Ketika Suku Laut tidak bisa lagi melaut, mengapa?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Suku Laut (The Humanity forum/Flickr)

Suku Sekak, merupakan suku tua yang hidup di Pulau Bangka dan Belitung. Mereka berbaur dengan Suku Melayu, Tionghoa, Bugis dan Buton. Suku Sekak di Pulau Semujur yang kini menetap di Desa Baskara Bakti, Sejak 1973-1974 tidak lagi menetap di laut.

Saat ini sebagian besar masyarakat Suku Sekak bekerja untuk penambangan timah rakyat. Lahan yang dahulunya diberikan pemerintah sebagian besar sudah dijual. Pada dasarnya, Suku Sekak yang termasuk Suku Laut ingin kembali ke laut atau mencari ikan.

Lalu bagaimana kisah Suku Sekak? Dan apakah banyak Suku Laut tidak bisa lagi melaut? Berikut uraiannya:

1. Kisah Suku Laut

Suku Laut (The Humanity forum/Flickr)

Suku Sekak, sub Suku Laut merupakan salah satu suku tua yang hidup di Pulau Bangka dan Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung yang masih bertahan hingga saat ini. Jejak mereka telah ada sejak zaman Sriwijaya. Namun sejak 1973, suku ini tidak lagi pergi melaut.

“Sejak 1973, kami tidak lagi menetap di laut, dan 10 tahun terakhir sebagian besar kami tidak lagi melaut atau mencari ikan,” kata Batman, pawang atau tokoh adat Suku Sekak yang dimuat Mongabay Indonesia.

Diungkapkan Batman, suku ini sebagian besar ikut menjadi penambang timah untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sedangkan kebun yang dahulunya diberikan pemerintah, sekarang sebagian besar sudah dijual, dijadikan perkebunan sawit.

  Alasan spesies istimewa ini memerlukan perlindungan

Sekitar tahun 2009, saat melaut mereka ditangkap dan dilarang mencari ikan di laut karena menggunakan bom ikan. Padahal sebenarnya mereka bisa saja kembali melaut, walau ikan sekarang sudah sulit didapatkan. Sementara bila melaut lebih jauh, mereka akan kalah dengan kapal yang punya kapasitas besar.

2. Ikatan Suku Laut

Suku Laut (Yant Yanto/Flickr)

Batman mengisahkan hubungan antara Suku Laut dengan Suku Melayu di Pulau Bangka dan Belitung. Kisahnya, manusia di Bumi ini dijaga oleh dua putri. Putri duyung bernama Siti Muli yang menjaga wilayah Timur atau matahari terbit, sementara di Barat atau matahari terbenam di jaga Putri Murni Muna.

“Mereka bersaudara, yang tertua Siti Muli. Di masa lalu masyarakat yang dijaga Putri Murni Muna banyak hidup di daratan. Sementara yang dijaga Situ Muli hidup di Laut,” jelasnya.

Kelompok masyarakat yang dijaga Putri Siti Muli adalah Suku Laut, sementara yang dijaga Putri Murni Muna adalah Suku Melayu. Dalam perkembangannya, Suku Laut dan Suku Melayu terjadi pembauran melalui pernikahan. Banyak lelaki Suku Melayu mempersunting perempuan Suku Laut.

  Situ Rawa Kalong, tempat yang dahulunya kumuh kini jadi wisata favorit warga

Suku Sekak di Pulau Bangka tersebar di pesisir Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Induk dan Bangka Barat, serta di Bangka Selatan yang menyambung ke Selat Kaspar hingga Belitung Barat dan Belitung Timur. Batman mengatakan asal usul Suku Sekak dari Gunung Daik, Pulau Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

Arkeolog lahan basah, Bambang Budi Utomo menyebutkan kemungkinan besar Suku Laut yang saat ini menetap di Kepulauan Riau dahulunya merupakan perompak yang berperan penting dalam Kedatuan Sriwijaya, Kesultanan Malaka, dan Kesultanan Johor.

3. Ingin kembali ke laut

Suku laut (warlock14/Flickr)

Batman mengungkapkan pada dasarnya Suku Sekak di komunitasnya ingin kembali ke laut atau mencari ikan. Hal ini karena penambangan timah tidak akan abadi, bila habis maka habis pula sumber kehidupan Suku Sekak. Sementara salah satu cara bertahan hidup adalah kembali ke laut.

Namun persoalannya untuk kembali ke laut, mereka tidak memiliki perahu dengan kapasitas lebih baik. Sementara sekarang terjadi penambangan timah di pantai dan laut yang biasanya merupakan wilayah pencarian ikan dari Suku Laut Sekak.

  Kisah Sekapuk, desa yang dahulu miskin sekarang jadi desa miliarder

Sebelum adanya penambangan timah di laut, sekitar 45 ribu nelayan hidup di sepanjang pantai dan laut Pulau Bangka dan Belitung yang luas daratannya sekitar 1,6 juta hektare. Termasuk nelayan dari Suku Laut Sekak. Sedangkan terkait laut yang terjadi karena penambangan timah, PT Timah melakukan sejumlah rehabilitasi laut.

Kegiatan ini berupa rumpon, fish shelter dan atraktor cumi yang gunanya membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan para nelayan di wilayah pesisir. Upaya tersebut sudah dilakukan di perairan Teluk Limau, Pulau Lampu Belinyu, Rebo dan Matras, dan beberapa yang lain.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya