Membaca nasib dalam tradisi potong ayam masyarakat Flores

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi potong ayam (wicakz yuhuuuu/Flickr)

Ritual adat tanu manuk memiliki makna jauh lebih dalam bagi setiap kaum pria di Desa Demondei dan Desa Mewet Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini untuk menentukan nasib orang yang menyerahkan kurban ayam.

Sebelum diantar ke Koker Bale, ayam terlebih dahulu didoakan oleh sang ayah atau kakak pria tertua. Setiap kaum pria yang hendak mengambil bagian dalam ritual adat itu menyampaikan niat sekaligus kesalahan yang pernah dibuat.

Lalu bagaimana tradisi ini penting bagi pria di Flores? Dan mengapa ritual ini bisa meramalkan masa depan seseorang? Berikut uraiannya:

1. Ritual potong ayam

Ayam (Amir Hamzah/Flickr)

Setiap kaum pria menyerahkan ayam jantan untuk melihat nasib pribadi dan keluarga sekaligus meminta perlindungan di masa depan. Kemeriahan pesta tahunan ini secara harfiah berarti membakar ayam.

Biasanya ritual ini melibatkan ratusan kaum pria. Biasanya ada lima suku yang ikut terlibat, yaitu Bubun, Narek, Lagadoni, Khaya, dan Ariana. Nantinya yang memotong ayam adalah ketua adat dari salah satu suku.

  Kisah penghormatan masyarakat kepada sumber air panas Wae Bobok di Flores NTT

Bubun dan Lagadoni memegang peranan sebagai penatua adat. Khaya, Narek, dan Ariana sebagai pelaksana dan penjaga keamanan. Sebelum ritual tuno manuk digelar, masing-masing suku ritual adat.

“Masing-masing kaum pria menyerahkan satu ayam jantan untuk disembelih. Penyembelihan ayam ini simbol kekuatan, keberhasilan, perlindungan, dan kesehatan. Kaum perempuan tidak dilibatkan, tetapi menyediakan perlengkapan perjamuan,” tulis Kornelis Kewa Ama dalam Membaca Nasib Lewat “Tuber” Ayam.

2. Ayam didoakan

Ayam (Zim Zum/Flickr)

Sebelum diantar ke Koker Bale, ayam terlebih dahulu didoakan oleh sang ayah atau kakak pria tertua. Setiap kaum pria yang hendak mengambil bagian dalam ritual adat itu menyampaikan niat sekaligus kesalahan yang pernah dibuat.

Penyembelihan ayam dilakukan ketua adat setelah pembacaan doa adat di Koker Bale. Doa itu berisikan syukur dan permohonan bagi orang yang menyerahkan ayam itu. Nama pria yang menyerahkan ayam disebutkan dalam doa agar mendapat perhatian khusus.

“Darah ayam yang menetes pertama disiram di Nuba Nara, simbol kehadiran leluhur,” paparnya.

Ayam kemudian diserahkan kepada anggota suku untuk diperiksa tuber atau jiwanya yang terlihat di sebuah tanduk kecil yang muncul di usus ayam. Jika tanduk tidak tampak, hal itu tanda bahaya bagi pria yang mempersembahkan ayam.

  Desa Sukarara, menjaga adat dan tradisi budaya berbasis lingkungan

Pria itu harus mengganti ayam baru sambil mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada mereka yang disakiti atau memohon perlindungan terhadap musuh-musuh. Ayam kemudian diserahkan ke ketua adat yang sedang duduk di panggung Koker Bale untuk disembelih.

“Dengan demikian, tuber sangat menentukan ritual kuno tuno manuk. Jika makin banyak ayam yang diganti, berarti kelakuan masyarakat di desa itu makin buruk. Kondisi ini dinilai mengganggu keharmonisan hubungan dengan leluhur, alam semesta, dan sesama manusia,” ucap kata Kornelis.

3. Tari dua malam

Ayam (Tai Lung Aik/Flickr)
Ayam (Tai Lung Aik/Flickr)

Dikatakan oleh Kornelis bahwa harmonisasi hubungan dengan tiga unsur itu sangat penting. Leluhur dinilai sebagai pelindung dan penjaga, ala3m semesta memberi hasil dan rezeki, dan sesama manusia sebagai bagian dari pribadi yang harus dihormati dan dijaga.

Selama penyembelihan ayam berlangsung, hadirin menggelar tarian adat yang disebut “dolo-dolo” atau “sole oha” di depan pelataran Koker Bale. Mereka menari melingkar sambil berpegangan tangan sepanjang malam hari,

“Tarian adat ini digelar dua malam berturut-turut,” kata Kornelis.

  Kenalkan ayam cemani! hewan yang berbalut mitos dengan harga fantastis

Ketika itu mereka berbalas pantun berisikan cinta, hidup berkeluarga, kehidupan sosial, dan lain-lain. Kemudian beberapa kaum pria dewasa melantunkan “sole oha”. Semacam nyanyian kemenangan, pujian dan penghormatan kepada leluhur.

Orang seperti ini harus memiliki nafas panjang dan perbendaharaan kata-kata adat yang kuat. Pada puncak “sale oha”, peserta berlari mengelilingi lingkaran sambil berpegangan tangan, kaki-kaki dihentakkan di tanah sampai menghasilkan irama bunyi sepadan.

Lewat tarian ini muncul sejumlah lagu daerah dalam kehidupan sehari-hari atau lagu gereja. Misalnya, tarian “dolo-dolo” dan lagu “dolo-dolo sudah mulai masuk dalam muatan sekolah dasar atau misa “dolo-dolo”.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya