Kisah penghormatan masyarakat kepada sumber air panas Wae Bobok di Flores NTT

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Sumber mata air panas (Dede Eko S/Flickr)
Sumber mata air panas (Dede Eko S/Flickr)

Warga setempat menyebut sumber air panas ini Wae Bobok. Tempat ini ada di Dusun Ndengo, Desa Seribu Air Terjun War Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dipercaya warga, sumber air panas ini telah ada jauh sebelum lokasi itu dijadikan sawah.

Berendam di air panas bermineral dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Bedasarkan alasan tersebut, masyarakat sekitar kemudian membangun pemandian air panas, sebagai tujuan rekreasi dan pengobatan. Selain itu ada juga mitos yang mengiringi kisah dari Wae Bobok ini.

Lalu bagaimana awal mula kisah dari pemandian air panas di NTT ini? Apa juga tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat untuk menghormati “leluhur” yang menempati sumber air panas? Berikut uraiannya:

1. Mitos Wae Bobok

Pemandian air panas (Dede Eko S/Flickr)
Pemandian air panas (Dede Eko S/Flickr)

Masyarakat setempat mempercayai, sumber air panas Wae Bobok berkaitan dengan gunung api. Bisa jadi, menurut Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kampung Ceria, Albert Obat, muncul karena adanya letusan gunung api ribuan tahun silam.

Disadur dari Kata Desa, Albert menyatakan berdasar cerita rakyat yang berkembang pada zaman perburuan Kampung Ndengo, tempat ini merupakan kawasan hutan, padang savana, dan semak belukar. Sedangkan nenek moyang mereka bernama Umpu Bobok.

  Tim Qurban Traveler Nusantara SalamAid siap sambangi wilayah pelosok

Bersama dengan istrinya, Umpuk Bobok lantas tinggal di sebuah gubuk yang terdapat di lokasi ini. Dipercaya sosok ini memiliki ilmu magis dalam hal berburu. Konon, suatu hari istri Umpu Bobok sedang memasak daging hasil buruan.

Namun, tiba-tiba mendung datang dan ditambah datang hujan turun dengan lebat. Akibatnya, air kali Wae Racang dan Wae Brisung meluap.

Karena banjir ini, Umpu Bobok dan istrinya serta gubuk mereka hanyut. Beberapa waktu setelah musibah ini, munculah mata air panas di bekas pondok tersebut.

Karena pernah menjadi tempat tinggal Umpu Bobok, warga setempat memberi nama sumber air panas itu Wae Bobok. Konon saking menghormati tempat ini, ketika turun ke sawah, warga selalu menyapa sebelum tiba di sumber air panas itu. “Empo, mame hang ga”? (Nenek, sudah masak?), begitu sapaan warga.

Bila sapaan ini diucapkan, dipercaya akan terdengar bunyi air mendidih. Dan menurut Albert, ini merupakan jawaban dari roh Umpu Bobok yang dahulunya tinggal di lokasi itu. Jadi air panas ini, dipercaya sebagai penjelmaan akan kesaktikan Umpuk Bobok yang terhanyut banjir pada masa silam.

2. Ritual adat Hising

Pemandian air panas (Dede Eko S/Flickr)
Pemandian air panas (Dede Eko S/Flickr)

Pada tanggal 19 Februari 2021, pukul 10 WITA, tokoh-tokoh masyarakat bersama pemerintah desa menggelar ritual adat yang mereka sebut Hising.

  Danau Sano Nggoang, misteri danau kawah terdalam di dunia

Ritual ini memiliki arti untuk memohon restu sekaligus izin kepada roh leluhur yang menghuni sumber mata air panas, karena lokasi ini akan ditata menjadi spot wisata desa.

Warga memang menyakini bahwa, mata air ini ada yang menjaga. Beberapa bahan sesajian dihadirkan, seperti ayam jantan berbulu warna putih yang melambangkan ketulusan.

Dengan persembahan ini mereka berharap nantinya bisa meningkatkan kesejahteraan warga. Begitu kepercayaan adat sebelum mereka menyembelih ayam jantan di sumber air panas itu.

“Tujuan ritual ini digelar agar apa yang kami rencanakan dan kerjakan di tempat ini mendapat izin dan direstui roh yang menghuni sumber air panas ini sehingga jauh dari bahaya serta hambatan,” kata Albert.

Hadir dalam ritual tersebut, Kepala Desa Wae Lolos, Gervinus Toni, dan Camat Sano Nggoang, Siprianus Silfris serta sejumlah tokoh masyarakat dan anggota pokdarwis Kampung Ceria.

Pada kesempatan itu, Gervinus menambahkan bahwa pemilik sawah telah menghibahkan sumber air panas ini kepada Pemerintah Daerah untuk dikelola menjadi spot wisata.

3. Penataan tempat wisata

Pemandian air panas (Dede Eko S/Flickr)
Pemandian air panas (Dede Eko S/Flickr)

Penataan tempat pemandian air panas Wae Bobok menjadi destinasi wisata baru kini hampir rampung dikerjakan. Mulai dari tempat parkir, akses jalan, kolam renang/terapi hingga gasebo dan sarana penunjang lainnya sedang dikebut dikerjakan. Gervinus menyebut beberapa item pekerjaan dan ukuran dari tempat wisata ini nanti.

  Kirab Budaya Puji Jagat, cara petani lereng Gunung Sumbing ucapkan rasa syukur

Seperti kolam renang berukuran 6×8 meter, kolam terapi 4×6 meter, kolam induk di sumber air panas berukuran 6×8 meter, toilet dan halaman olahraga di sekitar kolam berukuran 6×18 meter.

Juga akses rabat sepanjang 273 meter dan tempat parkir 10×20 meter. Dirinya menyatakan progres dari pembangunan ini sudah mencapai 70 persen.

Gervinus menyebut total anggaran yang digelontorkan untuk tempat wisata tersebut sebear Rp600 juta dan bersumber dari Kementerian Desa.

Sementara itu dari Labuan Bajo menuju sumber air panas ini membutuhkan waktu sekitar 60 menit menggunakan kendaraan. Setiba di KM 31 di Simpang Langgo, belok kanan mengikuti ruas jalan wisata Simpang Langgo-Werang.

Satu jalur menuju lokasi air terjun Cunca Lolos atau Cunca Rami dan Danau Sano Nggoang. Tiba di Simpang Ndengo, hanya butuh 10 menit untuk tiba di lokasi air panas tersebut. Ketika sampai, akan disuguhkan pemandangan hamparan sawah nan hijau membentang sejauh mata memandang.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya