Langkah bangun desa mandiri dan lestari, apa yang perlu dilakukan?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
desa wisata (Kadek Suryawan/Flickr)
desa wisata (Kadek Suryawan/Flickr)

Di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, ada beberapa desa yang bisa mandiri melalui pengembangan ekonomi dengan tetap menjaga lingkungan hidup alias ramah alam. Desa Huntu Selatan misalnya, memanfaatkan sawah jadi objek wisata dengan pemasukan ratusan juta dalam beberapa bulan. 

Di Bali juga ada gerakan dari desa untuk menyajikan makanan-makanan lokal dengan tampilan lebih cantik dan mewah bagi penikmati kuliner. Sementara di Papua Barat, ada juga pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan untuk mengembangkan komoditas unggulan di sana.

Lalu bagaimana masyarakat desa mengembangkan potensinya? Dan apakah hal ini membuat desa jauh lebih mandiri? Berikut uraiannya.

1. Desa yang mandiri

Desa Cibuntu (syafaat/Flickr)
Desa Cibuntu (syafaat/Flickr)

Desa Huntu Selatan yang terletak di Bone Bolango, Gorontalo, ini punya pemasukan Rp500 juta dalam 5 bulan dari hasil memanfaatkan kekayaan alam dengan ramah tanpa merusak. Desa ini membangun jembatan bambu di tengah persawahan dan jadi objek wisata.

Di sana ada berbagai ornamen, seperti kata-kata unik dan lucu yang bisa jadi tempat foto-foto atau swafoto pengunjung. Menurut Hamim Pou, Bupati Bone Bolango, pembangunan jembatan bambu ini menghabiskan Rp150 juta yang diambil dari dana desa.

  Desa Sukarara, menjaga adat dan tradisi budaya berbasis lingkungan

Hamim punya program satu desa, satu destinasi wisata. Prinsipnya adalah inovasi. Salah satu desa di Gorontalo juga ada yang memaksimalkan kanal kecil jadi objek wisata. Penghasilan desa wisata ini bisa mencapai Rp50 juta per bulan.

“Kita tidak perlu sangat modern meniru total apa yang di kota, sebaiknya memaksimalkan potensi yang ada, dengan tak meninggalkan nilai lokal,” katanya dalam Mongabay Indonesia.

2. Potensi yang dimaksimalkan

desa wisata (Harry Purwanto/flickr)
desa wisata (Harry Purwanto/flickr)

Pria yang juga Ketua Bidang Konservasi Lintas Temu Kabupaten Lestari (LTKL) ini mengatakan dalam membangun desa wisata perlu memperhatikan titik-titik foto dan kekhasan kuliner di daerah itu. Bila dua hal ini dikelola dengan baik, menurutnya, bisa meningkatkan pendapatan desa.

Hamim juga menjelaskan bahwa mereka menyiapkan akomodasi di desa-desa, terutama yang berada di tepian hutan. Para wisatawan dengan minat khusus bisa tinggal di sana. Di Bone Bolango, ada beberapa satwa endemik, seperti tarsius, macaca gorontalo (Macaca nigrescens), rangkong, dan lain-lain.

“Ini gambaran potensi bahwa kita tidak perlu tercerabut dari akar kekhasan di desa dengan tetap menonjolkan kekuatan desa orang akan datang untuk menggerakan ekonomi desa itu.”

  Ketika Suku Laut tidak bisa lagi melaut, mengapa?

Sedangkan Ayu Gayatri dari Pengalaman Rasa, Bali, juga melakukan gerakan dari desa. Dia bekerja sama dengan para petani dan artisan lokal dari desa di Bali Utara untuk menyajikan makanan-makanan lokal namun dengan tampilan lebih cantik dan mewah bagi penikmat kuliner kelas dunia.

Di Papua Barat, Nurhayati Widiastuti, Direktur Bentara Papua, melakukan pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. Di sana dirinya mengembangkan komoditas unggulan, seperti kopi dan sagu. Hal ini juga dilakukan untuk kemandirian pangan.

“Pengembangan komoditas unggulan seperti kopi dan sagu, selain sebagai pemberdayaan pemuda lokal juga kemandirian pangan yang baik bagi kebutuhan Papua,” katanya. 

3. Teknologi masuk desa

Desa Wisata Cibuntu (syafaat/Flickr)
Desa Wisata Cibuntu (syafaat/Flickr)

Founder Spedagi-Movement, Singgih S Kartono, beranggapan era industri menyeret kehidupan ke dasar jurang materialisme dengan dampak kerusakan alam dalam skala global dan memunculan kekosongan batin. Karena itu menurutnya, revitalisasi desa merupakan langkah strategis dan mendasar.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memungkinkan orang tinggal di mana saja, termasuk di desa. Dengan kondisi desa yang maju, sejahtera, mandiri, dan lestari akan membantu terwujudnya keseimbangan antara desa dengan kota.

  Desa wisata sebagai ladang konservasi alam dan budaya

Sementara itu Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM, menyatakan pemerintah telah meluncurkan berbagai macam stimulus mendukung UMKM guna pemulihan ekonomi nasional. Disebutnya, pinjaman-pinjaman sudah tersalur melalui bank pembangunan daerah (BPD) dengan target mendorong pertumbuhan sektor UMKM.

Data dari Kementerian Dalam Negeri menyebutkan ada 11 BPD mendapatkan penempatan uang negara (PUN) Rp14 triliun dan disalurkan kredit hingga Rp27,65 triliun. Rata-rata dana yang disalurkan BPD ini disalurkan kepada UMKM.

Direktur Utama Semesco Indonesia, Leonard Theosabrata, mengatakan secara umum ada tiga transformasi yang diperlukan UKM dan bisa dilakukan dari desa, yakni transformasi dari informal ke formal, transformasi masuk ke rantai pasok, dan digitalisasi.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya