Mengenal 4 suku adat yang berperan besar menjaga hutan Indonesia

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Ilustrasi pemukiman suku adat (Ikka/Flickr)

Bukan masyarakat modern, pemerintah, atau pihak konservasionis, orang yang paling berperan besar dalam menjaga hutan adalah masyarakat atau suku adat. Ungkapan tersebut harus diakui secara nyata, karena yang terjadi di lapangan memang begitu adanya.

Masyarakat adat umumnya masih mempertahankan nilai-nilai leluhur yang memandang alam sebagai hal yang perlu dihormati. Tak jarang, bahkan ada juga masyarakat adat yang mengeramatkan, memuliakan, atau memiliki bentuk penghormatan istimewa terhadap alam.

Hal-hal tersebut yang tak dimungkiri menjadi salah satu pengaruh besar, dari lestarinya hutan dan lingkungan tak terjamah yang punya peran besar bagi kehidupan umat manusia saat ini.

Tak perlu mencari contohnya terlalu jauh, di Indonesia beruntungnya masih ada segilintir kelompok masyarakat adat yang menjalankan peran tersebut. Apa saja masyarakat atau suku adat yang punya peran menjaga hutan Indonesia? Berikut 4 di antaranya:

1. Anak Dalam

Suku anak dalam (warlock14/flickr)

Suku adat satu ini berada di Pulau Sumatra, tepatanya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Mereka memiliki nama sebutan lain yakni Suku Kubu, Orang Rimba, atau orang Ulu.

Suku anak dalam merupakan salah satu masyarakat yang sangat menggantungkan hidupnya terhadap sumber daya alam di hutan. Namun, mereka memiliki aturan dan cara sendiri demi menjaga kelestarian hutan yang mereka manfaatkan.

  Terang benderang Dusun Bondan melalui energi terbarukan

Misalnya, mereka memiliki aturan mengenai tidak boleh menebang pohon atau membuat ladang pada wilayah hutan yang dianggap menjadi tanah peranakan. Suku anak dalam yang hidup di dalam kawasan hutan adat, boleh menebang hutan tetapi harus mengikuti aturan adat.

Aturan tersebut adalah tidak boleh menebang hutan untuk dijadikan perkebunan sawit dan karet. Mereka hanya boleh menanam ubi dan tanaman buah-buahan agar tutupan lahannya bisa rapat kembali. Kemudian, luas lahan hutan yang ditebang untuk dijadikan lahan pun terbatas, misal hanya sekitar 50 meter untuk beberapa orang.

Aturan-aturan tersebut harus dipatuhi, apabila ada pelanggaran mengenai penggunaan hutan adat maka akan diberikan sanksi adat oleh para tetua suku.

2. Suku Adat Pipitak

Suku adat pipitak berada merupakan salah satu masyarakat adat yang dapat dijumpai di wilayah Kalimantan Selatan.

Mereka memiliki Kepercayaan dan pantangan yang berhubungan dengan hutan Desa Pipitak Jaya. Di antaranya yaitu masyarakat di Desa Pipitak Jaya percaya, jika sumber air tempat mereka hidup bergantung pada jumlah sumber air yang ada di desa tersebut.

  Makna ibu pertiwi dalam tradisi pelestarian alam yang dilakukan masyarakat Kendeng

Masyarakat di Desa Pipitak Jaya percaya jika hutan dirusak, maka air yang dipakai oleh masyarakat menjadi kering. Setiap membuka lahan atau menebang pohon untuk tujuan perkebunan, mereka selalu memulainya dengan sebuat ritual adat.

Ritual tersebut berfungsi untuk menunjukkan rasa hormat terhadap hutan melalui sikap hati-hati dalam bertindak menebang pohon pada suatu wilayah. Selain itu, terdapat pula aturan adat mengenai hukuman khusus yang diberikan kepada masyarakat yang berani melakukan hal yang tidak baik terhadap lingkungan.

3. Suku Adat Togutil

Suku adat togutil (Yann SENANT/Flickr)

Togutil meruakan sebutan untuk suku adat yang berada di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Mereka pada dasarnya adalah kelompok masyarakat yang tinggal di hutan secara berpindah-pindah. Suku ini tinggal di sekitar hutan Totodoku, Tukur-Tukur, Lolobata, Kobekulo dan Buli.

Meski berpindah-pindah, namun setiap membuka lahan untuk menjadi sumber pangan mereka juga menerapkan paham menghormati alam yang ketat. Mereka menganut aturan adat para nenek moyang yang mengharuskan keturunannya untuk selalu menjaga dan melestarikan kearifan lokal yang ada.

  Ada puluhan kelompok masyarakat adat di lahan IKN, bagaimana nasibnya?

Oenduduk asli togutil percaya bahwa setiap jenis tumbuhan dalam kehidupan manusia memiliki jiwa dan emosi yang sama dengan manusia. Sehingga, dalam pemanfaatannya mereka selalu dan harus menyikapinya dengan bijaksana.

4. Suku Baduy

Suku Baduy (Wisata Lebak/Flickr)

Yang satu ini mungkin sudah tidak asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya wilayah Jabodetabek. Merupakan suku asli Sunda Banten, Suku Baduy tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng, seluas 5.101,85 hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Pada dasarnya, nilai-nilai suku baduy terbagi atas tiga poin utama, yaitu sikap hidup sederhana, berhubungan baik dengan alam, dan jiwa kemandirian.

Masyarakat Baduy juga mempunyai konsep dan praktik perlindungan alam (nature conservation). Sebagai contoh, mereka sangat peduli dengan keselamatan hutan. Suku baduy tahu betul bahwa dengan menjaga hutan, mereka juga akan menjaga kelestarian ladang mereka. Lahan hutan di luar kawasan pemukiman umumnya dibuka secara bergiliran setiap tahun untuk lahan pertanian.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya