Inovasi berkelanjutan dalam upaya menjaga ketahanan pangan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi petani | Shutterstock

Masih menginjak tahun pandemi Covid-19 sejak kasus pertama ditemukan di Indonesia, tentunya membawa ingatan kita kembali akan fenomena panic buying yang sempat terjadi di beberapa tempat. Kondisi ini diperparah dengan adanya kegiatan impor yang terhambat karena kebijakan lockdown, karena tentunya masing-masing negara mengutamakan kebutuhan domestik terlebih dahulu.

Dari fenomena ini, kita bisa melihat pentingnya upaya pemenuhan pangan dalam negeri demi menjawab ketahanan pangan melalui upaya berkelanjutan. Mengacu data Ketahanan Pangan Indonesia, angka untuk domestik turun dari posisi 62 (2019) ke posisi 65 (2020) dari total 113 negara (data Global Food Security Index/GFSI).

Tidak hanya posisi dalam indeks, posisi Indonesia dalam beberapa indikator juga masih perlu menjadi sorotan. Misalnya soal posisi ke-55 pada indikator keterjangkauan, posisi ke-34 pada kategori ketersediaan, serta posisi ke-89 pada kategori kualitas dan keamanan.

Turunnya posisi Indonesia dalam indeks ini mencerminkan masih perlunya upaya keras untuk mencapai ketahanan pangan.

Upaya menjaga ketahanan pangan

Sebagai salah satu komponen yang memengaruhi ketahanan pangan, peningkatan produktivitas pertanian akan sangat mendorong ketersediaan pasokan pangan dalam negeri.

  Mayoritas petani berusia di atas 40, ancaman kedaulatan pangan?

Seringkali petani menemukan berbagai tantangan untuk meningkatkan produktivitas, diantaranya terkait skala usaha, luas lahan garapan dan proses menanam yang belum ekonomis; situasi cuaca yang semakin tidak menentu; hingga harga jual hasil panen yang fluktuatif akibat permintaan pasar yang menurun.

Berdasarkan salah satu indikator untuk melihat kesejahteraan petani dilihat dari angka nilai tukar petani (NTP), terjadi penurunan dalam satu tahun terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, meski berfluktuasi, NTP cenderung turun dari 104,16 (Januari 2020) menjadi 103,26 (Januari 2021).

Untuk menghadapi tantangan global, pengelolaan pertanian yang adaptif dan inovatif menjadi sangat penting dilakukan agar ketahanan pangan menjadi lebih baik dan tangguh. Apalagi di masa pandemi ini petani wajib dilindungi secara memadai.

Program Argo-Solution

Terapan argo solution | Dok. Pupuk Kaltim

Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain berkolaborasi dengan off-taker, saling berbagi pengalaman, dan memanfaatkan teknologi dalam memenuhi kebutuhan primer berupa pangan. Seperti halnya yang dilakukan oleh produsen pupuk urea terbesar di Indonesia, Pupuk Kaltim.

Salah satu upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kesejahteraan dan meningkatkan produktivitas petani, seperti dejelaskan Direktur Utama Pupuk Kaltim Rahmad Pribadi, adalah melalui program Agro-Solution.

  Belajar bersyukur dan tak serakah saat melaut ala Suku Sekak

”..Dengan memperhatikan unsur masyarakat, lingkungan, dan ekonomi, kami senantiasa melakukan pendampingan intensif kepada petani dan budidaya pertanian secara berkelanjutan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional yang lebih baik,” demikian jelasnya.

Selain inovasi pemberdayaan petani, berikut beberapa inovasi lain yang bisa diterapkan untuk mendukung ketahanan pangan sebuah negara:

1. Diversifikasi bahan pangan

Demi memastikan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia tercukupi, diversifikasi menjadi hal yang patut diperhatikan.

Diversifikasi pangan bertujuan mengantisipasi krisis, menyediakan pangan alternatif selain beras, menggerakkan ekonomi, dan mewujudkan sumber daya manusia yang sehat. Adanya diversifikasi bahkan dapat memperbaiki kualitas tanah dan mengurangi hama dan penyakit.

2. Optimalisasi lahan sawah

Penerapan pertanian terpadu (integrated farming) adalah konsep peningkatan pendapatan ekonomi lahan yang berbasis lingkungan dan berkelanjutan, serta mengintegrasikan pertanian dan peternakan.

Konsep itu merupakan zero waste, yakni meminimalkan penggunaan eksternal dan memanfaatkan secara maksimal potensi yang dimiliki.

Model pertanian ini merupakan salah satu terobosan untuk meningkatkan produksi dan secara holistiknya untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

  Musamus, keunikan 'candi' alam yang jadi potensi wisata di Kampung Salor, Merauke

3. Implementasi teknologi berbasis industri 4.0

Semua sektor termasuk pertanian boleh jadi tak luput dari revolusi industri 4.0 yang menerapkan pertanian modern untuk tercapainya efisiensi. Salah satu negara yang terkenal aktif mengimplementasikan konsep ini adalah negara-negara di Eropa.

Salah satu contohnya melalui penerapan teknologi mutakhir seperti robot yang merawat ladang secara mandiri dan mesin otomatis untuk memerah susu sapi. Upaya ini tentu mampu meningkatkan hasil kualitas dan efisiensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya