Kisah Desa Wanar, kampung bonsai turun-temurun

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Bonsai (Steven/Flickr)

Namanya adalah Desa Wanar. Tempat ini terletak di Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Desa ini berada di sekitar tujuh kilometer ke arah barat dari pusat kota. Saking populernya desa ini dengan bonsai, Pemerintah Lamongan menobatkan desa ini sebagai desa wisata.

Proses regenerasi para ahli taman ini berjalan secara ilmiah. Sebelum jadi ahli, para calon tukang yang kebanyakan lulusan SMA biasa ikut bekerja kepada mereka yang sudah berpengalaman. Mereka ini yang pada gilirannya jadi ahli atau tukang taman begitu seterusnya.

Lalu bagaimana Desa Wanar ini berkembang? Dan apa perubahan yang dirasakan? Berikut uraiannya:

1. Desa bonsai

Bonsai (Prasanth Kumar.S/Flickr)

Wanar merupakan desa yang kini dikenal sebagai kampung bonsai. Tempat ini berlokasi di Kecamatan Pucuk, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Saking populernya desa ini dengan bonsai, Pemerintah Lamongan menobatkan desa ini sebagai desa wisata.

“Iya, 26 Maret lalu, desa kami ditetapkan sebagai desa wisata oleh Pemkab Lamongan. Desa ini punya banyak ahli taman, tanaman hias dan bonsai,” kata Ali Thohir, Kepala Desa Wanar yang dimuat Mongabay Indonesia.

Bonsai dan tanaman hias pun banyak dijumpai di desa ini. Setiap jengkal lahan kosong, ada bonsai dan tanaman hias berbagai jenis dan ukuran. Mayoritas ipik dan pule, sama-sama dari keluarga Ficus SPP. Ali menyebut predikat kampung bonsai tak lepas dari mata pencaharian warga sebagai ahli atau tukang taman.

  Jelajah 3 desa adat Indonesia, berwisata sembari kenali warisan leluhur

Hal yang unik, keahlian itu tak mereka dapat dari bangku sekolah atau kuliah tetapi secara otodidak. Keahlian itu, katanya mereka dapat turun temurun sejak 1980-an. Ketika itu ada seseorang warga merantau di Surabaya sebagai penjual pupuk dan tak sengaja dimintai tolong merawat taman milik pelanggannya.

“Di Surabaya, warga yang jualan pupuk ini diminta merawat taman. Lama-lama permintaan merawat taman itu makin ramai, akhirnya ngajak tetangga lain,” katanya.

2. Warisan turun temurun

Bonsai (aikio_2u/Flickr)

Sejak saat itu, pekerjaan jadi tukang taman terus ditularkan secara turun temurun. Bahkan, katanya, dari 6.673 warga, sekitar 30-40 persen jadi tukang taman. Beberapa, bahkan melakoni pekerjaan itu hingga ke luar negeri, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

Proses regenerasi para ahli taman ini berjalan secara alamiah. Sebelum jadi ahli, para calon tukang yang kebanyakan lulusan SMA biasa ikut bekerja kepada mereka yang sudah berpengalaman. Mereka ini yang pada gilirannya jadi ahli atau tukang taman begitu seterusnya proses regenerasi terjadi.

  Hikayat pohon gharqad, pelindung kaum Yahudi pada akhir zaman

Zakariya, salah satu warga hidup yang menjadi tukang taman menyebut keahlian membuat landscape taman diperoleh dari saudaranya. Ketika masih SMA, dia kerap diajak ikut bekerja sebagai kuli, sementara di sela libur sekolah dia ikut menggarap pekerjaan ini.

Sedangkan Hanafi menyebut keahlian ini dirinya peroleh dari senior warga kampung yang lain. Untuk pekerjaan itu, dia memenuhi pekarangan rumah dengan beragam bonsai dan tanaman hias. Menurutnya, bonsai-bonsai itu akan memberikan pemasukan lebih ketika sedang mengerjakan taman.

“Kalau taman, biasa ada bonsainya. Tidak perlu beli di luar, cukup dari yang ada ini,” kata Hanafi.

3. Mengenal Wanar

Bonsai (Steven/Flickr)

Wanar merupakan satu dari 17 desa di Kecamatan Pucuk, Lamongan. Desa seluas 5,7 kilometer persegi, dengan penduduk 6.637 keluarga ini merupakan terluas se kecamatan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Lamongan 2018, lahan Desa Wanar mencapai 569 hektare.

Mayoritas untuk pertanian (359,47 hektare), lahan kering (106 hektare), bangunan (49 hektare), dan lain-lain (54.52 hektare). Kendati memiliki lahan pertanian cukup luas, sektor ini dinilai kurang jadi pilihan. Dari 359.47 hektare lahan pertanian, 109 hektare sawah tadah hujan.

  Langkah bangun desa mandiri dan lestari, apa yang perlu dilakukan?

Dengan kata lain, saat kemarau, lahan lebih banyak menganggur. Baru kembali ditanami saat musim hujan tiba. Bonsai dan tanaman hias pun jadi andalan. Sahlan, pengurus kelompok tani desa mengatakan bertani jadi dilematis. Beralih menjadi tukang taman, jelas tak memungkinkan lantaran tenaga dan usia tak lagi muda.

“Tukang taman itu kudu keliling terus nyaro orderan. Kecuali yang muda-muda, buka jasa lewat internet. Kayak saya yang sudah tua ini ya ndak mungkin, mau tidak mau ya bertani ini,” katanya.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya