Kampung Banceuy yang sejahtera karena warisan berdamai dengan alam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Curug Bentang ( subangtraveler/Instagram)

Warga di perbukitan selatan Kabupaten Subang, Jawa Barat, sejak lama hidup berdamai dengan alam. Itulah yang menjadi salah satu warisan leluhur mereka sejak ratusan tahun silam dan masih bertahan.

Apalagi tinggal di daerah perbukitan tempat air bersih tidak mudah didapatkan, mereka percaya nikmat itu akan datang kepada mereka suatu saat nanti. Ketekunan menjaga pesan ini berhasil mengundang air bersih datang ke rumah masyarakat.

Lalu bagaimana pesan leluhur ini terus dijaga masyarakat? Dan apa yang menjadikan warga terus mendapatkan pasokan air bersih? Berikut uraiannya:

1. Warisan leluhur

Curug bentang (iwanherawanshr/Instagram)

Warga di perbukitan selatan Kabupaten Subang, Jawa Barat, sejak lama hidup berdamai dengan alam. Itulah yang menjadi salah satu warisan leluhur mereka sejak ratusan tahun silam dan masih bertahan.

Adang Didi, warga Kampung Banceuy, Desa Sanca, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, bersama warga yang lain berusaha mengembalikan pepohonan yang hilang. Alasannya sederhana, selain ampuh merehabilitasi lahan akan menghasilkan buah yang banyak.

Hal ini juga disetujui oleh Rosidin yang menunjukan hamparan perbukitan hijau tubuh Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu yang terlihat dari kejauhan. Hal inilah yang dijaga oleh warga Kampung Banceuy.

  Upaya kembalikan Situ Cisanti untuk perlindungan terhadap ekosistem

“Pasti bisa enak kalau bisa hidup bersama pepohonan. Kata orang tua juga harus seperti itu,” timpal Rosidin dalam Tanah Air: Air yang Datang Membawa Sejahtera terbitan Litbang Kompas.

Menurut cerita lisan, rasa syukur terhadap alam ini diturunkan sejak tujuh keluarga pendiri Kampung Banceuy. Dahulu mereka menamakan daerah itu Kampung Negla. Tetapi kampung ini tidak bertahan lama karena hantaman puting beliung.

“Mereka tidak menyerah dan ingin membuat permukiman baru. Namun sebelumnya mereka bermusyawarah untuk menentukan tempat baru. Tidak ingin kejadian angin puting beliung itu terjadi lagi,” kata Aki Salhi tokoh Kampung Banceuy.

Kemudian Eyang Ito memimpin pembuatan kampung baru. Dia bertugas mencari lahan, membuat tegalan, dan mengatur saluran air. Dirinya kemudian menemukan tempat baru itu lantas dinamakan Nagara Banceuy.

2. Penjaga alam

Warga Banceuy (kampungadatbanceuy/Instagram)

Di daerah baru itu tujuh keluarga ini semakin dekat dengan alam. Beragam upacara adat yang berkaitan dengan alam dan kesejahteraan manusia rutin dilakukan. Tradisi tersebut terus dipelihara hingga kini.

  Jejak jembatan akar yang ikonik di Sumatra Barat

Peneliti madya dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Rosyidin mengatakan masyarakat adat ini memiliki sejumlah tradisi yang upacaranya terus dilakukan. Seperti ngebeungkat yang dilakukan pada awal musim tanam.

Ada juga upacara mitembeyan digelar pada awal tandur, ngaruwat bumi setelah panen, netepkeun saat menyimpan padi, hingga ngayaran saat mengeluarkan padi dari tempat penyimpanan.

Selain itu, warga juga rutin melakukan upacara adat apabila melihat gejala alam sedang “sakit” dan rentan menyerang manusia. Ade Bahrum, tokoh Kampung Adat Banceuy mengatakan hajat lingkungan hajat wawar masih dilakukan tiga bulan sekali.

“Banyak upacara adat dilakukan di sekitar hutan dan sumber air. Semuanya dilakukan agar alam dan manusia bisa berdampingan,” jelasnya.

3. Sejahtera dari alam

Curug Bentang (subangtraveler/Instagram)

Nadi, Ketua Pengelola Air Bersih Banceuy mengatakan mata air Solokan Tembok tak pernah surut sepanjang tahun. Berada dalam hutan yang dilindungi aturan adat, kawasan sekitar mata air relatif bebas dari pembalakan liar.

Debit airnya mencapai 10 liter per detik saat musim hujan dan sekitar 8 liter per detik saat musim kemarau. Walau begitu, tak mudah mengantarkan air ke rumah warga, kendala utamanya biaya dan jarak tempuh.

  Mengenal padi Rojolele Delanggu dan upaya memulihkan eksistensinya

Karena itu masyarakat Banceuy akhirnya sepakat mengumpulkan biaya dan menyisihkan tenaga membangun saluran air sederhana pada 1990 an. Air disalurkan menggunakan pipa menuju tempat penampungan berkapasitas 5.000 liter.

Saat itu warga bergotong royong memasang paralon dan membangun penampungan. Air bersih juga memudahkan warga hidup sehat, seperti mandi, cuci, dan kaskus, sekaligus tetap menjaga keteguhan adat di Banceuy.

Cucum, warga Banceuy mengatakan dulu sering merasa tak nyaman jika mendadak hendak ke kamar kecil pada malam hari. Adat juga melarang perempuan belum dewasa untuk keluar malam hari, sehingga perlu menahan buang air hingga pagi.

“Sejak mengalir air bersih, warga banyak membangun MCK. Sekarang kami hidup lebih sehat tanpa harus melanggar adat,” katanya.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya