Kuliner lempah kuning, simbol harmonisnya alam dan masyarakat Bangka Belitung

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Lempah Kuning (Mowel Blackpaker/Flickr)
Lempah Kuning (Mowel Blackpaker/Flickr)

Lempah kuning menjadi makanan khas Bangka Belitung. Makanan ini menjadi sebuah simbol dari keharmonisan antara manusia dan alam. Bagi masyarakat Bangka Belitung, makanan ini menjadi masakan yang memasukan semua budaya darat dengan laut.

Kuliner ini telah dikonsumsi masyarakat Bangka Belitung selama ratusan tahun dengan beragam manfaat kesehatan. Apalagi bahan-bahan yang digunakan pun mudah di dapat di alam sekitar Bangka Belitung. Karena itulah kuliner inilah selalu menjadi andalan masyarakat.

Kemudian bagaimana sajian ini menjadi simbol keharmonisan alam dengan manusia? Dan mengapa masyarakat Bangka Belitung tetap menjaga kelestarian kuliner ini? Berikut uraiannya:

1. Lempah kuning dan alam

Lempah Kuning (Commons Wikimedia)
Lempah Kuning (Commons Wikimedia)

Lempah kuning merupakan sajian kuliner masyarakat Bangka Belitung yang sudah ada sejak ratusan tahun. Makanan ini dijadikan simbol akulturasi budaya antara orang laut dan orang darat beserta kearifan masyarakat terhadap lingkungan.

Lempah kuning selalu menjadi andalan masyarakat, pasalnya bahan-bahannya mudah didapat dari lingkungan sekitar. Seperti namanya, warna kuning berasal dari dominasi kunyit sebagai bahan yang mendominasi. Sedangkan lempah, diambil dari istilah “lem” yang berarti mencampur atau merekatkan, dan “pah” dari kata rempah.

  Ajaran makanan sehat dan ramah lingkungan ala leluhur yang telah dilupakan

Memang ada beragam rempah yang digunakan untuk bumbu lempah kuning. Misalnya saja, kunyit, lengkuas, laos, lada, kemudian cabai, kemiri, asam kandis, bawang merah, nanas, dan terasi. Bahan-bahan ini sangat mudah didapatkan dari darat dan juga dari laut sepert ikan.

“….Lempah kuning telah menjadi masakan asimilasi budaya orang darat dan orang laut pribumi Bangka-Belitung,” kata Akhmad Elvian, budayawan Bangka Belitung yang disadur dari Mongabay Indonesia.

Karena masakan ini, masyarakat Bangka Belitung menjadi lebih menjaga lingkungannya. Karena jika hutan, kebun dan laut rusak karena penambangan timah dan lainnya, tentu akan membuat limpah kuning sulit untuk kembali dihidangkan.

2. Kebudayaan kuliner Bangka Belitung

Lempah Kuning (Commons Wikimedia)
Lempah Kuning (Commons Wikimedia)

Masyarakat Bangka Belitung mengenal istilah “orang darat” yang didominasi etnis Melayu, sedangkan “orang laut” seperti Suku Laut Sekak atau Sawang yang tinggal di pesisir atau pulau-pulau kecil. Di Belitung khususnya, lempah kuning lebih dikenal dengan nama gangan. Jenisnya dibagi menjadi dua, yaitu lempah kuning darat dan laut.

“Kalau lempah kuning darat menggunakan daging sapi atau ayam, sedangkan lempah kuning laut menggunakan ikan sebagai bahan utamanya,” kata Budi Afriansyah, etnobiologi dan pengajar di Universitas Bangka Belitung.

  Cara unik Desa Detusoko menghadapi hama tanaman padi

Masyarakat Bangka Belitung juga memiliki budaya yang dikenal istilah “lempah darat” yang bahan utamanya menggunakan rebung, keladi, jemur, dan jantung pisang. Bumbunya lebih sederhana, yakni terasi dan sedikit garam.  Kemudian dalam berjalannya waktu, lempah kuning mulai dikonsumsi orang laut dan darat.

Menurut Budi, lempah kuning diperkirakan telah dikonsumsi sejak ratusan tahun lalu. Hal ini bisa dilihat dari peralatan masak yang ditemukan pada Suku Lom tersebut. Kemudian ada alat penumbuk bumbu dan sebagainya, yang kemungkinan sudah berumur ratusan tahun.

Warna kuning keemasan yang berasal dari kunyit dan rempah menjadi simbol kekayaan, kebahagian, dan kejayaan. Lempah kuning juga menjadi simbol keterbukaan dan keharmonisan alam masyarakat Bangka. Selain itu, pemerintah telah menetapkan lempah kuning menjadi warisan budaya.

3. Beragam manfaat kesehatan

Perahu Nelayan Bangka (Commons Wikimedia)
Perahu Nelayan Bangka (Commons Wikimedia)

Gubernur Kepulauan Bangka-Belitung, Erzaldi Rosman pernah menyatakan jumlah penderita penyakit kanker di Bangka Belitung setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal ini karena masyarakat berpotensi terkena paparan unsur radioaktif alamiah, ikutan timah.

Karena itu dengan mengkonsumsi lempah kuning bisa dijadikan salah satu cara mencegah penyakit kanker. Rempah-rempah ini digunakan dalam masakan ini didominasi tanaman dari famili Zingiberaceae (suku jahe-jahean) seperti lengkuas, kunyit, dan sebagainya.

  Ramah lingkungan, ini 3 cara tangkap hasil laut ala orang Timur

“Khusus di famili Zingiberaceae, seperti kunyit yang porsinya cukup besar, memang mengandung kurkumin sebagai senyaman aktif, yang terbukti dapat menghambat atau bahkan membunuh pertumbuhan sel kanker. Namun, secara perlahan,” kata Henri peneliti etnobiologi dari Universitas Bangka Belitung.

Bahkan, selain mencegah kanker, mengkonsumsi rempah-rempah bisa mencegah penderita kanker terdampak virus Covid-19. Walaupun tentunya perlu ada penelitian lebih lanjut. Namun penggunaan kunyit yang mengandung kurkumin dan senyawa aktif bisa meningkatkan daya tahan tubuh kita.

“Hal ini terbukti, dari perpaduan bumbu rempah pada lempah kuning, yang sangat bermanfaat dan relevan dengan masyarakat Bangka Belitung bahkan global,” tutur Henri.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya