Kampung Dukuh Dalam, perkampungan tanpa genteng dan tembok untuk menjaga alam

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Rumah Dukuh Dalam (nugroho adhi/Flickr)

Kampung adat Dukuh Dalam adalah perkampungan yang terletak di antara tiga gunung. Kampung ini sangat melestarikan kepentingan alam. Salah satunya terlihat dari rumah yang berada di kampung ini terbuat dari kayu dan ada larangan untuk tidak menggunakan kaca, tembok, dan genteng.

Kampung adat Dukuh Dalam melestarikan alam sekitarnya sebagai ajaran dari leluhurnya. Mereka pantang memotong kayu, tumbuhan, dan lain-lain dalam hutan larangan. Dari tempat ini beragam tanaman obat pun lahir untuk kelestarian masyarakat.

Lalu bagaimana asal usul tempat ini? Dan mengapa mereka sangat melestarikan alam? Berikut uraiannya:

1. Kampung Dukuh Dalam

Ilustrasi rumah adat (ASF Indonesia/Flickr)

Kampung adat ini terletak di antara tiga gunung, yakni Gunung Batu Cupak, Gunung Dukuh, dan Gunung Batu. Kampung adat Dukuh Dalam namanya yaitu sebuah kampung yang masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan para leluhur mereka.

Ketika memasuki kampung ini akan bisa melihat pemandangan rumah-rumah yang atapnya terbuat dari serabut alang-alang dan ijuk. Kesan tradisional masih sangat terasa di kampung yang letaknya di Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut ini.

  Kesuksesan Balunganyar, desa inovatif energi yang ubah kotoran sapi jadi biogas

Semua rumah yang berada di kampung ini memang terbuat dari kayu dan ada larangan untuk menggunakan kaca, tembok, genteng. Di sini, ada satu rumah yang terlihat lebih besar dari rumah lainnya. Rumah itu adalah milik sang juru kunci kampung Adat Dukuh Dalam

Setidaknya ada 42 rumah, 1 mesjid dengan satu balai rakyat tempat warga berkumpul untuk mengadakan pertemuan. Di Kampung Adat Dukuh Dalam ini terdapat satu rumah yang dikhususkan bagi tamu yang mau melakukan penyepian atau menyepi sambil menjalani ritual di dalam rumah.

Ada juga satu tempat yang dianggap sakral oleh warga di kampung ini yakni makam leluhur Kampung Adat Dukuh Dalam Syekh Abdul Jalil. Untuk menuju area makam, pengunjung harus mendaki kaki Gunung Dukuh, karena makam tersebut berada di dalam hutan gunung.

2. Hutan Larangan

Ilustrasi hutan larangan (Agahari Anggiardi/Flickr)

Sebagaimana kampung-kampung adat yang lain, di Kampung Dukuh terdapat Hutan Larangan (Hutan Keramat) yang tidak boleh diganggu oleh penduduk setempat maupun orang lain yang datang berkunjung. Adanya larangan untuk mengambil kayu atau bahkan ranting karena akan berdampak pada ekosistem.

  Mengenal program Desa Sejahtera Astra yang perkuat perekonomian Indonesia

Di Hutan Keramat ini terdapat makam keramat yang merupakan tempat peristirahatan dari Syekh Abdul Jalil yang dianggap sebagai karuhun (nenek moyang) sekaligus sebagi pendiri kampung penduduk Kampung Dukuh. Sosok ini dipercaya sebagai wali.

Syekh Abdul Jalil merupakan mantan penghulu Kerajaan Sumedang. Namun karena lain hal, dirinya kemudian pergi dari kerajaan tersebut hingga sampai ke wilayah yang menjadi Kampung Dukuh Dalam. Masyarakat pun sangat menghormati sosok ini dan mengikuti setiap larangannya.

Misalnya tidak boleh menebang tumbuhan yang ada di Hutan Larangan yang terdapat makam Syekh Abdul Jalil. Karena bila melanggar aturan akan mendatangkan petaka. Seperti kisah Soleha yang pernah membeli kayu untuk membuat rumah yang ternyata memberi penyakit kepadanya.

“Saya tak tahu kalau kayu itu berasal dari Hutan Larangan,” kata Soleha yang dimuat Liputan6.

3. Pelestarian alam

Rumah Dukuh Dalam (nugroho adhi/Flickr)

Abdul Syukur dan Husnul Qadim dalam jurnal ilmiah berjudul Islam, Tradisi Lokal, dan Konservasi Alam: Studi Kasus di Kampung Dukuh Kabupaten Garut menyebut mata pencaharian utama masyarakat di sana adalah bertani. Sistem pertanian yang dilakukan adalah menanam padi di sawah dan huma atau berladang.

  Ekowisata mangrove di Kepulauan Riau, cara jaga hutan agar bermanfaat bagi masyarakat

Selain bertani, penduduk Kampung Dukuh juga berkebun dan memelihara sejumlah ternak. Hampir semua penduduk menanami kebun mereka dengan bermacam-macam pohon dan buah-buahan. Hasil kebun penduduk berupa kayu-kayu hutan, seperti bambu, kayu kihiyang, dan pohon kelapa.

Penduduk Kampung Dukuh juga memelihara ternak dan dan ikan untuk mencukupi protein hewani. Karena itu Abdul menyebut masyarakat di sana memang hidup dengan menyesuaikan irama alam di sekelilingnya. Mereka percaya bahwa alam di mana mereka tinggal adalah juga makhluk hidup yang dapat berinteraksi dengan manusia.

Ahli Etnobotani ITB, Endah Sulistyawati dalam penelitiannya menyebut masyarakat Kampung Dukuh terbiasa berguru kepada alam. Sehingga mereka mendapat banyak pengetahuan yang besar mengenai tumbuhan yang bisa dijadikan obat.

Kini terdapat 137 jenis tumbuhan obat dan dari jenis tersebut proporsi terbesarnya dimanfaatkan untuk perawatan kesehatan bagi ibu yang melahirkan yakni sebanyak 41 tumbuhan. Dengan demikian penduduk Kampung Dukuh tidak hanya memenuhi kebutuhannya namun juga menyelamatkan dunia.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya