Kisah Sekapuk, desa yang dahulu miskin sekarang jadi desa miliarder

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Gunung kapur (Jakop Iskandar/Flickr)
Gunung kapur (Jakop Iskandar/Flickr)

Lihatlah Sekapuk, desa yang ada di Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim), awalnya tak banyak diperhitungkan dan dipandang sebelah mata oleh pemerintah setempat. Lahannya tandus, sedangkan kawasannya kumuh.

Namun saat ini Desa Sekapuk yang memiliki 6.000 warga itu mendeklarasikan sebagai desa miliarder dengan pendapatan asli mencapai Rp3,412 miliar. Bahkan tempat yang dahulunya merupakan area bekas tambang ini berubah menjadi destinasi wisata.

Lalu bagaimana proses Desa Sekapuk menjadi desa miliarder? Lalu bagaimana peran masyarakat dalam mendukung program ini? Berikut uraiannya

1. Kekayaan bukan karena sulap

Gunung Kapur (renXion/Flickr)
Gunung Kapur (renXion/Flickr)

Desa Sekapuk yang dikelilingi perbuktian kapur ini dihuni 6.000 warga yang tercakup dalam 1.257  KK. Mereka ini tersebar di 29 RT dan 5 RW. Sejak lama, warga desa ini mengambil batu-batu kapur yang ada di area perbukitan itu. Ketika batu kapur sudah tak lagi bisa diambil, mereka meninggalkan begitu saja.

Bahkan sejak 2013-2017 bekas galian kapur itu dijadikan tempat pembuangan sampah warga. Sampah menggunung. Melihat kumuhnya kawasan itu, Abdul Halim, Kepala Desa Sekapuk 2017 – 2023 memutar otak. Dia tak ingin kawasan desanya menjadi kumuh. 

  Larung Sembonyo, upacara adat nelayan Trenggalek ucapkan rasa syukur

“Dulu lahan wisata Setigi hanyalah tempat sampah. Saya coba bersihkan dan rapikan. Bahkan di awal pembangunan Setigi, ada fasilitas warga yang dibakar warga,” ujar dia yang disadur dari Kompas.

Untuk mewujudkan tekadnya itu, dia mengumpulkan warga, kepada mereka, Halim mengajak bersama-sama untuk membersihkan lingkungan dan menjadikan desanya menjadi desa yang maju.

“Saya melihat tempat ini cocok dijadikan tempat wisata,” ucap Halim.

2. Dijadikan tempat wisata

Desa kapur (Jakop Iskandar/Flickr)
Desa kapur (Jakop Iskandar/Flickr)

Desa ini memiliki area tambang kapur seluas 5 hektare. Area tambang ini menjadi aset desa, sebagian sudah tak ditambang, namun sebagian lagi masih ditambang warga. Tidak ingin menyia-nyiakan aset desa ini, pada tahap awal, Halim mengelola 1,5 hektare lahan bekas tambang untuk dijadikan tempat wisata.

Pemandangan di area bekas tambang ini sangat eksotik bak kastil-kastil zaman Yunani kuno. Di sini ada danau buatan beserta jembatan peradaban, rumah honai Papua, wahana wisata air, spot foto, dinding topeng, candi topeng Nusantara, gerbang gaib, patung semar, goa pancawarna, hingga gunung kapur bekas tambang yang terlihat indah.

  Nelayan Natuna dan pengetahuan melihat petunjuk alam yang tinggal kenangan

Halim mengaku untuk mengerjakan lahan seluas 1,5 hektare itu menelan biaya kurang lebih Rp2 miliar. Pembiayaan ditanggung bersama, desa dan warga. Desa mengeluarkan biaya Rp222 juta untuk membangun infrastruktur jalan.

“Ada 387 warga yang jadi investor,” ujar Halim seperti ditulis Time Indonesia.

Investasi ini dilakukan melalui taplus invest yang dikelola BUMDes. Satu lembar saham dihargai Rp2.400.000 atau dengan skema menabung Rp8 ribu per hari atau Rp200 ribu per bulan. Dana investasi warga inilah yang digunakan untuk membangun prasarana lainnya.

Kurang lebih setahun disiapkan, area wisata yang dikenal dengan Setigi itu mulai dibuka pada 1 Januari 2020. Setigi merupakan singkatan dari Selo (batu), Tirto (air), Giri (bukit). Kerja keras ini terbayar, begitu dibuka, wisatawan berduyun-duyun datang, tak hanya wisatawan lokal tetapi juga dari mancanegara.

3. Desa miliarder

Desa kapur (Jakop Iskandar/Flickr)
Desa kapur (Jakop Iskandar/Flickr)

Dengan adanya lokasi wisata ini, menurut Halim, kondisi perekonomian di desanya berubah drastis. Ada 289 tenaga kerja lokal terserap. Ditambah lagi, unit usaha tambang kapur yang dikelola BUMDes berhasil menyerap 350 tenaga kerja.

  Desa Sungai Sekonyer dan kesadaran warga akan kelestarian lingkungan

“Lapangan kerja baru itu terdiri dari stand kuliner, pegawai wisata Setigi, home industri Dapur Mbok Inggih, dan pekerja tambang. Semuanya warga asli Sekapuk,” kata Halim seperti ditulis Ngopibareng.

Penghasilan bersih BUMDes setiap tahun diperkirakan mencapai Rp4 miliar. Belum lagi usaha camilan Dapur Mbok Inggih yang memiliki target Rp1,9 miliar per tahun. Unit usaha itu, menurut Halim mampu menyumbang pendapatan asli desa (PADes) sekitar Rp1,5 miliar.

“Karena itu kami berani mendeklarasikan sebagai Desa Miliarder. Karena perputaran uang di Sekapuk Miliaran,” kata Kades berambut gondrong ini.

Dirinya memang tidak main-main, desa ini memiliki 5 unit mobil operasional dan puluhan sepeda listrik. Dari 5 unit itu hanya satu mobil yang menggunakan dana desa.  Halim menegaskan deklarasi Desa Miliarder ini bukan bertujuan untuk kesombongan, namun memberi motivasi bagi desa lain agar bangkit di tengah pandemi.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya