah adat Honai di pedalaman Papua (Pudyaningtyas/flickr)

Dari luar, honai memiliki bentuk rumah lingkaran yang bagian atasnya ditutupi atap dari tumpukan jerami atau ilalang yang ditumpuk sedemikian rupa, sehingga membuat tampilan rumah tersebut jika dilihat sekilas dari luar akan nampak berbentuk seperti jamur.

Bicara mengenai pembangunannya yang ramah lingkungan, semua bagian dari honai memang dibuat dengan memanfaatkan bahan dari alam. Misalnya saja bagian badan rumah yang menggunakan material kayu, atau papan kayu kasar untuk dinding, rumput dan jerami untuk bagian lantai, serta ilalang juga jerami untuk bagian atap seperti yang telah disebutkan sebelumnya.

  Ragam upaya Google jadi perusahaan yang wujudkan misi ramah lingkungan

Tentu, rumah honai juga membutuhkan tiang untuk menopang agar bangunan bisa berdiri dengan kuat, untuk kebutuhan tersebut jenis kayu yang digunakan adalah kayu besi, atau lebih umum dikenal sebagai kayu ulin.

Selain itu dibutuhkan juga tali rotan dari akar-akar pohon, tanaman, atau sulur-suluran yang berfungsi untuk mengikat beberapa bagian tertentu seperti penyambung antar material bangunan.

Tidak asal dibuat atau memilih material, setiap bahan dari alam yang digunakan nyatanya juga mengandung makna tersendiri bagi masyarakat adat Papua yang tinggal di rumah honai.

Misalnya saja ilalang atau jerami yang mungkin terlihat lemah bila dijadikan sebagai atap atau alas tanah, namun kenyataannya ilalang justru bisa menjadi sangat tajam. Hal tersebut melambangkan jika di balik kesederhanaan, rumah honai yang terbuat dari ilalang memiliki makna mandiri, kuat, dan mudah menyesuaikan diri.

3. Rumah untuk berbagai fungsi

rumah honai (Yolen Miagan/flickr)

Sebenarnya jika dilihat secara mendetail, rumah honai dibagi lagi menjadi tiga jenis dari segi gender masyarakat yang menempatinya. Pertama, honai sendiri adalah sebutan untuk rumah yang ditempati para lelaki, kedua ada ebei yang yang ditempati oleh penduduk perempuan, dan wamai yang merupakan rumah untuk hewan ternak.

  Desa Penangkalan dan kisah petani perempuan sebagai pejuang pangan

Meski dari segi bentuk ada sedikit perbedaan, tapi material yang digunakan dalam pembangunan ketiganya tetap sama, yakni bahan dari alam yang ramah lingkungan.

Selain dipakai sebagai tempat tinggal, disebutkan jika honai juga dibangun untuk berbagai keperluan lainnya. Misal, ada bangunan honai yang memang dibuat untuk menyimpan hasil ladang dan cadangan makanan seperti ubi manis dan umbi-umbian.

Bahkan bagi beberapa suku di pedalaman lainnya, ada rumah honai yang dikhususkan untuk menjadi lokasi dari proses pengasapan terhadap jasad masyarakat tertentu yang telah meninggal dan akan diawetkan.

Adapun jasad yang diasapkan bukan jasad sembarang orang, melainkan jasad tokoh-tokoh penting desa setempat misalnya kepala suku, yang kemudian disakralkan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya