Mayoritas petani berusia di atas 40, ancaman kedaulatan pangan?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi petani (Maude Bardet/Flickr)

Regenerasi petani di Indonesia disebut berjalan secara lambat. Disebutkan mayoritas para petani yang ada di Indonesia berada di usia tua dan jarang yang berumur di bawah 40 tahun. Banyak yang menilai anak-anak muda tidak tertarik dengan dunia pertanian.

Menua dan berkurangnya petani pada hal ini menjadi tantangan  produksi pangan dunia. Produksi pangan menurun sementara permintaan akan terus tumbuh. Dengan situasi ini maka penyediaan pangan tidak dapat lagi mengharapkan atau bergantung pada pasar global.

Lalu bagaimana kondisi petani muda saat ini? Dan apa dampaknya bagi pangan Berikut uraiannya:

1. Regenerasi petani lambat

Ilustrasi petani di pagi hari (David Lazar/Flickr)

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi menyebut regenerasi petani Indonesia berjalan lambat. Disebutkan mayoritas para petani yang berada di Indonesia berada di usia tua dan jarang berumur di bawah 40 tahun.

“Regenerasi petani merupakan salah satu kunci untuk menjaga dan meningkatkan produktivitas pertanian. Sayangnya usia mayoritas petani di Indonesia sudah tua, hanya 8 persen yang berusia di bawah 40 tahun,” kata Azizah yang dimuat Republika.

Menurut Azizah, salah satu alasan mengapa para anak muda tidak tertarik menjadikan sektor pertanian sebagai mata pencaharian, karena pendapatan petani tidak mampu menjamin pemenuhan kebutuhan hidup mereka. 

  Dewi Sri, mitologi bagi tradisi kesuburan pertanian di Nusantara

Mengacu kepada data Badan Pusat Statistik, upah nominal buruh tani nasional pada Juni 2022 mencapai Rp58.337 per hari, atau meningkat 0,18 persen dari upah pada Mei 2022 dan 2,71 persen kalau dibandingkan dengan upah pada Juni 2021.

Namun ungkapnya kenaikan ini berbanding terbalik dengan upah rill, yakni perbandingan antara upah nominal buruh tani dengan indeks harga konsumsi rumah tangga pedesaan yang menurun yakni hanya sebesar 1,03 persen.

2. Lebih pilih kerja di perkotaan

Ilustrasi petani (sobat lama/Flickr)

Azizah menjelaskan walau ada peningkatan kesejahteraan, petani masih menghadapi beragam persoalan seperti tingginya ongkos produksi, kesulitan mendapatkan pupuk, subsidi maupun non subsidi, hingga risiko gagal panen.

“Harga pupuk nonsubsidi pun melonjak sejak pecahnya konflik Rusia dan Ukraina. Sementara kelangkaan pupuk subsidi bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari panen,” paparnya.

Sementara itu bagi Azizah akses para petani kepada teknologi juga belum meluas, dan bantuan alat mesin pertanian juga masih terbatas dan seringkali belum tepat guna. Lahan pertanian, jelasnya juga semakin menciut akibat alih fungsi menjadi kawasan perumahan atau industri.

  Cara Suku Sahu mencegah krisis pangan dengan tradisi menyisakan hasil panen

“Berbagai faktor ini serta potret petani yang identik dengan berkotor-kotor dan pendidikan yang rendah, akhirnya mendorong orang muda untuk mencari kerja di daerah perkotaan dan di luar sektor pertanian,” bebernya.

Berdasarkan data SUTAS BPS tahun 2018, sebanyak 66,42 persen tenaga kerja sektor pertanian tidak sekolah atau tidak tamat sekolah dasar, sementara 16,13 persennya hanya lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama.

3. Berdampak pada pangan

Kebun hidroponik Maisa Petani (Arie Basuki/Liputan6.com)

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah menyebut lambannya regenerasi petani juga terjadi secara global. Menurutnya, secara umum sektor pertanian mengalami penuaan dan populasi petani terus berkurang.

Misalnya di sub-sahara Afrika rata-rata berusia 60 tahun. Pun di Amerika rata-rata petaninya berusia 55 tahun. Sementara di Indonesia berdasarkan data sensus pertanian 2013 diketahui bahwa 61,8 persen berusia di atas 45 tahun dan hanya 12,2 persen saja yang berusia di bawah 35 tahun.

Potret regenerasi petani yang berjalan lamban berpotensi kuat mengancam ambisi pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan. Pasalnya produksi pangan menurun sementara permintaan akan terus tumbuh.

  Orang Tobaru yang menjaga tradisi menanam padi jenis lokal

“Dengan situasi ini maka penyediaan pangan tidak dapat lagi mengharapkan atau bergantung pada pasar global,” ucap Said yang diwartakan Kabar Bisnis.

Said pun berharap adanya penguatan produksi pangan dalam negeri menjadi kunci jika ingin terbebas dan kondisi rawan pangan. Karenanya, dia mengingatkan pemerintah jangan menganggap remeh terhadap lambanya persoalan regenerasi petani.

“Ini persoalan urgen yang harus diatasi jika ingin berdaulat pangan seperti yang dicita-citakan dalam nawacita,” tandasnya.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya